Berita

Publika

Agama Untuk NKRI

SABTU, 10 FEBRUARI 2018 | 08:45 WIB | OLEH: SUDARNOTO A HAKIM

PERHELATAN "Musawarah  Besar Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa" yang diselenggarakan oleh Unit Kerja Presiden (UKP) untuk Dialog Dan Kerjasama Antar  Agama dan Peradaban dari tanggal 8-10 Februari 2018 sangat penting.

Tujuh isu utama yang dibahas selama perhelatan memperoleh momentumnya yang pas. Di antara topik strategis yang menjadi perhatian adalah terkait dengan pandangan dan sikap umat beragama tentang NKRI yang berdasarkan Pancasila.

Topik ini mengesankan kuat bahwa para pemuka agama  melalui Mubes ini ingin menegaskan bahwa agama menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa dan menegakkan NKRI berdasarkan Pancasila. Sikap dan pandangan ini sekaligus menunjukkan bahwa para pemuka agama-agama menolak pandangan sekular (sekularisme) yang menegaskan bahwa agama tidak ada kaitannya dengan politik. Diyakini dengan kuat bahwa agama bukanlah merupakan faktor pemecah. Agama justru menjadi integrating factor dan berkontribusi besar dalam menumbuhkan dan memperkokoh nasionalisme.


Hal ini dengan sangat gamblang bisa digali dalam sejarah perjalanan dan perjuangan kebangsaan kita. Dari semenjak perjuangan fisik melawan penjajahan untuk meraih kemerdekaan hingga saat merumuskan dasar atau ideologi bangsa yaitu Pancasila nilai nilai luhur agama telah sangat kuat menjiwai. Berjuang menegakkan keadilan, membela kemanusiaan dari kesewenang-wenangan, menjunjung tinggi martabat dan kedaulatan yang ditunjukkan selama perjuangan fisik adalah perintah agama. Begitu juga nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila adalah nilai-nilai esensial dari agama agama. Karena itu,  tidak ada sedikitpun alasan yang bisa diterima untuk menjadikan Indonesia sebagai negara dan bangsa sekular. Indonesia adalah bangsa yang relijius di mana agama-agama secara bersama sama menjadi bagian penting.

Meskipun demikian para pemuka agama juga ingin menegaskan bahwa Indonesia bukanlah dan tidak akan pernah menjadi Negara Agama. Menjadikan Pancasila sebagai ideologi bangsa adalah sudah jauh dari cukup, tidak diperlukan ideologi lain termasuk ideologi agama sebagai tandingan atau alternatif. Karena itu upaya-upaya untuk menggantikan Pancasila  adalah sebuah political betrayal yang tidak bisa dimaafkan. Yang justru harus dipejuangkan adalah mempertahankan dan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, dalam mengelola dan menyelenggarakan pemerintahan,  dalam membangun tradisi politik dan dalam menegakkan hukum.

Terkait dengan itu maka tidaklah berlebihan untuk dinyatakan bahwa tugas konstitusional dan ideologis seluruh elemen masyarakat adalah menjaga Dan merawat Pancasila antara lain dengan, pertama, memperkokoh, mengembangkan dan menggembirakan terimplementasikannya ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari;  meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Tidak ada tempat bagi paham ateisme di Indonesia.

Kedua, menjaga dan menghormati agama dan penganut agama yang lain, tidak menista atau merendahkan agama dan penganut agama lain. Ketiga, membangun kerukunan antar umat beragama.

Demokrasi dan Pemerintah

Uraian di  atas sekaligus menegaskan bahwa agama menjadi sumber yang sangat penting dalam upaya membangun demokrasi yang kuat, baik demokrasi prosedural maupun demokrasi esensial.

Demokrasi Indonesia seharusnya demokrasi yang menjunjung tinggi kejujuran dan kemuliaan,  bukan demokrasi yang melahirkan dan menyebabkan kemunkaran, penipuan, saling mencerca,  diskriminasi dan korupsi. Demokrasi Indonesia adalah demokrasi yang menjadikan nilai nilai luhur agama sebagai sumber dan mendorong lahirnya kesejahteraan, keadilan, kedamaian, kemaslahatan dan kemajuan 

Hal ini  akan melahirkan sebuah kepemimpinan national dan pemerintahan yang legitimate secara politik, hukum dan moral agama. Agama sangatlah berkepentingan sekali dan memberikan dukungan kepada pemerintah hasil pemilu yang diselenggarakan dengan Jurdil, demokratis yang dengan sungguh-sungguh dikelola secara transparan untuk kepentingan bersama.

Semua tindakan yang menggerogoti/koruptif tidaklah sekadar bertentangan atau melawan hukum dan kemanusiaan, akan tetapi juga mengkhianati Tuhan dan agama. Kembali agama menempati posisi yang sangat penting untuk menciptakan kepemimpinan politik yang kuat dan mulia.​ [***]

Penulis adalah cendekiawan muslim, Dewan Pakar Kornas Fokal IMM dan Wakil Ketua Majelis Dikti PP Muhammadiyah​

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Bursa Asia Awali November di Zona Merah

Senin, 02 November 2026 | 08:21

Laba Samindo Resources Melonjak 53 Persen, Efisiensi Biaya Jadi Penopang

Senin, 02 November 2026 | 07:55

Jet Pribadi Jatuh dan Meledak Dekat Permukiman, Sembilan Orang Tewas

Senin, 02 November 2026 | 07:40

Dituding Manipulasi Suara, Ketua KPU India Didesak Mundur

Senin, 02 November 2026 | 07:20

OJK: Tak Ada Dua Sanksi untuk Satu Pelanggaran di Pasar Modal

Senin, 02 November 2026 | 07:06

Polda Metro Tak Cukup Minta Maaf soal “Mahasewa Bayaran”

Senin, 02 November 2026 | 06:40

Kelurahan Berperan Besar Menuju Jakarta Kota Global

Senin, 02 November 2026 | 06:36

Potensi Pasar Asuransi Syariah RI Masih Besar

Senin, 02 November 2026 | 06:00

PPP NTB Protes Mardiono Asal Pecat Pengurus

Senin, 02 November 2026 | 05:39

Ketika Syarat Konstitusional Wapres Dipersoalkan

Senin, 02 November 2026 | 05:26

Selengkapnya