Berita

Sri Mulyani/Net

Bisnis

Menkeu Sebut Rupiah Masih Fleksibel

KAMIS, 01 MARET 2018 | 12:39 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Nilai tukar rupiah kemarin terpuruk ke level Rp 13.707 per dolar AS. Pelemahan rupiah dinilai lantaran masih terpen­garuh oleh kebijakan ekonomi global, termasuk suku bunga Amerika Serikat (AS).

Data yang diterbitkan BI ke­marin pagi terpantau menem­patkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jis­dor) di Rp 13.707 per dolar AS, terdepresiasi 57 poin atau 0,41 persen dari posisi Rp 13.650 per dolar AS pada Selasa (27/2).

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual mengatakan, penguatan dolar AS terjadi karena indeks kepercayaan konsumen AS naik. University of Michigan merilis indeks keyakinan kon­sumen naik ke 99,9 dari 95,7 bulan sebelumnya. Jumlah izin membangun tempat tinggal yang dikeluarkan di Januari juga naik jadi 1,4 juta izin dari 1,3 juta izin bulan sebelumnya.


"Hal ini menunjukkan kebi­jakan pemotongan pajak oleh pemerintahan AS berdampak positif, sehingga menjadi sen­timen negatif buat mata uang emerging market," kata David kepada Rakyat Merdeka.

Dari dalam negeri, lanjut David, belum ada katalis positif yang mampu mendorong rupiah menguat. "Neraca perdagangan dan hasil Rapat Dewan Guber­nur BI terkait suku bunga pekan lalu tidak begitu substansial untuk mempengaruhi rupiah," tambah David.

Selain itu, pelaku pasar sejat­inya masih meragukan ekonomi AS tahun ini. Apalagi data teran­yar, penjualan ritel di Negeri Paman Sam turun 0,3 pers­en. "Pelaku pasar meragukan ekonomi AS bisa terus membaik jika nanti suku bunga acuan dinaikkan," ujarnya.

Karena katalis negatif tersebut, ia yakin rupiah hari ini dapat membalikkan keadaan dan men­guat tipis dalam rentang pergera­kan di kisaran Rp 13.500-13.580 per dolar AS.

Ekonom Samuel Sekuritas In­donesia Ahmad Mikail menam­bahkan, pertumbuhan ekonomi AS yang cukup kuat serta adanya kemungkinan inflasi yang lebih tinggi membuat Gubernur Fed­eral Reserve Jerome Powell semakin yakin menaikkan ting­kat suku bunga acuan AS pada tahun ini.

"Pidato Powell tersebut mem­buat investor di AS yakin tingkat suku bunga akan lebih diband­ingkan ekspektasi sebelumnya," terang Ahmad dalam riset.

Ia memprediksi, rupiah akan bergerak di level Rp 13.650- 13.700 per dolar AS.

Menanggapi hal ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai, melemahnya rupiah imbas dari pergerakan ekonomi global yang dinamis. "Kita melihat bahwa saat ini ekonomi akan mengalami dinamika yang akan terus menerus, kita perlu pantau dan kita jaga," kata wanita yang akrab disapa Ani ini.

Bekas Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menjelaskan, pelemahan rupiah terjadi karena adanya sentimen global, salah satunya adalah perubahan kebi­jakan di Amerika Serikat terkait moneter, fiskal maupun kebijakan perdagangan yang juga memberi dampak bagi Indonesia.

"Tentunya itu semua akan menentukan apa yang disebut pertama sentimen dan kedua juga pergerakan jadi volatilitas," ujarnya.

Meski begitu lanjutnya, dari sisi rupiah selama ini nilai tu­karnya selalu kompetitif, bahkan saat bank sentral AS Federal Reserve menaikkan suku bunga pada tahun 2016 dan 2017, laju rupiah tetap stabil.

"Yang paling penting adalah untuk menggambarkan rupiah kita adalah nilai rukar rupiah yang fleksibel, tidak menim­bulkan daya kompetitif yang tererosi karena nilai tukar itu sendiri," pungkasnya. ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Revolusi Status Buruh Harian Lepas

Senin, 22 Juni 2026 | 00:03

Nyanyian Sony Sebut 41 Nama Dituding Hanya untuk Kelabui Penyidik

Minggu, 21 Juni 2026 | 23:33

Penangkapan Roy dan Tifa Perkuat Anggapan Polisi di Bawah Kendali Jokowi

Minggu, 21 Juni 2026 | 23:17

Prabowo Panggil Rosan, Bahas Optimalisasi Aset Negara dan Transformasi BUMN

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:55

Program Sekolah Rakyat Dapat Akses Gratis Talent DNA ESQ

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:32

Malam Ini Roy Suryo dan Dokter Tifa Nginap di Rutan Polda, Besok ke Kejaksaan

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:01

Teruji di MRS 2026, Pertamax Turbo Jadi Andalan Utama Pembalap Nasional

Minggu, 21 Juni 2026 | 21:46

Penyelenggaraan Haji Tahun Ini Lebih Baik dari Sebelumnya

Minggu, 21 Juni 2026 | 21:46

Buntut Gesekan Petugas vs Ojol, Ini Strategi Baru Dishub DKI Atur Ruang Jalan Ibu Kota

Minggu, 21 Juni 2026 | 21:31

Mensos ke Pejabat Baru: Jangan Sabotase Program Sekolah Rakyat!

Minggu, 21 Juni 2026 | 20:45

Selengkapnya