Berita

Syaifullah Tamliha/Net

Politik

Kader PPP Tidak Marah Soal Pernyataan Koboi Arteria

SABTU, 31 MARET 2018 | 03:34 WIB | LAPORAN:

Pernyataan kasar yang dilontarkan kader PDIP Arteria Dahlan membuat membuat jajaran Kementerian Agama (Kemenag) marah. Namun, tidak demikian dengan kader PPP Syaifullah Tamliha. Dia bisa memaafkan Arteria dan meminta masalah tersebut tidak diperpanjang.

Tamliha kemudian menyarankan agar Arteria bisa lebih baik dalam memilih kata-kata saat melontarkan kritik.

"Kritikannya bagus, tetapi sebagai Anggota DPR harusnya bisa berdiplomasi dengan baik. Jangan sampai keluarkan kata-kata yang tidak enak didengar. Tapi, kan dia sudah minta maaf. Saya kira Arteria sudah gentleman menyatakan permintaan maaf," kata Anggota Komisi I DPR ini saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (30/3).


Tamliha pun berharap, kritikan Arteria menjadi bahan bagi Kemenag untuk memperbaiki pelayanan umrah bagi masyarakat. Sebab, selama ini banyak travel haji dan umrah bodong. Jika tidak ada perbaikan, cibiran terhadap Kemenag akan terus bermunculan.

"Karena, di Kementerian Agama ini kesannya tidak urus umrah. Cuma haji yang diurusi. Padahal, di Kementerian Agama ini kan ada direktorat khusus untuk tangani itu, yaitu Direktorat Haji dan Umrah. Direktoratnya enggak diurus, sementara perizinannya jalan terus," bebernya.

Harusnya, kata Tamliha, Kemenag mencontoh Malaysia yang betul-betul mengatur regulasi haji dan umrah dengan baik. Dia pun berharap Dirjen Haji dan Umrah Prof Nizar yang baru dilantik beberapa waktu lalu bisa memperbaiki kinerja instansinya dengan baik.

"Beliau Baru beberapa bulan lalu. Sebelumnya dia Wakil Rektor. Beri kesempatan untuk benahi ini, karena dia secara spesifik belum tahu bahwa titik lemahnya di situ, di penyelenggara umrah. Kalau dibuat regulasinya, ditata dengan baik, saya kira tidak akan terjadi itu (travel umrah bodong)," katanya.

Menurut Tamliha, cukup mudah untuk menelusuri travel yang tak baik. Caranya, cukup mengintip Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan mengecek ke asosiasi. Kalau travelnya bermasalah, catatan pajaknya pasti bermasalah. Dari pajak, Kemenag bisa mengeluarkan atau mencabut izin travel yang bersangkutan.

"Masalahnya kan jumlah travel haji dan umrah ini terus bertambah. Padahal, seharusnya selektif. Caranya (untuk mengawasi), dia punya enggak ketersediaan dana. Kemudian NPWP penyelenggara umrah tersebut bagaimana, visibel enggak dia penghasilan sama pajaknya. Kalau ternyata pajaknya sedikit, perlu dipertanyakan kredibilitasnya. Travel ini kan juga sudah ada asosiasnya. Yang bermasalah itu tidak masuk asosiasi. Kalau asosiasi, terkoordinir itu," jelasnya dia.

Pernyataan "Kementerian Agama bangsat" Arteria dalam Rapat Dengar Pendapat antara Komisi III DPR dengan Kejaksaan Agung, Rabu lalu. Di rapat itu, Anggota Komisi III ini meminta Kejaksaan Agung melakukan langkah pencegahan atas munculnya travel haji dan umrah bodong yang meresahkan masyarakat. Ateria menganggap, kerja Kemenag untuk melakukan pencegahan ini tidak bisa diharapkan. Sebab, hingga saat ini, masih banyak travel bodong yang merugikan banyak masyarakat.

Arteria lalu berbicara mengenai masalah di daerah pemilihannya (dapil), yang banyak kasus masyarakat tertipu travel bodong. Dia mengaku sudah menyatakan hal itu ke Kemenag. Dia pun tak terima dengan sikap Kemenag yang seolah-olah menyalahkan masyarakat.

"Ini masalah dapil, Pak. Yang dicari jangan seperti yang Bapak lakukan inventarisasi. (Tapi) pencegannya, Pak. Ini Kementeriann Agama bangsat, Pak. Semuanya, Pak!" tudingnya waktu itu.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyebut, ucapan Arteria itu membuat jajaran di Kemenag marah. "Saya banyak sekali menerima ungkapan kemarahan dari jajaran Kemenag dari berbagai daerah atas adanya ungkapan tersebut," kata menteri asal PPP ini. Dia kemudian menyarankan Arteria meminta maaf.

Sadar ucapannya mengundang polemik besar, Arteria kemudian menyampaikan permohonan maaf. "Mohon maaf kalau saya menyinggung Pak Menteri dan teman-teman di Kemenag," katanya, Kamis (29/3). [nes]


Populer

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Harga Emas Dunia Terkoreksi Saat Ultimatum Trump Dekati Tenggat

Senin, 06 April 2026 | 08:19

Krisis Global Memanas, Industri Air Minum Tercekik Lonjakan Harga Kemasan

Senin, 06 April 2026 | 08:06

Sektor Bisnis Arab Saudi Terpukul, Pertama Kalinya dalam 6 Tahun

Senin, 06 April 2026 | 08:00

Trump Ancam Ciptakan Neraka untuk Iran jika Selat Hormuz Tak Dibuka

Senin, 06 April 2026 | 07:48

AS Berhasil Selamatkan Pilot Jet Tempur F-15 di Pegunungan Iran

Senin, 06 April 2026 | 07:36

Strategi WFH di Berbagai Negara Demi Efisiensi Energi

Senin, 06 April 2026 | 07:21

Cadangan Pangan Pemerintah Capai Level Tertinggi, Aman hingga Tahun Depan

Senin, 06 April 2026 | 07:06

Daya Kritis PBNU ke Pemerintah Makin Melempem

Senin, 06 April 2026 | 06:32

Amerika Negara dengan Ideologi Kapitalisme Menindas

Senin, 06 April 2026 | 06:12

Isu Pemakzulan Prabowo Belum Padam Total

Senin, 06 April 2026 | 06:07

Selengkapnya