Berita

Foto/Net

Dunia

Myanmar Bangun Pangkalan Militer Di Tanah Rampasan

Supaya Etnis Rohingya Ogah Balik Kampung
RABU, 14 MARET 2018 | 09:37 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Organisasi pejuang Hak Asasi Manusia Internasional, Amnesty Internasional (AI) menuduh militer Myanmar telah membangun pangkalan militer di tanah yang dulunya adalah pemukiman etnis Rohingya.

AI menunjukkan bukti berupa citra foto satelit yang menunjukkan foto sebelum dan sesudah aksi 'meratakan tanah' yang dilakukan militer Myanmar tahun lalu.

Militer Myanmar diduga me­mang sengaja mengancam, merusak dan mengusir warga etnis minoritas Rohingya pergi dari wilayah pemukiman mereka di Rakhine untuk memuluskan rencana militer membangun pangkalan militer baru.


Dalam citra satelit, nampak sejumlah wilayah sedang mengalami pembangunan infrastruk­tur jalan dan landasan pacu.

"Apa yang kita lihat di Rakhine adalah perampasan lahan oleh militer dalam skala besar-besa­ran. Pangkalan-pangkalan baru didirikan bagi aparat keamanan yang sama yang sudah melaku­kan kejahatan kemanusiaan ter­hadap Rohingya," tegas Direktur Respons Krisis AI, Tirana Has­san, dikutip Reuters.

Militer Myanmar memang su­dah banyak diberitakan melaku­kan tindakan pengusiran dan pembakaran rumah-rumah milik warga Rohingya sejak pertenga­han tahun lalu.

Pemerintahan Myanmar pun bungkam mengenai tuduhan dan bukti yang diberikan AI, kemarin.

Sebelumnya, pejabat pemerin­tah daerah Rakhine menyebut la­han yang 'dibuldozer,' yang dulu merupakan pemukiman etnis Ro­hingya, akan dibangun desa-desa baru bagi warga Rohingya yang dipulangkan dari Bangladesh.

Reuters dan AFP belum dapat mengonfirmasi laporan ini karena Myanmar sangat menutup akses informasi mengenai situasi di Rakhine, terutama sejak ben­trokan kembali pecah di negara bagian itu pada Agustus lalu.

Bentrokan itu dipicu oleh serangan kelompok bersenjata Pasukan Pembela Arakan Roh­ingya (ARSA) ke sejumlah pos polisi dan satu pangkalan militer di Rakhine. Mereka mengklaim menjalankan aksinya untuk membela hak Rohingya yang selama ini tersiksa di tengah mayoritas penduduk Buddha.

Tidak berselang lama setelah serangan tersebut, militer Myanmar melakukan operasi pembersihan ARSA dari tanah Rakhine. Namun, militer tak hanya menumpas ARSA, tapi juga membunuh warga etnis Rohingya dan membakar rumah-rumah mereka.

Akibat rangkaian bentrokan itu, sekitar 100 ribu nyawa melayang, sementara lebih dari 700 ribu orang Rohingya lainnya mengungsi ke Bangladesh.

Myanmar dan Bangladesh sudah menyepakati perjanjian pemulangan Rohingya yang harusnya dilaksanakan sejak Januari lalu. Namun, proses repatriasi ini terhambat karena warga etnis Ro­hingya sendiri tak mau dipulang­kan tanpa jaminan keamanan.

Amnesty International meya­kini Myanmar tengah membentuk ulang kawasan Rakhine yang dahulu ditinggali etnis Rohingya demi mengakomodasi aparat keamanan dan penduduk di luar etnis Rohingya. Cara itu dipandang efektif agar etnis Rohingya tidak mau kembali. ***

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Permintaan Chip AI Dongkrak Saham Intel hingga 24 Persen

Sabtu, 25 April 2026 | 12:18

Apa Itu UNCLOS? Dasar Hukum Jadi Acuan Indonesia di Selat Malaka

Sabtu, 25 April 2026 | 12:03

Purbaya Siap Geser hingga Non-Job Pegawai Pajak Bermasalah

Sabtu, 25 April 2026 | 12:02

Jalan Mulus Kevin Warsh ke Kursi The Fed, Dolar AS Langsung Terkoreksi

Sabtu, 25 April 2026 | 11:45

Subsidi Motor Listrik Disiapkan Lagi, Pemerintah Bidik 6 Juta Unit

Sabtu, 25 April 2026 | 11:16

IHSG Sepekan Anjlok 6,61 Persen, Kapitalisasi Pasar Menciut Jadi Rp12.736 Triliun

Sabtu, 25 April 2026 | 10:59

Rupiah Melemah, DPR Desak Pemerintah Jaga Daya Beli Rakyat

Sabtu, 25 April 2026 | 10:48

Wamen Ossy Gaspol Benahi Layanan Pertanahan: Target Tanpa Antrean dan Lebih Cepat

Sabtu, 25 April 2026 | 10:27

Ketergantungan pada Figur, Cermin Lemahnya Demokrasi Internal Parpol

Sabtu, 25 April 2026 | 10:02

Netanyahu Akui Sempat Jalani Terapi Kanker Secara Diam-diam

Sabtu, 25 April 2026 | 09:51

Selengkapnya