Berita

Foto: RMOL

Politik

Rizal Ramli: Indonesia bisa Pecah Karena Kepemimpinan yang Lemah

RABU, 04 APRIL 2018 | 06:48 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Apapun bisa terjadi di masa depan, bisa negatif, bisa positif. Dengan demikian sudah seharusnya kita tidak menganggap enteng segala kemungkinan yang ada.

Negara bubar bukan sesuatu yang tidak mungkin. Banyak contoh yang bisa dipelajari, mulai dari kehancuran Uni Soviet, Yugoslavia hingga negara-negara di kawasan Timur Tengah yang porak poranda.

Hal itu disampaikan ekonom senior dan tokoh nasional DR. Rizal Ramli saat menjadi pembicara dalam Indonesian Lawyer Club (ILC) Selasa malam (3/4).


Menurutnya ada tiga hal yang bisa menyebabkan negara bubar.

Pertama bila isu agama terus diperdebatkan.

"Tidak usah menunggu 2030, kalau isu agama terus kita gendangin terus, akhirnya pecah nih bangsa. Saya mau kita go beyond apa yang kita bicarakan saat ini dan mencari solusinya," ujar Rizal Ramli.

Rizal Ramli mencontohkan India yang akhirnya pecah menjadi tiga, India, Pakistan dan Bangladesh.

Faktor kedua adalah intervensi bangsa asing karena kekyaan alam Indonesia.

"Indonesia ini kaya sekali dengan sumber daya alam. Ada negara yang berkeinginan Indonesia pecah," sambungnya.

Faktor ketiga yang memungkinkan negara bubar adalah weak leadership atau kepemimpinan yang lemah. Dibutuhkan kepemimpinan yang kuat untuk menjaga persatuan.

"Tapi saya ingin garisbawahi, kepemimpinan yang kuat itu tidak harus militer, tidak harus jenderal. Kami ingin yang kuat dan demokratis. Banyak jenderal yang tidak efektif dalam banyak hal," katanya lagi. [dem]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya