Berita

Mahfud MD/Net

Wawancara

WAWANCARA

Mahfud MD: Saat ini Calon Kepala Daerah Tersangka Tak Bisa Diganti, Ya Sudah Biarkan Saja

SELASA, 03 APRIL 2018 | 10:18 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila ini mengutarakan tafsir hukumnya terkait boleh-tidak mengganti calon kepala daerah yang menjadi tersangka kasus korupsi. Berikut penuturan Mahfud MD selengkapnya ke­pada Rakyat Merdeka:

Sebenarnya menurut Undang-Undang Pilkada boleh-enggak sih partai pengusung mengganti calon kepala daer­ahnya di pertengahan jalan ketika calon itu menjadi ter­sangka?
Kalau menurut aturannya sendiri kan memang tidak bisa, jadi biar tersangka jalan, namun pemilihan juga jalan, itu ber­dasarkan hukum yang sekarang ya. Karena kalau sudah ditetap­kan oleh KPU, maka mereka tidak boleh mundur dan tidak boleh ditarik.

Baru-baru ini bekas anggota KPU Hadar Nafis Gumay menafsirkan klausal 'berha­langan tetap' yang tercantum dalam undang-undang sebagai jalan keluar untuk menghala­lkan pergantian calon kepala daerah yang menjadi ter­sangka kasus korupsi?

Baru-baru ini bekas anggota KPU Hadar Nafis Gumay menafsirkan klausal 'berha­langan tetap' yang tercantum dalam undang-undang sebagai jalan keluar untuk menghala­lkan pergantian calon kepala daerah yang menjadi ter­sangka kasus korupsi?
Itu kan pemaknaan dia ya, namun nanti pemaknaan dari pemerintah kan bisa berbeda, makanya pemerintah menyata­kan tidak memaknai itu, tinggal bagaimana KPU memaknai itu saja. Kalau KPU memaknakan lalu pemerintah dan pengadilan bilang tidak, maka nanti bisa menjadi sengketa pilkada, kan menjadi susah itu.

Jadi klausal 'berhalangan tetap' tidak bisa diterima sebagai dasar hukum untuk mengganti calon kepala daerah bermasalah itu?
Tetap enggak bisa ya. Biasanya berhalangan tetap itu meninggal atau secara resmi misalnya pin­dah tugas, kalau misalnya (ter­sangka kasus korupsi) itu bisa, nanti malah bisa menjadi perkara itu, meskipun KPU sendiri bisa jadi menafsirkan itu. Tapi nanti kalau orang kalah dan mem­perkarakan itu, bisa menjadi perkara besar itu.

Lantas apa yang harus di­lakukan KPU untuk mencari jalan keluar dalam persoalan ini?
Oleh sebab itu, yang benar itu pemerintah mengeluarkan Perppu (peraturan pemerintah pengganti undang-undang), namun kan kalau mengeluarkan Perppu kalau ditolak di DPR kan juga susah. Jadi ini me­mang problematik. Menurut saya biarin saja, kenapa sih orang jadi tersangka lalu di­tangkap lalu kepilih seperti yang dahulu. Di Jayapura dulu seperti itu. Menurut saya, untuk saat ini tidak ada jalan hukum­nya, kecuali dibiarkan. Tetapi bukan karena kita membiarkan, namun karena tidak ada jalan hukumnya.

Tapi apakah calon kepala daerah yang sudah menjadi tersangka ini akan terus dibi­arkan mengikuti tahapan pilkada?
Enggak ada prosedurnya, ya semestinya itu dibuatkan prose­durnya dulu, tetapi prosedurnya tidak diatur dan ini sudah ber­jalan. Kalau peraturan dibuat di tengah jalan itu biasanya kisruh. Dulu antisipasinya yang kurang cermat.

Untuk sanksinya sendiri bagaimana?

Ya kan memang secara un­dang-undangnya saja sudah dilarang untuk mengganti calon perserta pemilu, di undang-undangnya itu mereka harus membayar berapa gitu den­danya. Jadi memang tidak boleh, karena kalau itu dibarkan nanti risikonya besar.

Misalnya, bisa saja orang ramai-ramai mendaftarkan diri lalu di tengah perjalanan mer­eka menarik diri dengan tujuan agar salah satu dari mereka dimenangkan atau saat proses pendaftaran, orang lain ter­halang untuk mendaftarkan dirinya.

Oleh sebab itu, ketika sudah mendaftarkan diri, tidak boleh ditarik dan tidak boleh men­gundurkan diri. Itu dulu pertim­bangannya. Mestinya ditambah, 'kecuali dijadikan tersangka korupsi oleh KPK, oleh penegak hukum lainnya', nah itu yang tidak diatur. *** 

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Kabakom Sebut Kebijakan Ekonomi Prabowo Makin Inklusif, Upah Buruh Naik

Jumat, 23 Oktober 2026 | 18:20

B50 jadi Andalan Presiden Prabowo Wujudkan Kemandirian Energi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:44

Antusiasme Tinggi, Pendaftaran Anugerah Jurnalistik KPU 2026 Diperpanjang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:26

Masuk PSN, Agrinas Palma Siapkan Model Pengelolaan Sawit Rakyat

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:20

IHSG Parkir Zona Hijau, Rupiah Nyaris Tembus Rp18.100 per Dolar AS

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:54

Kreativitas Jadi Kunci Koperasi Bertahan dan Berkembang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:41

Menkeu Pastikan Gaji ASN Tak Lewat Kopdes

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:34

Bahlil Dikejar Deadline DIM RUU Migas

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:32

Konser Andrea Bocelli dan Peluang Indonesia Perkuat Diplomasi Budaya

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:23

AsetKu Dukung Literasi Keuangan Bersama AFPI di Jakarta Financial Festival 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:06

Selengkapnya