Berita

Da wanita yang dihakimi massa/BBC

Global

Disebut Penyihir, Dua Wanita India Ini Dihakimi Massa

SELASA, 20 FEBRUARI 2018 | 06:49 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Polisi di India menangkap 11 orang di negara bagian Jharkhand utara karena menyalahgunakan dua wanita yang mereka tuduh telah mempraktekkan sihir.

Kedua wanita tersebut adalah ibu dan anak yang berusia 65 dan 35 tahun. Keduanya diduga ditelanjangi dan dipaksa berjalan di jalanan tanpa busana serta makan kotoran manusia.

Aksi itu dilakukan setelah kedua wanita itu dituduh menyebarkan penyakit di desa tersebut.


Hal itu bermula ketika kedua wanita itu berkonsultasi dengan seorang praktisi medis setempat yang tidak memenuhi syarat. Konsultasi dilakukan setelah ada seorang anggota keluarga mereka yang meninggal dunia. Namun praktisi medis itu justru menyalahkan kedua wanita tersebut atas kematiannya.

Keduanya lantas dihakimi massa keesokan harinya. Mereka diarak ke tempat kremasi dimana kerabat membuang urin dan kotoran manusia ke mereka, dan memaksa mereka untuk memakannya.

Selain itu, seperti dimuat BBC, rambut kedua wanita itu pun dicukur, bajunya dilucuti hingga telanjang dan diarak keliling desa. PAda saat itu tidak ada pihak berwenang yang datang menyelamatkan.

Kejadian tersebut baru diketahui beberapa waktu kemudian oleh polisi yang segera menindaklanjuti.

Polisi mengatakan bahwa mereka telah mulai menjalankan kampanye kesadaran di desa tersebut untuk menghindari insiden serupa di masa depan serta memberi perempuan keamanan ekstra.

Di sejumlah desa di India sendiri masyarakatnya masih ada yang lekat dan yakin dengan ilmu sihir. Perburuan penyihir yang menargetkan wanita biasa terjadi di beberapa bagian India.

Para ahli mengatakan bahwa kepercayaan takhayul ada di balik beberapa serangan ini, namun ada juga kesempatan ketika orang, terutama janda, ditargetkan untuk direbut tanah dan properti mereka dengan alasan sihir. [mel]

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

IHSG Terkoreksi 1,97 Persen, Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah

Jumat, 06 November 2026 | 12:31

Ekonom Soroti Potensi Konflik Kepentingan CIO Danantara

Jumat, 06 November 2026 | 12:22

Menperin Ungkap Strategi Hadapi Tekanan Industri Tembakau

Jumat, 06 November 2026 | 12:11

Ketum Partai dan Pejabat yang Terlibat Penyadapan Presiden Harus Jadi Tersangka

Jumat, 06 November 2026 | 12:01

Di Tengah Polemik Ijazah, Pengaruh Politik Jokowi Masih Jadi Perhatian

Jumat, 06 November 2026 | 11:51

Bantah Narasi Deindustrialisasi, Menperin: Industri RI Tidak Gelap

Jumat, 06 November 2026 | 11:40

Indonesia-Somalia Bahas Peluang Kerja Sama Perikanan hingga Keamanan Maritim

Jumat, 06 November 2026 | 11:34

Cokbang Buka Peluang Ekonomi Baru dari Kakao Sabang

Jumat, 06 November 2026 | 11:30

KPK Periksa Komisaris PT Murakabi Media Indonesia di Kasus Asuransi Pelni

Jumat, 06 November 2026 | 11:29

Utang Paylater Masyarakat di Bank Tembus Rp31,5 Triliun hingga September 2026

Jumat, 06 November 2026 | 11:16

Selengkapnya