Berita

Aung San Suu Kyi/Net

Dunia

Museum Holocaust AS Cabut Penghargaan Untuk Aung San Suu Kyi

KAMIS, 08 MARET 2018 | 07:38 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Museum Holocaust Amerika Serikat mencabut penghargaan hak asasi manusia yang diberikan kepada pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi.

Dicabutnya penghargaan itu karena dia dinilai gagal menggunakan otoritas moralnya untuk menghentikan kampanye militer yang berutal di wilayah Rakhine di mana ratusan warga Rohingya menjadi korban.

Museum tersebut mengumumkan pada hari Rabu (7/3) bahwa mereka telah menarik penghargaan Elie Wiesel, yang diserahkan kepada Aung San Suu Kyi pada tahun 2012.


Direktur Museum Sara Bloomfield mengutip penolakannya untuk mengutuk atau menghentikan pembunuhan massal minoritas Muslim Rohingya di Myanmar.

Dalam sebuah surat terbuka kepada kedutaan Myanmar di Washington yang dipublikasikan di situs museum tersebut, dia menjelaskan alasna pencabutan penghargaan tersebut.

"Berdasarkan inspirasi yang Anda buat untuk jutaan orang di seluruh dunia, dengan daya tahan lama Anda terhadap kediktatoran militer, dan advokasi Anda untuk kebebasan dan hak asasi manusia untuk semua orang di Myanmar, kami merasa terhormat hadir dengan Penghargaan Elie Wiesel pertama di tahun 2012 ," tulis Bloomfield seperti dimuat The Guardian.

"Dengan sangat menyesal sekarang kita membatalkan penghargaan itu. Kami tidak mengambil keputusan ini dengan enteng," tambahnya.

Dia menambahkan bahwa Museum tersebut telah memantau dengan ketat kampanye militer Myanmar melawan tanggapan Rohingya dan Aung San Suu Kyi terhadapnya. Bahkan pihak museum mengirim utusan ke Myanmar dan Bangladesh untuk mendapatkan bukti langsung. Museum ini juga telah menerbitkan temuan yang mencakup "bukti genosida" yang meningkat.

Aung San Suu Kyi diketahui sempat memiliki nama yang harum dan dibandingkan dengan Nelson Mandela dari Afrika Selatan setelah menghabiskan 15 tahun di bawah tahanan rumah karena menentang kediktatoran militer negara tersebut.

Dia bahkan memenangkan hadiah Nobel perdamaian pada tahun 1991.

Setelah perjuangan panjang, partainya kemudian menang telak pada tahun 2015 dan dia menjadi penasihat negara yang secara de facto memimpin negara. Namun karena ada masalah status kewarganegaraan suami dan anak-anaknya, dia tidak bisa menjadi pemimpin resmi Myanmar.

Tapi reputasi internasional Aung San Suu Kyi telah runtuh karena pembantaian Rohingya dan dia telah dikritik sebagai salah satu orang yang bertanggungjawab di balik pembersihan etnis tersebut. Dia bahkan belum mengucapkan sepatah kata pun soal Rohingya di depan umum. [mel]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Wacana Pileg 2029 Seperti Liga Sepak Bola Mencuat, Partai Baru Tarkam Dulu

Sabtu, 25 April 2026 | 01:54

Bahlil Bungkam soal Isu CPO dan Kenaikan Harga Minyakita

Sabtu, 25 April 2026 | 01:31

Yuddy Chrisnandi Ajak FDI Bangun Dapur MBG di Daerah Tertinggal

Sabtu, 25 April 2026 | 01:08

Optimalisasi Selat Malaka Harus Lewat Infrastruktur Maritim, Bukan Pungut Pajak

Sabtu, 25 April 2026 | 00:51

Kejari Jakbar Fasilitasi Isbat Nikah Massal bagi 26 Pasutri

Sabtu, 25 April 2026 | 00:30

Kemampuan Diplomasi Energi Bahlil Sering Diolok-olok Netizen

Sabtu, 25 April 2026 | 00:09

Kinerja Bareskrim Dinilai Makin Tajam Usai Bongkar Kasus Strategis

Jumat, 24 April 2026 | 23:58

Ketegasan dalam Peradilan Militer Menyangkut Keamanan Negara

Jumat, 24 April 2026 | 23:33

Kebijakan Bahlil Dicap Auto Pilot dan Sering Bahayakan Rakyat

Jumat, 24 April 2026 | 23:09

KPK Diminta Sita Aset Kalla Group Jika Gagal Bayar Proyek PLTA Poso

Jumat, 24 April 2026 | 22:48

Selengkapnya