Pemerintah Ukraina memerintahkan kepada semua sekolah dan institusi pendidikan tinggi untuk tutup sementara karena adanya masalah dalam pasokan gas dari Rusia.
Pemerintah setempat menyebut bahwa penutupan sekolah merupakan upaya untuk menyelamatkan gas saat pemasok Rusia menolak memberikan lebih banyak bahan bakar.
Pasalnya, seperti dimuat BBC, raksasa energi Rusia Gazprom yang juga adalah salah satu pemasok gas alam terbesar di dunia mengatakan bahwa pihaknya secara sepihak memutuskan kontraknya dengan Ukraina.
Gazprom membuat pengumuman tersebut setelah sebuah pengadilan di Stockholm memutuskan untuk melawannya pada akhir permasalahan hukum yang telah berlangsung lama.
Ukraina sendiri diketahui merupakan saluran utama untuk pipa gas dari Rusia ke Uni Eropa.
Langkah Gazprom membuat pejabat Uni Eropa di Brussels menyuarakan kekhawatiran tentang pasokan gas ke blok tersebut, terlebih saat ini tengah dilanda cuaca dingin di sebagian besar benua.
Langkah Gazprom itu juga membuat khawatir Ukraina yang saat ini tengah mengalami hujan salju parah.
Kementrian Energi Ukraina merekomendasikan agar institusi pendidikan tutup sampai setidaknya pekan depan.
Perselisihan antara Gazprom dan Ukraina diketahui terjadi beberapa tahun lalu. Perusahaan gas nasional Ukraina Naftogaz mengatakan bahwa pihaknya berutang kompensasi karena kurangnya pasokan yang disepakati dan untuk biaya transit melalui jalur pipa negara tersebut.
Namun Gazprom mengklaim bahwa Naftogaz tidak membayar sepenuhnya untuk gas yang disepakati untuk dibeli.
Setelah perselisihan penjang, pengadilan di Swedia pekan ini mengakhiri perselisihan yang memberatkan Gazprom.
Gazprom kemudian memutuskan sepihak untuk tidak melanjutkan pasokan sejak 1 Maret kemarin dan dilaporkan mengembalikan pembayaran yang telah dilakukan Kiev sebelumnya.
[mel]