Pemimpin oposisi Rusia AlexÂei Navalny dibebaskan sebelum 24 jam, setelah ditahan polisi daÂlam unjuk rasa menolak pemilu 18 Maret. Pesta demokrasi ini dianggap bakal memperpanjang masa jabatan Vladimir Putin di Kremlin.
"Saya bebas," tulis Navalny di Twitter pada Minggu malam (28/1).
"Hari ini merupakan hari yang penting Terima kasih keÂpada semua yang tidak takut memperjuangkan hak mereka," sambungnya.
Ribuan orang menerjang suhu dingin untuk mengikuti aksi unjuk rasa di belasan kota Rusia untuk memprotes apa yang disebut Navalny dan pendukungÂnya sebagai "pemilu semu" yang akan datang.
"Ini bukan pemilihan karena kami sudah tahu hasilnya," kata Elena Ruzhe (62) kepada
AFP di Moskow. "Saya tidak takut memprotes," kata bekas pegawai kementerian kebudayaan itu.
Di kota Yekaterinburg, seribu orang berunjuk rasa, termasuk wali kotanya. "Apa yang ditawarkan kepada kita bukan pemilu," kata wali kota Yevgeny Roizman kepada pengunÂjuk rasa.
Di Moskow, Navalny menÂeriakkan "penipu dan pencuri" dalam demonstrasi di pusat kota pada Minggu. Kemudian, beberapa polisi membekuknya dan menyeret dia ke sebuah bus. Menurut polisi, Navalny ditahan karena merencanakan protes tanpa izin.
Kantor berita Rusia, RIA NoÂvosti, pada awal pekan lalu memberitakan, para pendukung Navalny telah mengajukan perÂmohonan ke Pemerintah Kota Praja Moskow mengenai penyeÂlenggaraan protes pada Minggu yang melibatkan 15.000 orang di pusat kota Moskow, tapi beÂlakangan permohonan tersebut ditolak.
Mahkamah Agung Rusia melarang Navalnya ikut dalam pemilihan presiden 2018 karena dia dituduh melakukan pengÂgelarapan di satu perusahaan kayu. ***