Berita

Rizal Ramli-Dhitta Puti Sarasvati

Publika

Sarasvati, Nama yang Bapak (Rizal Ramli) Berikan Pada Saya dan Kisah di Belakangnya

SABTU, 24 MARET 2018 | 17:43 WIB

NAMA saya Dhitta Puti Sarasvati. Ketika mendengar nama belakang saya, beberapa orang bertanya-tanya, apakah saya berasal dari Bali? Bagi sebagian orang Bali, khususnya yang beragama Hindu, Sarasvati dipercaya dewi pengetahuan, seni, dan kebijaksanaan. Bapak selalu mengatakan dengan memberikan saya nama 'Sarasvati', diharapkan saya tumbuh menjadi seseorang yang cinta ilmu pengetahuan.

Ketika saya memilih jalan hidup menjadi pendidik, bukan profesi lain, bapak saya sering bercanda, "Ini pasti gara-gara dulu bapak kasih nama Sarasvati."

Bagaimana Bapak bisa memiliki ide untuk memberikan saya nama Sarasvati? Ini ada ceritanya.


Setelah Bapak mengambil studi strata 2 (S2) di bidang Ekonomi di Boston University, USA, bapak saya mendapatkan tawaran untuk melanjutkan S3 (dengan beasiswa) di tempat yang sama. Meskipun tawaran tersebut sangat menarik, bapak menolak dan memilih kembali ke Indonesia.

Padaku, Bapak pernah berkata, "Ekonomi tidak bisa dipahami hanya dengan mempelajari teori dan pintar di sekolah saja. Saat itu saya belum mengerti ekonomi Indonesia. Kalau saya langsung lanjut S3, saya akan pintar sekolahan saja. Saya putuskan untuk mempelajari ekonomi melalui pengalaman riil, dengan menjadi peneliti terlebih dulu selama dua sampai tiga tahun. Setelahnya, baru melanjutkan studi lagi: "nanti akan kembali lagi."

Sekembalinya di Indonesia, Bapak menikah dengan almarhum Ibu saya, yang masih menyelesaikan tugas akhir di arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB). Tak lama kemudian, saya pun mulai tumbuh di perut Ibu.

Saat itulah, tahun 1982, bapak mulai bekerja sebagai senior researcher CPIS, Tim Harvard, yang merupakan lembaga riset dan penasihat Departemen Keuangan RI. Salah satu tugasnya adalah melakukan reformasi  Bank Rakyat Indonesia (BRI Unit Desa).

Waktu itu ada 3.600 BRI Unit Desa yang sebelumnya memberikan Kredit Bimas untuk petani. Karena manfaatnya dianggap telah selesai, Kredit Bimas kemudian dihapuskan. Pemerintah pun berencana untuk menutup 3.600 unit desa ini. Bersama tim CPIS Harvard, pemerintah dibujuk agar unit desa tidak ditutup tetapi direformasi,

Bapak menjadi koordinator lapangan untuk membenahi 36 BRI unit desa di seluruh Indonesia. Beberapa tahun kemudian, reformasi unit desa BRI ini, program kredit Kupedes dan Simpedes, menjadi salah satu program bank pedesaan yang paling baik di seluruh dunia.

Pada kemudian hari, untuk mendukung program ini, Tim Harvard mempekerjakan seorang ahli antropologi ekonomi bernama Stanley Ann Dunham untuk menjadi penasihat sosiologi pedesaan. Ahli antropologi ini merupakan Ibu dari Presiden Obama. Projek ini merupakan salah satu alasan mengapa Obama sempat tinggal dan bersekolah di Indonesia.

Beberapa hal dikerjakan untuk memperbaiki BRI unit desa, diantaranya dengan membenahi sistem akunting sehingga unit desa jadi unit yang mandiri, dan simpanan pedesaan, dan memperbaiki sistem pinjam-meminjam sehingga bukan berdasarkan pada jaminan semata, namun lebih berdasarkan sejarah pinjaman (credit history).

Misalnya, seseorang diberikan pinjaman Rp 500 ribu. Apabila orang tersebut mengembalikan pinjaman dengan tepat waktu, di kemudian hari, dia berhak memperoleh pinjaman yang lebih besar. Orang lain, yang mungkin punya jaminan yang lebih besar (misalnya punya tanah, dan sebagainya), namun tidak punya sejarah mengembalikan pinjaman dengan baik, akan kesulitan memperoleh pinjaman lagi. Sistem pinjaman ini merupakan bentuk dukungan kepada petani untuk mengembangkan usahanya, dan merupakan cikal-bakal micro-credit.

Seorang profesor dari Bangladesh, Prof. Mohammad Yunus dari Bangladesh sempat datang ke Indonesia untuk mempelajari  sistem BRI unit desa. Dia mengaplikasikan sistem BRI unit desa dengan membuat hal yang serupa di Bangladesh, untuk nasabah yang jauh lebih miskin, bahkan tidak memiliki tanah.

Di Bangladesh, sistem ini berkembang menjadi Grameen Bank. Muhammad Yunus yang begitu konsisten mengembangkan Grameen Bank pun akhirnya memperoleh Hadiah Nobel karena kerjanya.

Salah satu daerah di mana bapak terjun ke lapangan selama membenahi BRI unit desa adalah Bali. Di Bali, beliau mulai tertarik dengan dewi ilmu pengetahuan, seni, dan kebijaksanaan -Sarasvati. Sebuah nama yang bapak berikan kepada saya, ketika saya lahir ke dunia.[***]

Dhitta Puti Sarasvati

Populer

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Harga Emas Dunia Terkoreksi Saat Ultimatum Trump Dekati Tenggat

Senin, 06 April 2026 | 08:19

Krisis Global Memanas, Industri Air Minum Tercekik Lonjakan Harga Kemasan

Senin, 06 April 2026 | 08:06

Sektor Bisnis Arab Saudi Terpukul, Pertama Kalinya dalam 6 Tahun

Senin, 06 April 2026 | 08:00

Trump Ancam Ciptakan Neraka untuk Iran jika Selat Hormuz Tak Dibuka

Senin, 06 April 2026 | 07:48

AS Berhasil Selamatkan Pilot Jet Tempur F-15 di Pegunungan Iran

Senin, 06 April 2026 | 07:36

Strategi WFH di Berbagai Negara Demi Efisiensi Energi

Senin, 06 April 2026 | 07:21

Cadangan Pangan Pemerintah Capai Level Tertinggi, Aman hingga Tahun Depan

Senin, 06 April 2026 | 07:06

Daya Kritis PBNU ke Pemerintah Makin Melempem

Senin, 06 April 2026 | 06:32

Amerika Negara dengan Ideologi Kapitalisme Menindas

Senin, 06 April 2026 | 06:12

Isu Pemakzulan Prabowo Belum Padam Total

Senin, 06 April 2026 | 06:07

Selengkapnya