Berita

Irjen Heru Winarko/Net

Wawancara

WAWANCARA

Irjen Heru Winarko: Market Narkoba Di Sini Banyak Sekali, Makanya Laku Keras Meskipun Mahal

RABU, 21 MARET 2018 | 10:22 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Sejak di awal pemerintahannya, Presiden Jokowi menetapkan Indonesia darurat narkoba. BNN menyebut jumlah narkoba yang masuk ke Indonesia sudah sangat memprihatinkan.

 Hingga akhir tahun lalu, BNN telah mengungkap 46.537 kasus narkoba, serta mengamankan 58.365 tersangka kasus narkoba, dan 34 tersangka tindak pidana pencucian uang yang bersumber dari kasus narkoba. Total barang bukti yang berhasil dikumpulkan oleh BNN, Polri, dan Ditjen Bea Cukai terdapat 4,71 ton sabu-sabu, 151,22 ton ganja, dan 2.940.748 butir ekstasi.

Yang bikin miris lagi, saat ini yang jadi pecandu narkoba tak hanya orang dewasa dan remaja, tapi sudah merembes hingga ke kalangan anak-anak. Menurut BNN, saat ini banyak anak-anak yang sengaja dijadikan pecandu narkoba, sehingga bisa dipaksa untuk menjadi kurir. Berikut penjelasan Kepala BNN Irjen Heru Winarko terkait masalah ini.


Kenapa bisa sampai sebegitu banyak dan mudah narkoba masuk ke Indonesia?
Itu karena harga narkoba di sini luar biasa. Harga narkoba di China itu 1 gram cuma Rp 20 ribu, di Iran Rp 50 ribu, tapi di Indonesia itu Rp 1,5 juta. Karena perbedaan harga yang luar biasa, makanya dengan cara apapun mereka berusaha memasukan­nya ke sini.

Kenapa harganya bisa jauh lebih mahal?
Itu karena tingginya tuntutan pasar. Semakin banyak market-nya, semakin tinggi juga hargan­ya. Semakin banyak jejaringnya, semakin tinggi nilainya. Jadi langkahnya adalah bagaimana supaya suplai ini bisa dikurangi, dan juga bagaimana supaya per­mintaannya bisa dipangkas.

Caranya?
Caranya dengan melakukan pencegahan semaksimal mung­kin. Kemarin saya kebetulan ikut konferensi nerkotika sedunia di Wina. Di sana kami ketemu neg­ara-negara yang memproduksi barang-barang tersebut, dan juga negara yang kami anggap bisa diajak berkolaborasi, seperti Singapura dan Malaysia. Karena bagaimanapun warga negara kita di Singapura cukup banyak, lalu warga negara kita di Malaysia juga cukup banyak. Sehingga kalau narkoba tidak diberantas, yang jadi korban bukan hanya warga negara Indonesia, tapi juga warga negara mereka.

Untuk pencegahan dari da­lam bagaimana?
Di dalam pencegahan kami bukan hanya kasih ceramah, tapi juga bagaimana bisa memban­gun sistem pencegahan narkoba. Misalnya sistem pencegahan narkoba untuk di lapas (lembaga pemasyarakatan).

Saya sudah bertemu dengan pihak lapas, dan kami sepakat bahwa lapas itu bukan hanya un­tuk pembinaan narapidana, tapi juga tempat sosialisasi tentang narkoba. Jadi mereka ini selain dihukum juga direhabilitasi. Karena enggak semua pecandu itu mau direhabilitasi, mau dis­embuhkan. Itu tergantung dari kemauan mereka juga.

Selain itu apa lagi langkah yang Anda lakukan?

Kemudian untuk mencegah narkoba masuk ke Indonesia, kami sudah berkomunikasi den­gan Ditjen Bea Cukai. Kami dor­ong mereka supaya tidak hanya untuk mem-protect, tapi juga buat sistem untuk mencegah masuknya narkoba ke Indonesia. Lalu kami juga sudah berkoordi­nasi dengan Kementerian Desa dan Daerah Tertinggal, karena narkoba ini sudah masuk ke desa-desa.

Jadi saya harapkan desa bisa punya sistem, punya daya tang­gap untuk mencegah peredaran narkoba di wilayah masing-masing. Jadi pada intinya, BNN dan semua instansi bekerjasa­ma untuk memberantas dan mencegah peredaran narkoba. Ini sistem, dan supaya sistem optimal, maka tidak boleh ada yang tertinggal. Mulai dari pencegahan, pemberdayaan, dan pemberantasan berjalan bersama.

Apa target BNN dalam hal pencegahan?
BNN ini kan tugasnya untuk menghadapi sindikat. Target kami tahun lalu 24 sindikat, sementara target tahun ini 26 sindikat.

Sepengetahuan BNN, bera­pa banyak sindikat narkoba yang ada di Indonesia?
Kalau untuk jumlahnya relatif. Setiap ada yang ketangkep, lainnya bisa pecah dan bikin baru. Sehingga kami hanya menargetnya berdasarkan informasi yang didapat. Jadi kalau kami tidak bisa pastikan. Karena sekali pecah itu dari satu jaringan bisa jadi empat-lima jaringan. Sehingga jumlahnya berubah-ubah. Makanya yang bisa saya sampaikan adalah, yang kami targetkan tahun ini ada 26 sindikat. ***

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

Harga Daging Sapi Tembus Rp153 Ribu/Kg, Zulhas Buka Opsi Subsidi APBN-APBD

Selasa, 25 Agustus 2026 | 14:18

LPSK Beri Perlindungan kepada Ferry Hongkiriwang, Saksi Kasus Febrie Adriansyah

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:54

Urusan Gula Konsumsi Aman, Kementan Kini Bidik Target Gula Industri di 2028

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:45

Ahmed al-Sharaa Sambut Keputusan AS Hapus Suriah dari Daftar Sponsor Teror

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:42

Geng Haiti Bantai 40 Pengungsi yang Berlindung di Gereja

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:42

Wajah Baru Jakarta, Wagub Rano Resmikan Jaksinema Pasar Rumput

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:29

BMKG Maksimalkan OMC di Kaltim Sepekan Ini untuk Tangani Karhutla

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:19

Dugaan Setoran Importasi Blueray, KPK Cecar Dua PNS Bea Cukai

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:50

Kasus OTT Unsoed Bisa Saja Terjadi di Kampus Lain

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:46

Perketat Imigrasi, Trump Bersiap Cabut 200 Ribu Visa WNA

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:46

Selengkapnya