Berita

Gamawan Fauzi/Net

Hukum

Pengacara: Dua Saksi Sebut Proyek KTP-el Tidak Ada Pengaruh Setnov

SELASA, 30 JANUARI 2018 | 08:49 WIB | LAPORAN:

Salah satu fakta penting yang menyebabkan proyek kartu tanda penduduk eletronik (KTP-el) dianggap bermasalah hingga kini adalah anggaran.

Proyek ini awalnya dibiayai oleh dana hibah dari luar negeri. Namun dalam perkembangannya, pembiayaan proyek ini akhirnya berasal dari APBN.

Kuasa hukum Setya Novanto, Firman Wijaya kembali mengingatkan kesaksian Mendagri 2009-2014, Gamawan Fauzi dan mantan Sekjen Kemendagri Diah Anggraini dalam sidang kasus KTP-el di Pengadilan Tipikor, Jakarta, kemarin (Senin, 29/1), yang menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui alasan perubahan anggaran proyek KTP-el dari dana hibah luar negeri menjadi APBN murni.


Sementara alasan dana Rp 1,4 triliun tidak dicairkan, Gamawan menjelaskan hal itu lantaran ada pekerjaan yang belum dilakukan dan diselesaikan pada akhir tahun 2011 awal.

"Jadi bukan karena pengaruh Setya Novanto," ucap Gamawan dalam sidang.

Gamawan dalam kesaksiannya juga tidak tahu adanya perubahan anggaran yang 'katanya' dilakukan oleh kaki tangan Setya Novanto. Malahan, penyelesaian proyek KTP-el telah dilaporkan Gamawan selaku ketua harian proyek kepada Presiden SBY, Wakil Presiden Budiono, dan semua menteri, kala itu, melalui presentasi.

Dalam laporan tersebut, sempat muncul masalah lantaran pihak Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) yang saat itu dipimpin oleh Agus Rahardjo, meminta agar proyek e-KTP dipecah. Sementara Gamawan keberatan karena sifat pekerjaannya menyangkut teknologi tinggi.

"Sepanjang saksi Gamawan Fauzi menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri, dirinya mengaku tidak pernah ada kegiatan khusus antara menteri dengan ketua fraksi," ujar Firman dalam keterangannya.

Gamawan juga menegaskan tidak tahu adanya kerugian negara dalam proyek KTP-el karena sudah diaudit oleh BPK dan BPKP.

"Bahkan saksi sudah hati-hati dengan presentasi kepada KPK mengenai tender e-KTP," tambah Firman.[wid]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Siswa Sekolah Rakyat akan Dilatih 1.000 Taruna Akmil

Minggu, 05 Juli 2026 | 18:21

Jokowi Pilih Lampung sebagai Awal Safari karena Tanah Tak Bertuan

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:41

OTT Bupati Langkat Temukan 55 Keping Platinum Senilai Rp40 Miliar Lebih

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:16

Hampir 3.000 Orang Tewas, Venezuela Mulai Hentikan Operasi Pencarian Korban Gempa

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:07

Komedian Narji Bikin Khitanan Massal PSI Diserbu Anak-Anak

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:52

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Absen di Pemakaman Ayahnya

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:26

Sudah Ada Perpres, Pakar: Promosi LGBT di Medsos Bisa Berujung Pengadilan

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:13

PM Singapura Dijadwalkan Bertemu Presiden Prabowo Besok

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:08

Pemerintah Perkuat Literasi Siber Antisipasi Ancaman AI dan Hoaks

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:01

Daftar Lengkap 16 Negara yang Lolos ke Babak 16 Besar

Minggu, 05 Juli 2026 | 15:55

Selengkapnya