. Seorang guru yang juga merupakan pendukung kelompok militan ISIS dinyatakan bersalah karena mencoba menciptakan "tentara anak" untuk membantu melakukan gelombang serangan teroris di London Inggris.
Dia adalah Umar Haque, seorang pria berusia 25 tahun. Dia dihukum karena menyiapkan tindakan terorisme antara tanggal 25 Maret hingga 18 Mei tahun lalu. Di antara target yang dituju adalah markah Inggris ikonik termasuk Big Ben, Queen's Guard dan Bandara Heathrow.
Haque diketahui mengajar studi Islam pada sekitar 110 anak-anak berusia antara 11 dan 14 tahun sambil sesekali mempertontonkan video propaganda kelompok militan ISIS.
Fakta itu terungkap dalam persidangan yang digelar pekan ini di Inggris.
Terlepas dari kenyataan bahwa Haque tidak memiliki kualifikasi mengajar, dia memiliki akses ke 250 anak muda selama lima tahun di dua sekolah melalui pekerjaannya sebagai administrator.
Di antara sekolah tempat dia mengajar, adalah sekolah linguistik Pengetahuan Berbayar di Leyton, dan Essex Islamic Academy, yang juga dikenal sebagai Masjid Jalan Ripple, di London timur.
Polisi yakin dia berpotensi mencoba melakukan radikalisasi terhadap 110 anak.
"Rencananya adalah untuk menciptakan tentara anak-anak untuk membantu beberapa serangan teroris di seluruh London," kata Dean Haydon, kepala Komando Terorisme Polisi Metropolitan seperti dimuat
Russia Today.
"Dia mencoba dan dia melakukannya, kami percaya, membuat radikal anak-anak yang rentan dari usia 11 sampai 14 tahun," sambungnya.
Anak-anak dipaksa untuk kembali memberlakukan serangan Westminster yang mematikan tahun lalu dan dilatih untuk membangun kekuatan mereka.
"Dia mencoba mempersiapkan anak-anak untuk menjadi martir dengan membuat mereka berperan sebagai teroris," kata Haydon.
Haydon mengatakan bahwa anak-anak tersebut disumpah untuk menjaga rahasia dan tidak memberitahu orang tua mereka. Haque bahkan mengancam bahwa anak-anak itu akan mengalami nasib yang sama dengan yang ada dalam video militan yang dia tunjukkan kepada mereka jika membocorkan rahasia.
Haque pertama kali menjadi perhatian pihak berwenang ketika kedapatan memiliki material yang berhubungan dengan teroris di ponselnya oleh petugas saat berada di Bandara Heathrow pada tahun 2016. Sejak saat itu, dia menjadi sasaran polisi dan penyelidikan MI5.
"Kami memutuskan untuk melakukan intervensi lebih awal dan menangkapnya untuk apa yang kami pikir merupakan rencana penyerangan aspirasi jangka panjangnya dan kami kemudian menemukan pelanggaran lain mengenai radikalisasi anak-anak," kata Komandan Haydon.
Jaksa mengatakan bahwa terdakwa berencana untuk menggunakan senjata api dan sebuah mobil yang dilengkapi dengan bahan peledak untuk menyerang sasaran di Inggris.
Haque dinyatakan bersalah di Pengadilan Old Bailey di London karena sejumlah pelanggaran termasuk menyiapkan tindakan teroris, setelah sebelumnya mengaku bersalah atas empat tuduhan.
[mel]