Berita

Ilham Saputra/Net

Wawancara

WAWANCARA

Ilham Saputra: Kami Tak Akan Bikin Norma Baru, Calon Kepala Daerah Yang Terjerat Korupsi Tetap Ikut Pilkada

SABTU, 31 MARET 2018 | 09:53 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo setuju apabila Komisi Pemilihan Umum (KPU) menerbitkan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) baru terkait pergantian calon kepala daerah yang terjerat masalah hukum di tengah-tengah gelaran Pilkada 2018. Soalnya, pemer­intah tak akan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) terkait pergantian calon kepala daerah yang jadi tersangka.

Lantas apakah tanggapan KPU terkait hal ini? Berikut pemaparan Komisioner KPU, Ilham Saputra kepada Rakyat Merdeka.

Pemerintah tidak mengeluarkan Perppu terkait pergantian calon kepala daerah yang menjadi tersangka. Sementara Kementerian Dalam Negeri menyarankan KPU mener­bitkan PKPU baru terkait hal ini, bagaimana itu?
Perppu itu juga kan mengacu pada undang-undang. Kalau undang-undang itu juga tidak berubah, maka kami juga tidak akan membuat norma baru terkait dengan diskualifikasi terhadap calon yang terjerat pidana korupsi.

Perppu itu juga kan mengacu pada undang-undang. Kalau undang-undang itu juga tidak berubah, maka kami juga tidak akan membuat norma baru terkait dengan diskualifikasi terhadap calon yang terjerat pidana korupsi.

Alasannya?
Karena di undang-undang itu disebutkan calon kepala daerah yang ditetapkan tersangka bisa diganti apabila, pertama mer­eka tidak lolos tes kesehatan, mereka berhalangan tetap alias meninggal dunia, ketiga mer­eka terkena pidana yang sudah berkekuatan hukum tetap. Jadi sekarang tersangka-tersangka ini belum berkekuatan hukum tetap.

Jadi tidak ada celah untuk membuat undang-undang baru?
Acuan kami terhadap undang-undang ya. Jadi kami tidak akan membuat norma-norma baru.

Terus KPU tidak akan menerbitkan PKPU untuk men­cari solusi terhadap persoalan adanya calon kepala daerah yang tersangkut masalah hu­kum?
Ya tidaklah, kami sudah lama kok membuat PKPU. Ada pera­turan KPU Nomor 3 Tahun 2017 Tentang Pencalonan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati, dan Wakil Bupati, dan/ atau Walikota dan Wakil Walikota atas Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 15 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 3 Tahun 2017 Tentang Pencalonan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Walikota dan Wakil Walikota.

Acuan KPU apa?
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota.

Tapi saat ini ada beberapa partai yang ingin mengganti­kan jago calon kepala daerahnya yang terjerat kasus hu­kum. Bagaimana itu?
Makanya kan partai sudah tahu konsekuensi dari undang-undang. Undang-undang itu kan konsekunsi mereka yang membuat di DPR. Dari awal kami sudah berbicara agar partai politik memilih calon yang tidak bermasalah.

Sebenarnya apa sih yang dikhawatirkan KPU, sehingga enggan membuat norma baru bagi calon kepala daerah yang terjerat kasus hukum?
Kami rawan digugat membuat PKPU baru. Dari mana norma baru itu kami buat, sedangkan undang-undang itu menyatakan seperti yang saya sampaikan tadi.

Seandainya kami membuat norma baru, pertama kami tidak kuat karena undang-undangnya mengatakan lain, maka itu rawan gugatan. Kami tidak mau PKPU malah menjadi persoalan hukum bagi kami.

Saat ini sikap di internal KPU sendiri seperti apa terkait kemungkinan untuk membuat norma baru dalam rangka mencari solusi bagi calon kepala daerah yang ter­sangkut hukum ini?
Hampir semua komisioner KPU sudah bilang kok di media terkait hal ini. Sikap kita sama semuanya. Kecuali ada yang ju­dicial review terhadap pasal itu, kedua DPR melakukan revisi, namun kan membutuhkan waktu lama. Ketiga Perppu itu. Nah, sementara pemerintah tidak mau mengeluarkan Perppu.

Sampai saat ini belum ada solusi bagi partai yang ingin mengganti calonnya yang ter­jerat kasus korupsi?
Sampai saat ini undang-un­dang bicara begitu. ***

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

Jokowi Jadikan PSI Kendaraan Politik demi Melanggengkan Dinasti

Senin, 02 Februari 2026 | 10:15

IHSG "Kebakaran", Sempat Anjlok Hingga 5 Persen

Senin, 02 Februari 2026 | 09:49

Ketegangan Iran-AS Reda, Harga Minyak Turun Hampir 3 Persen

Senin, 02 Februari 2026 | 09:47

Tekanan Pasar Modal Berlanjut, IHSG Dibuka Anjlok Pagi Ini

Senin, 02 Februari 2026 | 09:37

Serang Pengungsi Gaza, Israel Harus Dikeluarkan dari Board of Peace

Senin, 02 Februari 2026 | 09:27

BPKN Soroti Risiko Goreng Saham di Tengah Lonjakan Jumlah Emiten dan Investor

Senin, 02 Februari 2026 | 09:25

Komitmen Prabowo di Sektor Pendidikan Tak Perlu Diragukan

Senin, 02 Februari 2026 | 09:14

Menjaga Polri di Bawah Presiden: Ikhtiar Kapolri Merawat Demokrasi

Senin, 02 Februari 2026 | 09:13

Emas Melandai Saat Sosok Kevin Warsh Mulai Bayangi Kebijakan The Fed

Senin, 02 Februari 2026 | 09:07

Nikkei Positif Saat Bursa Asia Dibuka Melemah

Senin, 02 Februari 2026 | 08:49

Selengkapnya