Osama bin MoÂhammed Abdullah Al Shuaibi/Net
Duta Besar Arab Saudi unÂtuk Indonesia Osama bin MoÂhammed Abdullah Al Shuaibi mengevaluasi hubungan dan kerja sama kedua negara setÂelah kunjungan Raja Salman ke Indonesia awal Maret lalu. Osama mengucapkan terima kasih kepada pemerintah dan rakyat Indonesia yang telah memberi sambutan yang luar biasa.
"Tolong sampaikan teriÂma kasih kepada pemerintah dan rakyat Indonesia atas sambutan terhadap kunjungan Raja Salman di Indonesia," katanya dalam diskusi berÂtema "Hubungan dan Kerja Sama Indonesia-Arab Saudi, Setahun Setelah Kunjungan Raja Salman ke Indonesia" di Media Center Al-Irsyad, DPP Perhimpunan Al-Irsyad, Jakarta, Selasa (27/3).
Osama melihat kunjungan Raja Salman 1-9 Maret 2017 berdampak positif atas hubunÂgan baik kedua negara.
Dalam kunjungan itu telah diteken 11 kesepakatan untuk berbagai bidang. Mulai dari kerja sama pendidikan hingga komitmen kontribusi pendanÂaan Arab Saudi terhadap pemÂbiayaan proyek pembangunan dengan nilai mencapai 1 miliar dolar atau Rp 13,7 triliun.
Ada beberapa kerja sama yang telah berjalan. Osama mencontohkan, dari proÂgram mendatangkan 165 ribu wisatawan Saudi ke Tanah Air, dapat memberi uang masuk 200 juta dolar atau Rp 2,7 triliun.
Selain itu, Osama mencatat, perdagangan dengan Arab Saudi saat ini menembus 9 miliar dolar atau Rp 123,6 triliun. Jumlah itu merupakan peningkatan yang luar biasa dibandingkan sebelumnya, sekitar tiga atau empat miliar dolar. Namun masih ada dana bengong 1 miliar dolar atau Rp 13,7 triliun.
"Saat ini Saudi menunggu dana tersebut akan dimanfaatÂkan untuk apa," jelas Osama.
"Para pejabat kedua negara menindaklanjuti kesepakatan-kesepakatan yang dicapai saat kunjungan Raja Salman ke Indonesia dan bertemu denÂgan Presiden Joko Widodo," imbuhnya.
Hal senada disampaikan Direktur Timur Tengah KemenÂterian Luar Negeri Sunarko. Menurut dia, hubungan IndoÂnesia – Saudi makin baij setelah kunjungan Raja Salman.
"Salah satu keputusan dari kunjungan Raja, kita melakuÂkan pembahasan dan evaluasi kerjasama setiap waktu. Kita sepakat join komisi bertahap pada level, Direktur, Dirjen dan Menteri diadakan. Pada 2017 pimpinan bertemu, seÂmester pertama 2018 kita evaluasi dan proyeksikan, kemudian semester berikutnya kita implementasi kerjasama itu pada Oktober 2018," papar Sunarko.
Pada kesempatan itu, Wakil Ketua Kadin Komite Tetap Timur Tengah dan Organisasi Kerja sama Islam, Mohamad Bawazeer menyebut hubunÂgan ekonomi Saudi-Indonesia, masih menghadapi beberapa kendala.
"Salah satu di antaranya adalah pembangunan kilang Cilacap senilai 80 triliun yang masih menghadapi beberapa kendala," ujar Mohammad Bawazeer yang juga Ketua Dewan pakar Perhimpunan Al Irsyad. Kendati demikian, kedua negara tetap terus beruÂpaya mengembangkan perdaÂgangan dan salah satunya yang harus mendapat perhatian khusus adalah perdagangan produk halal.
Acara itu juga dihadiri KetÂua Umum Dewan Pimpinan Pusat Perhimpunan Al Irsyad Basyir Syawie, dan Kepala Program Studi Timur Tengah Universitas Indonesia M LuÂthfie Zuhdi PhD. ***