Berita

Foto/Net

Hukum

Berantas Narkoba Di Laut, BNN Minta Pesawat

SABTU, 27 JANUARI 2018 | 12:49 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN), Inspektur Jenderal Arman Depari mengatakan bahwa saat ini lebih dari 80 persen penyelundupan narko­tika ke Indonesia melalui jalur laut. Namun, institusinya tak bisa berbuat banyak dalam mengatasi masalah tersebut lantaran tidak memiliki kapal atau pesawat patroli.

"Kita juga sebenarnya su­dah berkali-kali mengusulkan pengadaan peralatan macam itu. Kita juga nggak perlu kapal standar tempur, kapal penge­jaran sudah cukup. Begitu juga dengan heli, ini untuk pengawasan di pantai, dan pe­sawat ringan seperti jenis cesna juga sangat kita perlukan," kata Arman di kantor BNN, Cawang, Jakarta, kemarin.

Arman kemudian mengungkapkan, BNN sejatinya sudah seharusnya memiliki fasilitas dan sarana seperti BNN-nya Kolombia. Apalagi Presiden Joko Widodo juga telah memukul genderang perang melawan narkoba.


"Di Colombia itu, mereka satuan anti narkotika punya 154 pesawat khusus untuk mengawasi narkoba. Terdiri dari pesawat angkut dan juga pesawat patroli dan juga mereka memiliki 4 Black Hock itu adalah Heli tercanggih di dunia saat ini,"  ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, jika berkaca dari luasnya wilayah yang dimiliki Indonesia, jumlah pegawai BNN juga seharusnya ditambah agar bisa disebar secara merata ke selu­ruh penjuru pelosok negeri. Pasalnya, jumlah pegawai BNN saat ini masih jauh dari standar yang dibutuhkan.

"Seharusnya Indonesia memiliki 65 ribu personil, namun kini BNN baru memi­liki lima ribu personil. Baik itu yang menempati BNN pusat, BNN provinsi, BNN Kabupaten, BNN kota," pa­parnya.

Terungkapnya kasus penye­lundupan narkotika di Aceh Timur beberapa waktu lalu, menurut Arman, merupakan salah saru contoh penting­nya pengetatan pengawasan dan penjagaan di perairan Indonesia. Apalagi, pengung­kapan kasus penyeludupan narkoba melalui jalut laut seperti di Aceh itu, di mana empat orang ditetapkan se­bagai tersangka dengan total sabu yang diungkap mencapai 250 kg, bukan untuk yang pertama.

"Penyelundupan ini ter­jadi karena memang tidak ada pengawasan di jalur laut. Bukan hanya kurang tapi tidak ada pengawasan dan di situ banyak sekali pelabu­han-pelabuhan ilegal. Entah tikus atau namanya yang jelas pelabuhan itu ilegal," paparnya.

Dengan berkaca dari kondisi ini, Arman berharap, sejumlah institusi negara bisa serius untuk saling bersinergi dalam mencegah penyelundupan tersebut. Sebab, meski selama ini segala hal yang berkaitan dengan narkoba hanya diserahkan ke BNN, namun in­stitusi yang dipimpin Budi Waseso ini tidak bisa melaku­kan penanganan peredaran narkoba di kawasan laut karena terkendala fasilitas.

"Inilah saatnya institusi negara terkait masalah ini bisa saling bersinergi. Karena kalau diserahkan ke BNN semua, BNN kapal aja nggak punya, bagaimana? Jadi jangan dilihat ini kerjaan BNN. Narkotika ini sudah jadi tanggung jawab kita bersama. Kita kan pu­nya Kementerian Kelautan dan koordinator di situ ada Bakamla, (TNI) Angkatan Laut, ada TNI, ada Polri, ada Bea Cukai. Mari kita bersinergi," tandasnya.

Arman kemudian mengingatkan, daerah seperti pantai Timur Sumatera dari Aceh hingga Lampung, dan Kepri adalah daerah yang paling rawan disusupi penyelundup narkoba. Begitu juga dengan daerah sekitar pantai Utara Selatan Kalimatan.

"Biasanya penyelundupan narkoba ini dari Penang Malaysia mengunakan speed both yang diantar oleh jaringan sindikat Malaysia kemudian di titik tertentu di selat malaka dijemput oleh sindikat dari Indonesia. Ini menjadi salah satu perha­tian kita mudah-mudahan komitmen kita dan instansi terkait dengan upaya yang kita lakukan ini bisa memutus suplay narkoba dari negara tetangga," ujarnya. ***

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Siswa Sekolah Rakyat akan Dilatih 1.000 Taruna Akmil

Minggu, 05 Juli 2026 | 18:21

Jokowi Pilih Lampung sebagai Awal Safari karena Tanah Tak Bertuan

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:41

OTT Bupati Langkat Temukan 55 Keping Platinum Senilai Rp40 Miliar Lebih

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:16

Hampir 3.000 Orang Tewas, Venezuela Mulai Hentikan Operasi Pencarian Korban Gempa

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:07

Komedian Narji Bikin Khitanan Massal PSI Diserbu Anak-Anak

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:52

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Absen di Pemakaman Ayahnya

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:26

Sudah Ada Perpres, Pakar: Promosi LGBT di Medsos Bisa Berujung Pengadilan

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:13

PM Singapura Dijadwalkan Bertemu Presiden Prabowo Besok

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:08

Pemerintah Perkuat Literasi Siber Antisipasi Ancaman AI dan Hoaks

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:01

Daftar Lengkap 16 Negara yang Lolos ke Babak 16 Besar

Minggu, 05 Juli 2026 | 15:55

Selengkapnya