Berita

Vladimir Putin/Net

Dunia

Putin: Ada 20 Negara Yang Bisa Produksi Racun Kimia Penyerang Eks Agen Ganda Di Inggris

RABU, 04 APRIL 2018 | 12:20 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan dia berharap pertemuan pengawas kimia PBB mendatang akan mematahkan tuduhan Inggris terhadap Rusia dalam kasus keracunan eks agen ganda Rusia, Sergei Skripal dan putrinya, Yulia.

"Besok kami mengadakan sesi Dewan Eksekutif Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia untuk menyelesaikan situasi ini secara rinci. Kami telah menyiapkan setidaknya 20 pertanyaan untuk diskusi. Kami berharap diskusi ini akan mengakhiri masalah ini," kata Putin di Ankara, di mana ia mengadakan konferensi pers bersama dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan awal pekan ini.

Putin menambahkan bahwa saat ini ada setidaknya 20 negara di dunia yang bisa memproduksi racun kimia yang digunakan untuk menyerang Skipal. Sehingga tuduhan seharusnya tidak hanya dilayangkan pada Rusia.


"Ini mengejutkan betapa cepat kampanye anti-Rusia berlangsung," kata Putin.

Diketahui bahwa pemerintah Inggris membuat tuduhan pertama terhadap Moskow dalam beberapa jam setelah keracunan, dan dalam beberapa hari mulai menyebarkan sanksi dan pengusiran diplomatik berdasarkan pada tuduhan bahwa "sangat mungkin" bahwa Rusia terlibat.

London menuntut agar Moskow mengakui kesalahannya, tetapi para penyidik ​​belum menarik kesimpulan pasti atau menghasilkan bukti yang menunjukkan keterlibatan Rusia.

"Seperti yang Anda ketahui, saya belajar tentang insiden itu dari laporan media," kata Putin.

"Saya hanya ingin menambahkan bahwa menurut para ahli internasional, sekitar 20 negara di seluruh dunia mampu menghasilkan agen saraf yang sama," tambahnya.

Sebelumnya Kementerian Luar Negeri Rusia menerbitkan daftar 13 pertanyaan untuk OPCW, berfokus pada interaksinya dengan penyelidik Inggris dalam kasus Skripal, proses pengumpulan sampel di tempat keracunan, dan keterlibatan Prancis dalam penyelidikan.

Pertanyaan tentang penyelidikan juga telah diserahkan ke Inggris dan Perancis. Moskow menyatakan bahwa seluruh kasus Skripal telah menjadi operasi bendera palsu terhadap Rusia.

Rusia telah meluncurkan penyelidikan kriminalnya sendiri ke dalam keracunan tersebut.

"Kami ingin diizinkan untuk berpartisipasi dalam penyelidikan dan kami mengandalkan untuk menerima materi masing-masing, karena melibatkan warga Rusia," kata Putin seperti dimuat Russia Today.

Jurubicara Kremlin Dmitry Peskov, Selasa mengatakan kepada media bahwa dia mengharapkan London untuk akhirnya meminta maaf atas tuduhan tak berdasarnya terhadap Rusia. [mel]

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

UPDATE

Elite NU Harus Setop Jadikan Warga Nahdliyin Objek Politik Praktis

Rabu, 02 September 2026 | 01:48

Gus Alex Pernah Setor Pansus Haji DPR Lewat Teman Nusron Wahid, Segini Besarnya

Rabu, 02 September 2026 | 01:21

Raja Juli: Presiden Prabowo Pemimpin Tegas dalam Atasi Karhutla

Rabu, 02 September 2026 | 01:02

Setoran ke Ditjen Imigrasi Didalami KPK Lewat Pemeriksaan Staf KJRI Kuching

Rabu, 02 September 2026 | 00:47

Skema BLU Berisiko Tambah Beban Birokrasi Tata Kelola Sektor Energi

Rabu, 02 September 2026 | 00:23

Harga Pertamax Green 95 Disesuaikan dan Mulai Berlaku 2 September 2026

Rabu, 02 September 2026 | 00:01

Menko Polkam Ajak Seluruh Sektor Serius Tangkal DFK di Medsos

Selasa, 01 September 2026 | 23:40

BP Batam Pilih Tak Bergantung dengan APBN

Selasa, 01 September 2026 | 23:18

Lobi Fuad Hasan Masyhur Berujung Persetujuan Jokowi soal Tambahan Kuota Haji 2022

Selasa, 01 September 2026 | 23:15

Dua Tahun Kabinet Merah Putih, Sandiaga Uno Dinilai Layak Masuk Kabinet

Selasa, 01 September 2026 | 22:29

Selengkapnya