Berita

Foto/Net

Hukum

Kejahatan Seksual Terhadap Anak-anak Semakin Parah Lho

MINGGU, 04 FEBRUARI 2018 | 11:11 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Angka kasus kejahatan sek­sual terhadap anak kembali meningkat. Bahkan tidak hanya anak perempuan, anak laki-laki pun berpotensi men­jadi korban. Apalagi, bela­kangan jumlah anak laki-laki yang menjadi korban kejahatan seksual semakin banyak.

Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Abdul Haris Semendawai mengatakan, dalam kasus ke­jahatan seksual terhadap anak, seorang pelaku bisa membuat banyak korban.

Fenomena ini menunjukkan peristiwa tersebut terjadi secara berulang. Contoh pada kasus di Tangerang dengan pelaku W alias Babe, yang korbannya mencapai 43 orang. Kemudian di Jakarta Timur yang korban­nya berjumlah 16 orang.


Dari pemberitaan di media massa, untuk bulan Januari saja, jumlah anak korban kejahatan seksual bisa lebih dari 100 orang yang terse­bar di beberapa daerah. "Itu yang terpantau. Masih banyak kasus-kasus lainnya. Makin banyak anak yang menjadi korban. Rata-rata mereka takut untuk melaporkan kejadian yang menimpanya," katanya di Jakarta.

Selain takut, kesulitan dalam pengungkapan tindak pidana kekerasan seksual anak juga disebabkan orang tua yang tidak mendukung anaknya mengungkap kejadian yang dialaminya, sulitnya pembuk­tian, kurangnya keberpihakan penyidik terhadap korban, rasa malu pada diri korban, trauma dan kurangnya dukun­gan dari lingkungan di sekitar korban.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Susanto, menuturkan angka kasus kejahatan seksual pada 2015 sangat tinggi. Kemudian menurun pada tahun 2016 dan turun drastis pada 2017. "Tahun 2018 kelihatannya naik drastis. Januari saja lebih dari puluhan kasus yang terpantau," ujarnya.

Adapun motif dari kasus kekerasan seksual ini ada beberapa hal. Mulai dari fak­tor ekonomi, dendam mau­pun dorongan seksual tinggi. Sedangkan jika berbicara men­genai ciri-ciri pelaku, maka sulit untuk mendeteksinya.

"Dari kajian KPAI, tidak ada ciri khusus pelaku sek­sual anak, baik dari warna kulit, pendidikan atau profesi. Yang bisa kita lakukan adalah memantau anak-anak kita, dimana pun, kapan pun," tandasnya.

Psikolog Kassandra Putranto menyebutkan, kasus kejahatan seksual terhadap anak bagai fenomena gunung es. Yang tampak hanya bagian puncaknya saja, sedangkan di bawahnya sulit terdeteksi. ***

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Merawat Tradisi Intelektual Mahasiswa Lewat Peluncuran Buku Pergerakan

Senin, 06 Juli 2026 | 03:59

Demokrasi Liberal dan Benteng Oligarki

Senin, 06 Juli 2026 | 03:43

ICX Realisasikan Buyback Rp71 Miliar Perkuat Sistem Tata Kelola

Senin, 06 Juli 2026 | 03:20

Polresta Bandara Soetta Bongkar Home Industry Vape Isi Ganja Beromzet Miliaran

Senin, 06 Juli 2026 | 02:59

Manifesto AJIP Bali: Ketika Pariwisata Kehilangan Arah

Senin, 06 Juli 2026 | 02:35

Perpres 111/2025 soal LGBT Ancaman Nirmiliter jadi Langkah Preventif Terukur

Senin, 06 Juli 2026 | 02:12

Nyali Semesta: Ali Khamenei dan Puncak Kepemimpinan Transendental

Senin, 06 Juli 2026 | 01:57

UMKM dan Budaya Minangkabau Bergaung di Malaysia

Senin, 06 Juli 2026 | 01:40

Jaksa telah Berubah Menjadi Pengacara Jokowi

Senin, 06 Juli 2026 | 01:20

Aiptu Sumaryanto jadi Korban Ketiga yang Gugur saat Gerebek Bandar Narkoba di Katingan

Senin, 06 Juli 2026 | 00:59

Selengkapnya