Berita

Publika

Memperbaiki Sistem Pemilihan

SABTU, 03 FEBRUARI 2018 | 08:05 WIB

PENGAJARAN empati dan solidaritas berbuah praktek pemberian kartu kuning oleh Ketua BEM UI kepada pemerintah di depan sidang terbuka Senat Guru Besar.

Bermula dari bekal gagasan tidak terima pada penduduk suku Asmat yang meninggal, kelaparan, dan terjangkit wabah campak. Sebuah anti tesis terhadap pengumuman keberhasilan pemerintah mencapai swasembada pangan untuk komoditas beras, jagung, dan kedelai.

Tidak menerima kenyataan tentang masih adanya daerah terisolasi pasca pelaporan peresmian pembukaan ribuan kilometer jalan perbatasan penghubung pegunungan di Papua tahun kemarin. Tidak cocok terhadap prioritas pemerintah dalam memilih keputusan ekonomi politik strategis. Tidak terima terhadap efektivitas dan efisiensi sistem penggunaan dana otonomi khusus dan dana alokasi khusus yang bocor. Masih sejuta alasan bagaikan bentuk puncak gunung es. Jiwa muda memberontak mengemuka dalam bentuk kartu kuning. Hanya buku warna kuning yang tersedia untuk dijadikan simbol kartu kuning.
    

    
Terbangun rasa ikut memiliki, sekalipun bukanlah pemegang hak kepemilikan atas merah putih kinerja negara ini, namun sulit berdamai dalam mengukur kinerja. Tidak pernah diajak berbicara sambung rasa personal dalam mengukur kinerja. Akibatnya adalah berbuahkan kartu kuning.

Simbol kartu bukanlah yang pertama kali disuarakan mahasiswa sekalipun pemerintah telah berganti-ganti periode kepemimpinan. Spanduk, teaterikal, membakar foto, keranda jenazah, kerbau, dan seterusnya senantiasa dimanfaatkan sebagai simbol ketidakcocokan dalam mengukur kinerja pemerintah.

Pemerintah sesungguhnya telah berusaha memperbaiki penampilan secara bertahap. Misalnya, untuk memperbaiki kesan percaya diri di awal setengah tahun pertama menjabat pun, pemerintah pada tahun keempat kemudian tampil di istana Afghanistan. Istana yang berada di lingkungan radius jauh dari perang saudara yang masih bergejolak.

Akan tetapi desain Undang-Undang dalam memilih Kepala Pemerintahan ternyata hanya menghasilkan dua calon. Kemudian simbol negara yang tampil terkesankan bukanlah idola. Bukanlah yang diidam-idamkan oleh para kritikus vokal. Vokalis yang punya kartu kuning, merah, bahkan bisa  kartu hitam.

Ambang batas minimum untuk layak maju sebagai calon pemerintah masih menghasilkan ketidakpuasan vokalis. Berbagai rintangan yang digunakan untuk memilih pemerintah masih saja menghasilkan simbol kartu kuning.

Meskipun demikian, maksud rencana menggunakan kekerasan hati besi tidaklah perlu melupakan desain kepemimpinan wayang kulit Babad Tanah Jawa hasil gubahan Kanjeng Sunan Kalijaga. Semar menjadi pengasuh Pandawa, Togog mengasuh Kurawa, Sang Hyang Guru memimpin jagad, dan Sang Hyang Wenang memimpin alam semesta.

Akulturasi budaya Babad Tanah Jawa tersebut menghendaki model kepemimpinan Tut Wuri Handayani. Desain model pemilihan pemerintahan itu kini bersaing dengan aspirasi tradisi Pencerahan, deglobalisasi sains dan teknologi, serta aspirasi praktek pemurnian agama.***

Dr. Ir. Sugiyono, MSi.

Peneliti INDEF, Dosen Pascasarjana Universitas Mercu Buana, dan Tenaga Ahli Anggota DPR RI

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK-PPATK Diminta Pastikan Harta AHY dan Ibas dari Sumber Halal

Senin, 06 Juli 2026 | 17:38

KPK Dikabarkan Kembali Gelar OTT di Sumut

Kamis, 02 Juli 2026 | 20:50

UPDATE

Uang Tunai Rp476 Miliar, Emas Batangan, Dokumen dan Foto Keluarga Disita dari Rumah di Sentul

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:24

Beredar Kabar Mantan Sekjen MPR Maruf Cahyono Hari Ini Ditahan

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:15

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Audit BPK Pemkab Muara Enim

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:11

ASN PPPK Layak Peroleh Jaminan Pensiun

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:09

Koruptor Berkedok Penegak Hukum Pengkhianat Terbesar Bangsa

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:07

Tanya Seputar Jaksa

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:00

Respons Santai Usulan Jawa Barat jadi Tatar Sunda, DPR: Fokus Kerja Sajalah!

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:57

MPR dan MK Sepakat Tak Saling Intervensi Kewenangan Lembaga

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:41

Masih Digodok DPR, Publik Diminta Tak Khawatir Usulan Kenaikan BPIH 2027

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:31

KPK Sita 12 Ribu Dolar Singapura dari Ketua DPRD Kuansing

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:22

Selengkapnya