Berita

Jokowi/net

Publika

Sirine Membusuknya Peradaban Bangsa Indonesia

RABU, 07 FEBRUARI 2018 | 22:08 WIB | OLEH: HARIS RUSLY MOTI

KAMI terhentak, kaget, ketika menonton sebuah video perilaku seorang Kepala Negara yang memperlakukan rakyatnya persis seperti binatang. Video itu dengan bangga diposting oleh Ketua Umum salah satu partai Islam di akun twitternya.


Dalam video yang di-viralkan di sejumlah media sosial itu, si Kepala Negara yang terkenal dengan jargon revolusi mental itu, menebar atau melemparkan bingkisan dari dalam mobil dinasnya yang sedang berjalan melewati jalanan.

Di luar mobil yang ditumpangi si Kepala Negara itu, rakyat miskin yang berjejeran di pinggir jalan, terlihat berebut bingkisan yang ditebar atau dilemparkan oleh si Kepala Negara dari dalam mobil. Persis seperti binatang, ayam atau kucing, yang berebut makanan yang ditebar atau dilemparkan di atas tanah atau lantai.

Tak ada alasan bagi setiap pejabat negara dalam memperlakukan rakyat layaknya binatang seperti itu. Jika terkendala protokuler, tak bisa menyalami dan memberi langsung bingkisan tersebut kepada rakyat, sebaiknya tak usah membagi bingkisan dengan menebar dan melempar seperti itu.

Bagi seorang pejabat yang mempunyai pengetahuan dan perasaan yang dalam tentang nilai-nilai dan adat istiadat, pasti perasaannya tak akan tega memperlakukan rakyat seperti itu. Walaupun rakyatnya terlihat gembira dan berebutan bingkisan yang ditebar tersebut, tetap cara seperti itu sangat tidak beradab, tidak manusia.

Kita lebih baik memilih untuk tidak memberi sesuatu kepada orang lain, daripada memberi sesuatu tapi dengan cara yang sangat tidak beradab, bahkan menghinakan martabatnya sebagai manusia, makhluk yang paling istimewa di mata Tuhan, bahkan lebih istimewa dari para malaikat.

Kita lebih baik memilih untuk tidak memberi sesuatu kepada orang lain, daripada memberi sesuatu tapi dengan cara yang sangat tidak beradab, bahkan menghinakan martabatnya sebagai manusia, makhluk yang paling istimewa di mata Tuhan, bahkan lebih istimewa dari para malaikat.

Peristiwa tersebut dalam penilaian kami sangat penting dan menjadi cermin atau puncak gunung es dari peradaban bangsa Indonesia yang sedang membusuk menjadi bangkai.

Banyak faktor dapat dijabarkan untuk menjelaskan terkait membusuknya peradaban bangsa Indonesia saat ini, namun yang paling mendasar adalah fakta perilaku Kepala Negara yang tidak beradab dalam memperlakukan rakyatnya sendiri, menghinakan martabat manusia Indonesia.

Bayangkan, seorang pemimpin negara yang seharusnya menjadi teladan dalam memanusiakan manusia, bertanggungjawab menciptakan sistem negara yang dapat mewujudkan nilai nilai kemanusiaan di bumi Indonesia, justru demi pencitraan bertindak memperlakukan rakyat nya tak ubah nya binatang.

Bukankah peri kemanusian yang menjadi prinsip dasar di daam Pancasila, adalah sebuah rasa kemanusian. Sebuah rasa kemanusian tidak ditujukan semata untuk manusia dan umat manusia, tapi juga kepada seluruh alam semesta, rasa kemanusian ditujukan baik kepada binatang maupun tumbuhan.

Bercermin dari perilaku si Kepala Negara yang sangat tidak beradab di atas, maka Kartu Kuning dari Ketua BEM UI, Muhammad Zaadit Taaqwa, dapat ditangkap sebagai pesan sirine peringatan tentang peradaban bangsa Indonesia yang telah menjadi bangkai dan membusuk.

Kartu kuning tersebut ibarat peringatan keras dari Eyang Semar Ismoyo Jati kepada Petruk yang telah menyimpang dari kepatutannya, lupa diri, lupa daratan, yang sangat membahayakan masa depan peradaban bangsa Indonesia. Kartu kuning tersebut adalah pertanda Eyang Semar telah turun gunung.

Penutup, saatnya mahasiswa dan pemuda bergerak dan membangun perdebatan intelektual yang beradab tentang situasi peradaban bangsa yang telah menjadi bangkai dan membusuk. Katakan tidak kepada kekonyolan pencitraan dan nyinyiran tidak beradab di media sosial yang menambah makin membusuknya peradaban bangsa Indonesia. [***]

Haris Rusly
Petisi 28 dan Pusat Pengkajian Nusantara Pasifik (PPNP)

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Dua Nama Hilang dari Daftar Calon BPK

Kamis, 10 September 2026 | 00:17

UAG Perkuat Sekolah Rakyat dan Talenta Halal Nasional

Kamis, 10 September 2026 | 00:06

Langkah Berani Gubernur Sultra Tertibkan Aset Usik Zona Nyaman Oknum Tertentu

Rabu, 09 September 2026 | 23:52

DPRD DKI Dukung Perluas Program Pendidikan bagi Santri Perkotaan

Rabu, 09 September 2026 | 23:32

Salat Istisqa Digelar di Lahat, Bursah Zarnubi Mohon Hujan segera Turun Merata

Rabu, 09 September 2026 | 23:22

DPR Dorong Pembangunan dari Desa Lewat Rakernas AKSI

Rabu, 09 September 2026 | 23:20

Rosan Roeslani Masuk Dua Besar Menteri Berkinerja Terbaik

Rabu, 09 September 2026 | 23:00

DPR: Kalau Ada Laporan Masyarakat, Polri Tak Perlu Ragu

Rabu, 09 September 2026 | 22:59

Jangan Sampai Indonesia jadi Sasaran Empuk Jaringan Narkoba Internasional

Rabu, 09 September 2026 | 22:45

Mantan Napi KDRT Diduga Kriminalisasi Istri Lewat Kesaksian Palsu ART

Rabu, 09 September 2026 | 22:31

Selengkapnya