Berita

Foto: RMOL

Politik

Indonesia Bisa Bangkit Jadi Negara Hebat

SELASA, 27 MARET 2018 | 19:24 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Calon presiden Rizal Ramli mengatakan Indonesia bisa menjadi negara makmur, hebat dan disegani dunia internasional.

"Bisa tidak Indonesia makmur, hebat dan disegani? (Jawabanya) bisa," kata Rizal di acara rapat koordinasi pengurus Federasi Serikat Pekerja Kimia, Energi, Pertambangan, Minyak Gas Bumi dan Umum (FSPKEP), di Bogor, Jawa Barat, Selasa (27/3).

Rizal mengatakan pola kompetisi kepemimpinan politik nasional harus diubah dari model pencitraan ke kompetisi gagasan.


"Kompetisi kepemimpinan Indonesia harus kompetisi gagasan, bukan kompetisi pencitraan. Pemimpin itu harus amanah, memiliki integritas dan kaya gagasan," katanya.

Tokoh perubahan Indonesia itu mengatakan, pemimpin yang hebat tidak akan muncul jika model kompetisi kepemimpinan didasarkan pada pencitraan.

"Kalau hari ini Bung Karno, Bung Hatta atau Agus Salim ikut pemilu pasti kalah. Mereka tidak punya duit. Pemimpin kita yang dulu hebat-hebat kalau ikut pemilu pasti kalah," masih kata Rizal.

Rizal juga menyorot demokrasi kriminal yang saat ini berlaku di Indonesia. Pejabat hasil pemilu menyelewengkan amanah dan kepercayaan rakyat untuk korupsi.

"Dulu, seperti Bung Karno, dipenjara dulu baru jadi pejabat. Hari ini jadi pejabat dulu baru masuk penjara. Sekarang orang baik dimusuhi, yang brengsek dianggap godfather," ucap dia.

Rizal mengemukakan jika menggunakan pendekatan historis, Indonesia mengalami banyak kemajuan. Tidak bisa dibantah. Tetapi jika menggunakan studi komparatif (perbandingan) Indonesia tertinggal jauh dari negara-negara tetangga di Asia bahkan Asia tenggara.

50 tahun yang lalu Indonesia sama miskinnya dengan Malaysia, Singapura, Korea, Taiwan. China bahkan GNP per kapita waktu itu setengah dari Indonesia. Tapi sekarang, kata Rizal, mereka maju meninggalkan Indonesia.

Saat ini Malaysia PDB per kapitanya 3 kali lipat dari Indonesia, Taiwan 6 kali lipat, Korea Selatan 7 kali lipat dan Singapura 14 kali lipat Indonesia. Bahkan China dengan penduduk lebih 1,3 miliar PDB perkapitanya saat ini 2 kali lebih besar dari Indonesia.

"Tidak bisa dibantah 50 tahun Indonesia mengalami banyak kemajuan. 20% masyarakat paling atas relatif makmur, 40% di bawahnya pas-pasan, 40% di bawahnya lagi belum menikmati kue kemerdekaan. Tapi kalau terjadi gejolak ekonomi, yang 40% golongan menengah bisa turun ke bawah," kata Rizal.

"Penyebabnya bukan hanya korupsi. Tapi pertumbuhan ekonomi kita stag di kisaran 5%. Kita ikut model pembangunan Bank Dunia. Pemimpin kita kurang berani dan miskin inovasi," kata ekonom senior yang pernah menjabat Menko Ekuin di era pemerintahan Gus Dur dan Menko Maritim di era Jokowi ini.

Karenanya, kata Rizal, Indonesia harus berubah. Kompetisi demokrasi harus melahirkan pemimpin yang amanah dan bisa mewujudkan kemakmuran rakyat.

Rizal pun mengungkapkan alasan maju sebagai calon presiden di Pilpres 2019. Rizal yang pernah menjadi penasihat ekonomi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengatakan ingin mewujudkan kemakmuran bagi seluruh rakyat.

"Insyaallah kami genjot pertumbuhan ekonomi di atas 10% dalam 5 tahun. Jika ekonomi tumbuh di atas 10 persen, pendapatan perkapita  tahun 2019 dari 4 ribu dolar akan kita naikan minimum jadi 7 ribu dolar. Dengan pertumbuhan ekonomi dua kali lipat dari hari ini maka lapangan kerja jadi banyak," tukas Rizal.[dem]

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

UPDATE

Analisis di Balik Penerimaan Eksepsi Dokter Tifa

Jumat, 24 Juli 2026 | 01:52

Legislator PDIP Desak Pemerintah Benahi Infrastruktur Hulu Migas

Jumat, 24 Juli 2026 | 01:34

Panglima TNI: Perang Narasi Salah Satu Ancaman Paling Berbahaya Saat Ini

Jumat, 24 Juli 2026 | 01:17

PABPDSI Kawal Program Nasional Hingga ke Desa Lewat 8 Satgas Asta Cita

Jumat, 24 Juli 2026 | 00:55

MBG dan Peluang Besar Bangun Ekonomi Desa

Jumat, 24 Juli 2026 | 00:30

Pemerintah Buka Opsi Biayai Utang Proyek Whoosh Pakai Panda Bond

Jumat, 24 Juli 2026 | 00:05

Korupsi Pakan Satwa Rp10,2 Miliar, DPR Minta Eks Dirut KBS Dihukum Berat

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:45

Lulus S2 Hukum, Mikael Saragih Ungkap PR Hukum Indonesia Tak Lagi soal Kekurangan UU

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:37

BEM Kristiani Se-Indonesia Desak Kejagung Segera Tangkap Febrie Adriansyah

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:16

Polri dan FBI Sepakat Perkuat Kerja Sama Penanganan Kejahatan Transnasional

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:03

Selengkapnya