Berita

Potongan gambar dari video amatir perataan kuburan massal/The Guardian

Dunia

Kelompok Pemantau: Myanmar Ratakan Kuburan Massal Rohingya Dengan Buldoser

SELASA, 20 FEBRUARI 2018 | 08:38 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Pemerintah Myanmar membuldoser lokasi kuburan massal warga Rohingya sebagai bagian dari upaya untuk menghancurkan bukti pembantaian yang dilakukan tahun lalu oleh militer.

Begitu kata sebuah kelompok pemantau hak asasi manusia, The Arakan Project awal pekan ini.

Kelompok pemantau yang menggunakan jaringan di darat untuk mendokumentasikan pelanggaran terhadap komunitas Rohingya di negara bagian Rakhine bagian barat, Myanmar memberikan video pada media The Guardian tentang lokasi makam sebelum kehancurannya.


Rekaman tersebut menunjukkan tas terpal setengah terkubur di tempat terbuka hutan, dengan kaki manusia yang membusuk terlihat menonjol dari salah satu tasnya.

Chris Lewa, direktur Proyek Arakan, mengatakan bahwa buldoser tersebut tampaknya merupakan bagian dari upaya untuk menyembunyikan bukti kuburan secara permanen menyusul eksposur yang muncul di media cetak.

"Dua dari kuburan massal yang kita ketahui telah muncul di media, namun pada hari Kamis salah satu situs kuburan massal lainnya dibuldoser. Ini berarti bukti pembunuhan tersebut sedang dihancurkan," katanya.

"Perusahaan swasta sedang melakukan proses perataan dengan buldoser. Mereka berasal dari Myanmar tengah, bukan Rakhine," katanya.

"Sudah jelas ini terjadi di bawah perintah pemerintah," klaim Lewa.

Situs kuburan massal yang dilaporkan berada di Maung Nu, kota Buthidaung, di negara bagian Rakhine utara. Lokasi itu juga merupakan lokasi pembantaian yang dilaporkan oleh kelompok hak asasi manusia pada Agustus tahun lalu.

Human Rights Watch mengatakan bahwa korban selamat telah mengatakan kepada mereka bahwa tentara telah melakukan pemukulan, serangan seksual, penikaman dan penembakan pada penduduk desa. Puluhan orang dilaporkan terbunuh. Citra satelit yang diperoleh Human Rights Watch menunjukkan bahwa Maung Nu telah diratakan setelahnya.

Ribuan orang Rohingya diperkirakan tewas dalam sebuah tindakan keras militer yang dimulai pada Agustus 2017, menyusul sebuah serangan terhadap pos-pos keamanan oleh kelompok pemberontak yang dikenal sebagai Arakan Rohingya Salvation Army (Arsa). Hampir 700.000 orang Rohingya melarikan diri ke Bangladesh di dekatnya selama kekerasan tersebut terjadi. [mel]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

KPK: Capres hingga Kepala Daerah Idealnya Tidak Karbitan

Minggu, 26 April 2026 | 17:35

Victor Orban Angkat Kaki dari Parlemen Hongaria, Fokus Benahi Partai

Minggu, 26 April 2026 | 17:18

Menlu Iran Temui Sultan Oman setelah Mediasi di Pakistan Gagal

Minggu, 26 April 2026 | 16:38

Respons Dedi Mulyadi Disindir "Shut Up KDM"

Minggu, 26 April 2026 | 16:37

PAD Retribusi Sampah Bocor Rp20 Miliar, Baunya di Saku Birokrat?

Minggu, 26 April 2026 | 16:01

Beyond Nostalgia ALJIRO Dorong Alumni Berperan untuk SDM

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Tersangka Penembakan Gala Dinner Wartawan Incar Pejabat Trump

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Comeback Sempurna di Bawah Keteduhan Trembesi

Minggu, 26 April 2026 | 15:42

Dua Laksamana Masuk Bursa Kuat KSAL

Minggu, 26 April 2026 | 15:40

Daycare Lakukan Kekerasan Harus Dicabut Izin dan Pelaku Dipenjara

Minggu, 26 April 2026 | 14:57

Selengkapnya