Berita

Kadarsah Suryadi/Humas BNPT

Pertahanan

ITB Bekali Mahasiswanya Cara Memfilter Kabar Hoax

RABU, 14 FEBRUARI 2018 | 06:46 WIB | LAPORAN:

Di tengah era digital sekarang, media sosial memungkinkan manusia untuk saling berinteraksi tanpa dibatasi ruang dan waktu.
 
Namun media sosial juga menjadi lahan subur bagi orang–orang tak bertanggung jawab untuk bertindak kriminal seperti penipuan, cybercrime serta penyebaran kabar palsu/hoax dan provokatif yang saat ini marak terjadi.

Penyebaran hoax dan isu provokatif menjadi suatu isu dan perbincangan hangat  karena dianggap meresahkan publik. 


"Saya titip kepada masyarakat umum dan para generasi muda untuk bertindak lebih dewasa, jangan mudah termakan isu yang tidak jelas, terutama dari media sosial. Jangan mudah larut dalam suatu isu yang akan membawa kepada sesuatu yang tidak menguntungkan bagi kita terutama terhadap bangsa ini," ujar Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Kadarsah Suryadi.

Rektor ke-16 ITB ini mengatakan, tanpa disadari banyak bangsa atau negara di luar sana yang bahagia kalau melihat negara Indonesia tidak aman.

Namun sejauh ini ia melihat Kementerian Komunikasi dan Informatika dan kementerian lainnya sejauh ini sudah sangat aktif, berperan seperti menjadi audiece ke berbagai perguruan tinggi juga acara publik lainnya.

"Jadi commitment baik dari pemerintah, perguruan tinggi dan juga masyarakat itu harus ada. Enforcement itu harus melibatkan semua pihak untuk mengampanyekan pentingnya kita menyikapi berbagai isu yang muncul di media sosial dan support itu harus adanya peraturan, lalu adanya forum-forum yang kita pergunakan untuk bisa memberikan pencerahan kepada semua pihak," ujarnya.

Pria yang pernah menjabat Wakil Rektor bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB ini pun meminta adanya ketegasan dari pemerintah berupa sanksi tegas sekaligus aturan jelas agar kabar hoax dan isu provokatif lainnya tidak muncul di media sosial.

Kadarsah menyampaikan, untuk mengantisipasi isu hoax atau hal-hal yang bersifat provokatif melalu media sosial, pihaknya telah menanamkan keilmuan komputer untuk dipakai dan dikembangkan bagi anak didik mereka sejak dini.

"Lalu kita bekali mahasiswa itu mengenai cara memfilter dengan pembekalan-pembekalan soft skill agar mahasiswa punya empati, kepedulian sosial dan cinta tanah air dengan kuliah umum dengan mengundang pembicara pada level nasional  bahkan internasional. Tujuannya membekali para mahasiswa supaya makin sadar akan pentingnya peran mereka di dalam melindungi bangsa dan negara," paparnya.
 
Cara lain yang dilakukan ITB yakni membikin lomba hoax analyzer. Di mana mahasiswa ITB menjadi juara nasional dalam membuat software untuk menganalisis kabar itu hoax atau tidak. Software ini bahkan dipublikasikan kepada para aktivis dan mahasiswa. 

"Jadi ada software yang namanya hoax analizer, dan Alhamdulillah ini membantu juga. Membantu supaya agar anak-anak itu tidak langsung menelan bulat-bulat apa yang ada di media sosial. Tapi mereka punya tools yang dibuat teman-temannya sendiri untuk memilah ini benar atau tidak, hoax atau bukan," terangnya.
 
Selain itu para dosen di setiap kelas memberikan peringatan pada setiap mahasiswa agar berhati-hati dalam menggunakan media sosial.

"Karena di kelas dosen bukan hanya memberikan kuliah, tapi dosen juga memberikan sisipan-sisipan soft skill tentang berbagai hal termasuk juga masalah media sosial tadi. Insya Allah semuanya akan berjalan lancar," kata pria yang menempuh program setara S2 di École Centrale Paris, Perancis tersebut.

Guru Besar Teknik Industri ITB ini meminta kepada mahasiswanya untuk ikut bersama-sama melakukan 'siskamling’ di media sosial dengan berpedoman tujuan negara yang ada di dalam pembukaan UUD 1945. Di mana tujuan negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, melindungi tumpah darah dan segenap warganya juga menciptakan perdamaian dunia.[wid]
 

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

UPDATE

JK Menjelma Imam Besar Bagi Kelompok di Luar Kekuasaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:17

KPK Benarkan Panggil Pengusaha Rokok Haji Her, Tapi Mangkir dari Pemeriksaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:02

Komisi X DPR Tekankan Kesejahteraan Guru dalam Revisi RUU Sisdiknas

Rabu, 08 April 2026 | 10:00

Iran Sebut Trump Setuju Penuhi 10 Syarat Gencatan Senjata

Rabu, 08 April 2026 | 09:56

IHSG Balik ke Level 7.000-an, Rupiah Menguat Usai Tersungkur ke Rekor Terendah

Rabu, 08 April 2026 | 09:54

Akselerasi Penyehatan, Adhi Karya Lakukan "Bersih-Bersih" Neraca

Rabu, 08 April 2026 | 09:40

Manuver JK Tak Perlu Dikhawatirkan

Rabu, 08 April 2026 | 09:33

Imparsial: Sudah Mendesak Dilakukan Revisi UU Peradilan Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:32

Berkas Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Dilimpahkan ke Oditurat Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:21

KPK Soroti Dugaan Aliran Fasilitas ke Faisal Assegaf

Rabu, 08 April 2026 | 09:04

Selengkapnya