Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

66 Juta Pekerjaan Di Dunia Beresiko Digantikan Robot

RABU, 04 APRIL 2018 | 10:53 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Sekitar 66 juta pekerjaan di seluruh dunia akan beresiko digantikan oleh robot atau mesin dalam hal pekerjaan di tahun-tahun mendatang.

Hal itu diungkap dalam sebuah laporan baru oleh Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) yang berbasis di Paris. Dalam laporan tersebut ditemukan bahwa satu dari tujuh pekerja rata-rata di 32 negara yang diteliti  kurang mendapat bantuan daripada mereka yang pekerjaannya lebih aman.

OECD mengatakan 14% pekerjaan di negara-negara maju sangat bisa diotomatisasi, sementara 32% pekerjaan lainnya kemungkinan akan mengalami perubahan signifikan terhadap cara mereka dilaksanakan.


"Ada perbedaan yang signifikan di seluruh negara, 33% dari semua pekerjaan di Slowakia sangat automatable, sementara hanya 6 % pekerjaan di Norwegia yang bisa diotomatisasi," begitu bunyi laporan tersebut seperti dimuat The Guardian.

"Secara umum, pekerjaan di Anglo-Saxon, negara-negara Nordik dan Belanda kurang bisa dijaga daripada pekerjaan di negara-negara Eropa Timur, negara-negara Eropa Selatan, Jerman, Chili, dan Jepang," tambah laporan yang sama.

Inggris diidentifikasi oleh OECD sebagai salah satu negara yang paling sedikit terpengaruh oleh otomatisasi, tetapi meskipun demikian, kelompok thinktank tersebut mengatakan satu dari sepuluh pekerjaan beresiko tinggi dan satu dari empat orang bisa mengalami perubahan signifikan.

Otomatisasi kemungkinan besar mempengaruhi pekerjaan di industri manufaktur dan pertanian, meskipun sejumlah sektor jasa, seperti layanan pos dan kurir, transportasi darat dan layanan makanan juga sangat rentan.

Menurut laporan yang sama, orang-orang berketerampilan rendah dan remaja termasuk yang paling berisiko, dengan pekerjaan berisiko tinggi cenderung berada di sektor keterampilan rendah seperti persiapan makanan, pembersihan dan tenaga kerja.

OECD menggarisbawahi kebutuhan untuk membantu kaum muda memperoleh pengalaman kerja sambil belajar, dan menyoroti pentingnya pelatihan ulang dan perlindungan sosial bagi mereka yang berisiko melihat pekerjaan mereka direstrukturisasi. [mel]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya