Berita

Publika

Antara Klamuflase Dusta dan MCA

JUMAT, 09 MARET 2018 | 17:39 WIB

IBLIS pandai beretorika. Siapapun yang menyimaknya akan terkesima. Tak salah banyak orang tertipu pada retorika dan bujuk rayu Iblis. Nabi Adam as saja tertipu pada retorika Iblis.

Karena itu, komunikasi tidak boleh lebih dari hanya sekedar alat untuk mencapai hakekat. Bila tujuannya adalah kebatilan, retorika pun terbangun menunjang ke arah kebatilan. Semua elemen bekerja untuk kebatilan. Bangunan rasional pun dibangun sedemikian rupa untuk meyakinkan kebatilan.

Dalam rangka mengelabui manusia, kebatilan tak berdiri sendiri, tapi butuh ramuan rasionalitas sehingga kebatilan tampak abstrak. Saat itu kebatilan tak jelas dan tak mudah teridentifikasi, bahkan seakan  kebenaran yang  mengemuka, padahal sebenarnya adalah kebatilan. Saat itu, akal kewalahan membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Semuanya tercampur jadi satu ramuan. Itulah yang disebut ramuan Iblis yang bernama "Syubhah."


Iblis tidak lah bodoh dalam menjerumuskan manusia. Banya pola yang disodorkan sehingga membuat manusia tertipu. Seakan rasional, padahal sama sekali tidak logis. Akal benar-benar harus mampu memilah paralogis atau syubhah yang mencampuradukkan kebatilan dengan kebenaran.

Ilmu logika pun ditawarkan untuk memilah. Tapi pada saat yang sama,ilmu logika juga bisa digunakan untuk membangun konsep-konsep syubhah. Ilmu logika ibarat sebilah pisau yang bisa digunakan untuk menghunus tubuh manusia yang tak bersalah. Tapi pada saat yang sama, pisau bisa untuk menghidupkan manusia melalui hidangan-hidangan yang sebelumnya disiapkan dengan benda tajam itu.

Di antara kasus syubhah akhir-akhir ini yang mewabah di media dan kalangan pemikir di negeri ini adalah  tanggapan atas MCA (Muslim Cyber Army). Melekatkan dusta atau hoax pada MCA menjadi bagian fokus masalah untuk sudutkan gerakan cyber ini. Alih-alih menjelaskan dusta yang sebenarnya, tapi mereka malah menanamkan kebencian dan kecurigaan pada ummat yang tengah berjuang hadapi oligarki Taipan.

Subyek dusta hanya sekedar klamuflase. Mereka hanya membangun persepsi hoax atau dusta yang kemudian dilekatkan pada MCA. Sebagai contoh, Muhsin Labib, aktivis pro Ahok, dalam rekaman videonya yang mengunggah ujaran-ujaran membangun imej dusta pada MCA tanpa menyebutkan kasus hoax atau dustanya. Rekaman video yang penuh cutting tersebut hanya ingin membangun persepsi dusta pada MCA atau hanya sekedar menggiring opini tanpa bukti yang jelas (baca fitnah). Padahal dalam ilmu komunikasi seperti yang disinggung pakar komunikasi, Hasyim Arsal Al Habsi, persepsi tidak bisa dibilang dusta atau tidak.

Persepsi  lebih cenderung subyektif dan abstrak karena terbangun oleh imej atau pandangan semu yang bisa jadi dibentuk media-media. Sebagai contoh, Jokowi itu polos. Kalimat itu hanya sebatas persepsi dan imej yang terkandung di dalamnya sebuah kesan tapi tidak bisa dibenarkan atau didustakan. Untuk buktikan benar dan dustanya harus dilihat dari perkasus masalah. Benar Jokowi polos karena mau saja disuruh pakai pakaian konyol adat Afghanistan yang tampak kontras. Ini hanya sekedar contoh kasus yang mengandung benar dan salah. Dari per kasus itu terbangun imej bahwa Jokowi itu polos. Tapi pada saat yang sama, Jokowi tidak selalu polos karena ungkapan itu hanya persepsi dan imej yang tak terkandung dusta atau tidak.

Terkait penjelasan MCA oleh Muhsin Labib, ia hanya ingin mendorong opini dengan pendekatan syubhah. Yang dijelaskan terkait dusta bisa jadi benar, tapi sudut kebenaran itu dijadikan bagian dari paralogis untuk mengecoh para penyimaknya. Bukan penjelasan dusta sebenarnya yang didapat tapi penyimak malah menyerap virus kebencian dan subyektivitas perspektif pada kelompok tertentu. Penjelasannya  jelas untungkan penguasa oligarki yang rampok negeri ini sebanyak mungkin. Mainkan syubhah dan abaikan rejeki posisi, mereka kian terpuruk jauh dalam berkhidmat pada iblis.

Sebagai catatan, MCA itu sebuah gerakan ummat di level cyber. Tak ada bentukan khusus karena semua yang terlibat adalah para cyber yang terpanggil membantu gerakan ummat. Dunia medsos menjadi lahan jihad para cyber. Mereka tak ingin dunia medsos penuh provokasi sudutkan Islam. Mereka adalah para profesional yang bekerja di instansi-instansi baik swasta maupun pemerintah, bahkan ada di dalam sarang intelijen sendiri. MCA hanya sekedar seruan untuk mengkoordinasi bahwa para cyber tetap harus bekerja di dunia maya untuk kepentingan ummat.

Sangat mungkin pula ada yang mengaku MCA tapi sebenarnya adalah penyusup yang ingin merusak dengan menyebar berita hoax. Tapi upaya itu tentu sia-sia saja karena MCA hanya sekedar seruan yang diistilahkan HRS sebagai  bentuk apresiasi besar atas kerja mereka. HRS ingin menyerukan bahwa mereka yang bekerja di medsos sebagai cyber punya peran penting mengatur informasi dan layak pula disebut pejuang Islam selama menyisihkan waktunya untuk kepentingan ummat. MCA adalah bagian dari masyarakat dan bangsa ini yang terpanggil ingin menjadi bagian dari ummat. Kemudian Anda bilang bahwa MCA itu dusta? MCA yang mana? Jangan biarkan imej buruk membentuk MCA. Apalagi di sana ada nama muslim. Setidaknya berikan penghormatan pada nama muslim di sana. Hanya orang munafik yag ingin nama muslim tercoreng. Al iyyadzubillah.[***]

Alireza Alatas
Pembela ulama dan NKRI, Silaturahmi Ahlul Bait Nusantara (Silabna).

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK-PPATK Diminta Pastikan Harta AHY dan Ibas dari Sumber Halal

Senin, 06 Juli 2026 | 17:38

KPK Dikabarkan Kembali Gelar OTT di Sumut

Kamis, 02 Juli 2026 | 20:50

UPDATE

Uang Tunai Rp476 Miliar, Emas Batangan, Dokumen dan Foto Keluarga Disita dari Rumah di Sentul

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:24

Beredar Kabar Mantan Sekjen MPR Maruf Cahyono Hari Ini Ditahan

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:15

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Audit BPK Pemkab Muara Enim

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:11

ASN PPPK Layak Peroleh Jaminan Pensiun

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:09

Koruptor Berkedok Penegak Hukum Pengkhianat Terbesar Bangsa

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:07

Tanya Seputar Jaksa

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:00

Respons Santai Usulan Jawa Barat jadi Tatar Sunda, DPR: Fokus Kerja Sajalah!

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:57

MPR dan MK Sepakat Tak Saling Intervensi Kewenangan Lembaga

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:41

Masih Digodok DPR, Publik Diminta Tak Khawatir Usulan Kenaikan BPIH 2027

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:31

KPK Sita 12 Ribu Dolar Singapura dari Ketua DPRD Kuansing

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:22

Selengkapnya