Berita

Nasaruddin Umar/Net

Mengenal Inklusifisme Islam Indonesia (2)

Apa Itu Islam Radikal?

SENIN, 29 JANUARI 2018 | 10:03 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

ISLAM radikal dalam da­sawarsa terakhir menjadi sebuah istilah yang inter­changeable dengan kel­ompok teroris yang meng­gunakan baju Islam. Dalam literatur berbahasa Inggeris Islam radikal dijadikan istilah bagi sekelompok orang yang berusaha memperjuangkan idealism dan ideologi dengan cara-cara kek­erasan, termasuk menggunakan cara-cara bunuh diri.

Siapa sesungguhnya kelompok radikal ini? Hal ini perlu clear. Ia bagaikan pedang bermata dua. Mengelompokkan seseorang atau kelom­pok sebagai kelompok radikal sama bahayanya jika menafikan adanya kelompok radikal itu. Setiap kelompok radikal pada setiap negara memiliki ciri dan kecenderungannya masing-masing. Di kawasan Asia Tenggara, secara umum kelompok radikal dapat diidentifikasi ciri-cirinya, antara lain mengharamkan sesuatu pada diri dan orang lain padahal Allah Swt dan Rasul-Nya tidak pernah mengharamkan hal itu, misalnya menghadiri walimah atau acara yang dilakukan di luar kelompoknya; berlebihan di dalam memaknai ayat dan hadis yang pada hakekatnya tidak sejalan dengan tujuan umum syari'ah (maqashid al-syari'ah), seperti melaku­kan perjalanan jihad dengan menelantarkan keluarganya.

Mereka meninggalkan sesuatu yang belum tentu haram dan mengharamkan kepada diri dan orang lain dengan anggapan pilihan sikap itu paling sejalan dengan Al-Qur'an dan sunnah. Mereka tidak segan-segan menghina aliran dan mazhab yang dianut orang yang berbeda pendapat dengannya sebagai aliran sesat. Mereka mengambil sikap berlebihan kepada orang lain yang berbeda dengan pendapatnya, misalnya menuduh orang lain sebagai ahli bid’ah dan mengklaim diri sebagai ahli sunnah sejati, bahkan tidak segan-segan mengkafirkan dan menghalalkan darah orang lain.


Ciri lainnya mereka menganggap orang lain sebagai kelompok jahiliah modern, yang tak layak diikuti. Mereka mengharamkan ber­makmun kepada orang yang berada di luar kelompoknya dan menganggap sia-sia shalat di belakang orang yang fasiq. Mereka juga menuduh ulama yang tidak sejalan dengan­nya sebagai ulama sesat (ulama' al-su') dan melecehkannya secara terbuka. Mereka selalu memisahkan diri dengan umat Islam yang tidak sejalan dengannya di dalam melakukan berba­gai aktifitas, termasuk ibadah shalat berjamaah. Mereka tidak mau berpartisipasi dalam gagasan yang dirintis atau diprakarsai oleh kelompok lain yang bukan kelompoknya.

Mereka sering melakukan interpretasi dalil agama sesuai dengan ideologinya, tidak peduli itu kontroversi di kalangan umat mayoritas. Mereka tidak takut dan terbiasa hidup di dalam perbedaan dan keterasingan dengan umat mainstream.

Mereka bisa saja memotong ayat atau hadis untuk mengambil dasar pembenaran terhadap ajarannya, misalnya ayat-ayat jihad di ambil pertengahan atau potongan yang mendukung perjuangannya, seperti "…maka bunuhlah orang-orang musyrikin (non-muslim) itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. ….." Potongan ayat ini di ambil dari pertenga­han Q.S. al-Taubah [9]: 5. Mereka juga sering mengabaikan sabab nuzul ayat dan sabab wurud hadis demi untuk memokuskan makna ayat kepada ajarannya. Mungkin saja ayat atau hadis itu menunjuk kepada satu kasus yang yang sangat specific tetapi diperlakukan secara gen­eral, contohnya: "Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka…."  (Q.S. al-Baqarah [2]:191). Ayat ini turun sebagai direction dalam salahsatu peperangan Nabi di Madinah.

Di dalam melakukan dakwahnya mereka selalu menyampaikannya secara eksklusif dan terang-terangan tanpa rasa takut atau canggung. Mereka tidak takut dengan segala resiko karena sangat yakin Tuhan selalu ber­samanya dan merestui perjuangannya. Mereka juga pintar mencari simpati dan perhatian masyarakat umum dengan menampilkan ses­uatu yang berbeda dengan mayoritas. Mereka selalu berusaha mengambil alih rumah ibadah dengan berbagai cara dari tangan orang lain, karena cara ini dianggap paling efisien dan efektif. Mereka juga solid di dalam mengumpulkan dana untuk mendanai seluruh kegiatannya. Umumnya mereka memiliki sumber dana rutin dan tetap dari para anggotanya, dan sesekali mendapatkan bantuan dana dari luar.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Irjen Slamet Uliandi Tersangka Keempat Kasus Penyadapan Telepon Prabowo

Jumat, 06 November 2026 | 02:03

Dzulfikar dan Fuji Abdul Tekankan Intelektualisme Pemuda untuk Pengabdian Bangsa

Jumat, 06 November 2026 | 01:31

Pramono Bertahap Menata Parkir Liar hingga Fasilitas Tanah Abang

Jumat, 06 November 2026 | 01:17

Kalau Hasil Labfor Polri Diragukan, Siapa Lagi yang Mau Dipegang?

Jumat, 06 November 2026 | 01:05

Menjaga Riau dari Ancaman Karhutla Lewat Mitigasi Berkelanjutan

Jumat, 06 November 2026 | 00:32

PPKK Perkuat Pengamanan Kawasan Kemayoran

Jumat, 06 November 2026 | 00:17

Tunjukkan Ijazah di Pengadilan Belum Tentu Akhiri Polemik

Jumat, 06 November 2026 | 00:08

Listyo Sigit Cs Pakai Mesin Sadap Seharga Rp212 Miliar

Kamis, 05 November 2026 | 23:39

Gratis Masuk Ancol Bulan November, Cek Caranya

Kamis, 05 November 2026 | 23:12

Jokowi Menolak Ijazah Diuji Ulang, Pengamat: Apa karena Kapolri sudah Diganti?

Kamis, 05 November 2026 | 23:01

Selengkapnya