Berita

Foto/Net

Hukum

Stop Kriminalisasi Dalam Demokrasi

RABU, 04 APRIL 2018 | 09:03 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Penguasa diminta menghentikan praktik kriminalisasi dalam demokrasi terhadap rakyat. Hingga saat ini, rakyat malah jadi budak di negeri sendiri.

Hal ini ditegaskan Direktur Eksekutif Soekarno Hatta Institut Hatta Taliwang. Dia menilai, pemerintah telah abai dan menelantarkan rakyat yang malah dibiarkan memikirkan sendiri masalahnya.

Hingga kini, urai Hatta, pemerintah telah didekte oleh kekuatan baru yang bernama neoliberal. Itulah sebabnya harga berbagai bahan pokok terus melonjak, mulai dari perabotan rumah tangga, paka­ian, makanan dan minuman serta bahan mentah seperti ikan dan garam diimpor dari negara asing.


"Akibatnya, rakyat semakin tidak berdaya, kecuali hanya menjual tenaga dan jasanya sebagai pekerja. Itu pun sangat terbatas. Karena lebih banyak lagi warga masyarakat yang tidak punya pekerjaan yang pan­tas untuk menghidupi dirinya maupun keluarga," tuturnya.

Berbagai persoalan ril yang dihadapi masyarakat itu, lanjut Hatta, telah dihimpun dan dituliskannya dalam catatan berupa buku saku kecil yang dibagikannya ke siapa saja.

Hatta Taliwang menyampai­kan, dari data dan fakta yang dihimpun, tergambar bagaima­na neolib bisa berkembang dan menjarah Indonesia. Bahkan hingga sekarang sangat terasa semakin mencekik rakyat.

"Seperti beralihnya sejum­lah BUMN yang sepatutnya melindungi kepentingan orang banyak, seperti bumi, air, lis­trik, perkebunan, eh kini bera­lih ke tangan asing," ujarnya.

Sementara negara sendiri terkesan mulai melakukan upaya melepaskan diri dari tanggung jawab sosial, sep­erti mengalihkan tanggung jawabnya untuk memenuhi hak rakyat memperoleh pekerjaan yang layak, jaminan kesehatan, pendidikan. "Itu semua dialih­kan kepada pihak swasta dengan orientasi utama menangguk keuntungan," cetus Hatta.

Intinya, Hatta berkesim­pulan, praktek kriminal da­lam demokrasi harus segera diakhiri. ***

Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

UPDATE

Swiss Tantang Argentina Usai Singkirkan Kolombia Lewat Drama Adu Penalti

Rabu, 08 Juli 2026 | 05:45

Kemesraan Prabowo-Modi

Rabu, 08 Juli 2026 | 05:30

Khayal Seorang Revolusioner

Rabu, 08 Juli 2026 | 05:15

Pengalaman Demokrasi India jadi Inspirasi Penting Indonesia

Rabu, 08 Juli 2026 | 04:53

Sikap Tegas Rektor Untan Jalankan Statuta Universitas Tuai Apresiasi

Rabu, 08 Juli 2026 | 04:23

Belajar dari Koperasi Pertanian Jepang

Rabu, 08 Juli 2026 | 03:58

Prabowo: Saya adalah Pengagum Pribadi Shri Narendra Modi

Rabu, 08 Juli 2026 | 03:31

Kisah Seorang Anak Buruh Harian Lepas

Rabu, 08 Juli 2026 | 03:13

Bahayakan Nyawa Banyak Orang, DPR Desak Polisi Berantas Maling Besi

Rabu, 08 Juli 2026 | 02:59

Tinjau TPA Jatiwaringin

Rabu, 08 Juli 2026 | 02:39

Selengkapnya