Berita

Foto: Istimewa

Nusantara

Ini Empat Isu Keamanan Kawasan Krusial Menurut Menhan Ryamizard

JUMAT, 19 JANUARI 2018 | 09:18 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Ada empat isu krusial yang saat ini tengah dihadapi dunia dan berpotensi mengganggu keamanan kawasan dan wilayah.

Keempat isu itu adalah Korea Utara, perkembangan Laut Cina Selatan, isu trilateral pengamanan Laut Sulu dari potensi ancaman ISIS, serta perkembangan krisis Rohingya.

Begitu kata Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu saat menyampaikan Keynote Speak Dialog Raisina, India pekan ini seperti keterangan yang diterima redaksi (Jumat, 19/1).


"Saat ini dunia masih diwarnai dengan adanya empat isu aktual keamanan serius yang perlu mendapatkan perhatian kita bersama," jelasnya.

Dia menjabarkan, terkait isu ketegangan di semenanjung Korea, Menhan mengajak semua pihak untuk tidak terprovokasi dengan situasi yang justru dapat memicu eskalasi konflik.

"Marilah kita bersama -sama mengajak PBB untuk dapat mengambil langkah-langkah produktif untuk dapat lebih menekan Korea Utara agar dapat lebih menghormati hukum dan norma serta tatanan internasional," ucap Menhan.

Terkait situasi ketegangan Laut Cina Selatan, Menhan menilai saat ini sudah cenderung mereda dan membaik. Kondisi semacam ini perlu terus dipelihara. Indonesia juga memandang untuk mengapresiasi niat baik Tiongkok yang sudah membuka diri dan berkeinginan untuk bekerjasama dalam memperkuat arsitektur keamanan kawasan.

Diingatkan Menhan, ancaman yang sangat sangat nyata pada saat ini dan harus memerlukan perhatian dan tindakan bersama yang konkret dan serius adalah adalah ancaman bahaya terorisme dan radikalisme.

Ancaman terorisme dan radikalisme merupakan ancaman yang bersifat lintas negara dan memiliki jaringan serta kegiatan yang tersebar dan tertutup. Sehingga, dalam penanganannya sangat memerlukan penanganan kolektif dan tindakan bersama-sama melalui kolaborasi kapabilitas dan interaksi antar negara yang intensif, konstruktif dan konkrit.

Di kawasan Asia Tenggara, Filipina Selatan telah dijadikan sebagai salah satu basis kekuatan ISIS yang ikut memicu aksi-aksi teror lain di kawasan Asia Tenggara. Kelompok ini terus Berencana untuk membangun Daulah lslamiyyah Katibah Nusantara yang merupakan aliansi dari Divisi Islamic State Asia Timur di bawah kendali struktur ISIS Pusat yang dipimpin oleh Abu Bakr al-Baghdadi yang berbasis di Suriah dan Irak.

"Guna mengatasi potensi ancaman Terorisme dan radikalisme ini maka Indonesia bersama negara lainnya yaitu Filipina dan Malaysia telah mengambil langkah-langkah kerja sama yang konkret melalui pembentukan Platform kerja sama Trilateral di Laut Sulu yang diisi dengan kegiatan patroli bersama," sambungnya.

Masalah kawasan lain yang tidak luput dari perhatian adalah krisis Rohingnya di Rakhine State Myanmar. Saat ini sangat diperlukan langkah konkret dan penangan bersama di kawasan yang tepat sasaran.

"Karena bila tidak ditangani dengan baik dan benar, para pengungsi yang rapuh ini dapat direkrut oleh kelompok ISIS untuk memperkuat jaringannya," jelasnya.

Untuk lebih memperkuat sistem pengawasan dan deteksi dini terhadap potensi berkembangnya ancaman ISIS di kawasan, Kementerian Pertahanan sendiri sudah mengeluarkan satu inisiatif platform kerja sama baru. Yakni konsep kerjasama pertukaran intelijen strategis bernama "Our Eyes".

Konsep tersebut hampir mirip dengan konsep Five Eyes negara barat yang melibatkan unsur kerja sama pertahanan atau militer dan Jaringan Intelijen secara terintegrasi. Konsep itu adalah murni kerjasama untuk mengatasi ancaman terorisme dan radikalisme di kawasan tanpa ada agenda Politik didalamnya.

"Konsep ini telah didukung secara aklamasi oleh Para Menhan ASEAN serta beberapa negara mitra seperti Amenka Serikat, Australia, Rusia dan Jepang menyatakan keinginannya untuk bergabung," demikian Menhan. [mel]

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya