Berita

Haris Rusly Moti

SERIAL COLLAPSE-2

Habis Gelap Terbitlah Gelap, Memahami Siklus Runtuhnya Peradaban Bangsa

SENIN, 26 MARET 2018 | 10:12 WIB | OLEH: HARIS RUSLY MOTI

"....Dan masa (kejayaan dan keruntuhan) itu, Kami pergilirkan di antara umat manusia…" (QS Ali Imran ayat 140).

Penegasan Tuhan di dalam salah satu surat di al-Quran tersebut sengaja saya kutip untuk memulai catatan serial collase kali ini. Agar sebagai sebuah bangsa, jangan sampai kita bersikap jumawa dan takabur. Kata pitutur Jawa, selalu "eling lan waspada".

Jangan sampai berkembang persespi bahwa tanpa berpikir cerdas, tanpa berusaha keras, tanpa pengorbanan dan persatuan, bangsa kita akan tetap dijaga keutuhan dan keselamatannya oleh Tuhan yang maha kuasa.


Jangan pula besar kepala, merasa bahwa bangsa kita adalah bangsa terpilih yang selalu diistimewakan oleh Tuhan. Menjadi bangsa yang yang senantiasa dilindungi, kebal dari ancaman siklus keruntuhan, yang kekal dan abadi keberadaannya hingga akhir zaman.

Sejarah jatuh bangunnya ratusan peradaban di nusantara menjadi pelajaran bahwa tak ada yang kekal dan abadi di dunia ini. Telah datang dan pergi, silih berganti, timbul tenggelam, bangkit dan runtuh, berbagai peradaban besar hingga yang kecil, berkuasa dan runtuh di nusantara.

Sriwijaya lahir, berjaya, lalu bangkrut dan musnah meninggalkan cerita-ceritanya tentang sebab dibalik kebangkitan dan keruntuhannya. Demikian juga kekaisaran Majapahit, tak bisa terhindar dari siklus kehidupan yang tidak abadi itu, lahir, berjaya, lalu bangkrut dan musnah menjadi artefak.

Ketidakabadian memang telah menjadi tabiat dasar dunia dan segala isinya. Hanya Tuhan yang kekal, hanya nilai-nilai ke-Illahi-an yang abadi. Di luar itu, semuanya mempunyai masa kadaluwarsanya. Tak terkecuali entitas yang bernama bangsa dan negara, tak akan bisa menghindar dari tabiat dasar dunia yang tidak abadi.

Siklus Peradaban

Kehidupan dunia bergerak berdasarkan salah satu hukumnya, yaitu siklus kehidupan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), siklus berarti putaran waktu yang di dalamnya terdapat rangkaian kejadian yg berulang-ulang secara tetap dan teratur.

Kata Aries Toteles "sesuatu yang telah ada adalah sesuatu yang akan ada. Sesuatu yang telah dilakukan adalah sesuatu yang akan dilakukan. Tak ada sesuatu yang baru di dunia ini".

Ada putaran siklus berdasarkan atronomi, yang selalu berulang kembali secara pasti, baik putaran berdasarkan matahari maupun bulan. Begitu juga musim yang berulang setiap tahun. Demikian pula siklus kehidupan manusia yang teratur, melngkar dan berulang, yaitu lahir, hidup dan mati.

Namun demikian, siklus alam berbeda dengan siklus sosial dan ekonomi. Siklus alam biasanya berjalan dan berulang linier. Sementara siklus sosial dan ekonomi bersifat sangat dinamis berbentuk spiral, tidak pasti dalam sebab dan akibatnya, maupun dalam lingkar berulang atau periodesasinya.

Siklus sosial bergerak spiral dan dinamis, di mana suatu peristiwa yang terjadi pada masa lampau, dapat terjadi lagi pada masa kini atau masa yang akan datang. Namun dengan bentuk, pola dan pelaku yang berbeda.

Dalam siklus sosial dan ekonomi, tak ada yang bisa memastikan periodesasi dari resesi yang mengikuti booming ekonomi. Tak ada juga yang dapat memastikan periodesasi dari ketegangan international setelah melewati tahap detente atau masa mencair.

Tak ada juga yang dapat memastikan periodesasi stabilitas sosial setelah melewati tahap kekacauan sosial yang sangat panjang. Demikian juga, tak ada yang dapat memastikan periodesasi sebuah bangsa yang akan bangkit setelah melewati tahap kehancuran dan keruntuhannya.

Jika kita mengamati dari hukum sebab dan akibat, tak semuanya berjalan simetris dan linier. Tak semua peradaban bangsa dapat bangkit dan berjaya setelah melewati tahap kekacauan dan kegelapan.

Tak semua peradaban bernasib baik seperti asumsi-nya RA Katini, “habis gelap terbitlah terang”, setelah runtuh, lalu bangkit kembali  dan berjaya.

Ada banyak peradaban bangsa-bangsa yang justru makin nyungsep dan “bubar jalan”. Justru setelah mengalami tahap kegelapan, kemunduran dan kekacauan sosial, politik dan ekonomi yang sangat panjang.

Dalam nyinyiran di media sosial dikatakan “habis gelap, terbit gelap lagi”, “setelah kesulitan, datang lagi kesulitan yang baru”, setelah kekacauan dan kegelapan, akhirnya runtuh dan bubar meninggalkan artefak, cerita dan setumpuk dongeng.

Demikian juga dalam periodesasi siklus,  sebagaimana manusia, ada manusia yang berumur panjang, tapi ada juga yang berumur pendek. Ada sejumlah peradaban bangsa-bangsa, baik di nusantara maupun di dunia, yang mengalami umur kejayaan yang relatif panjang.

Tapi ada banyak juga peradaban bangsa-bangsa yang periodesasi kehidupannya hanya “seumur jagung”. Muncul sebentar, lalu tak lama kemudian tenggelam kembali, digilas oleh siklus kehidupan. Sama sekali tak terjadi pengulangan sejarah.

Jika kita cermati sebab-sebab keruntuhan dan kebangkitan dari sebuah bangsa, sangat bergantung oleh tangan, ulah dan usaha manusia. Manusia dapat merekayasa sebab-sebab agar setelah mengalami situasi kegelapan, kekacauan dan keruntuhan, dapat berakibat bangkit kembali dan berjaya.

Periodesasi juga demikian, dengan akal dan iman yang dibekali oleh Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, manusia mestinya dapat men-design dan merekayasa, agar periodesasi kebangkitan dan kejayaan, dapat berumur lebih panjang dan lebih lama.

Dengan jiwa yang kuat dan berkarakter, peradaban sebuah bangsa dapat bertahan menghadapi siklus kehidupan, dalam masa waktu yang panjang.

Semoga bangsa Indonesia bernasib baik,mendapat giliran untuk bangkit dan berjaya, sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah di dalam Qur'an yang dikutip di awal tulisan ini. Semoga bangsa kita tak menyusul nasibnya Sriwijaya dan Majapahit yang telah menjadi artefak. [***]

Penulis adalah aktivis Petisi 28 dan Kepala Pusat Pengkajian Nusantara Pasifik (PPNP)

Populer

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Peluang Emas Kuliah Gratis Pendaftaran Beasiswa Unggulan 2026 Resmi Dibuka

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:21

Di Posko Pengungsian, Gibran Pastikan Kebutuhan Anak-Anak Terpenuhi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:21

Prioritaskan Guru PPPK Wilayah 3T Jadi PNS

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:19

Utang AS Terus Membengkak, Tekanan Fiskal Makin Besar

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:16

Jangan Sampai Utang Gerogoti Ruang Fiskal

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:07

Purbaya Siapkan Rp31 Triliun untuk Pengalihan PPPK ke Pusat

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:05

Emas “di Bawah Bantal” Warga RI Capai 1.800 Ton, Nilainya Diprediksi Tembus Rp4.400 Triliun

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:01

Tak Benar Febrie Minta Emas 74 Kg hingga Uang Dikembalikan

Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:45

Pemerintah Raup Rp34 Triliun dari Lelang SUN

Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:41

Iran Siapkan Serangan Balasan hingga Eropa Jika AS Perluas Perang

Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:41

Selengkapnya