Direktur Eksekutif Jokowi Watch, Tigor Sitorus, merasa prihatin dengan banyaknya spanduk yang menolak cagub-cawagub non muslim di Sumatera Utara. Dia menduga spanduk bermotif isu SARA tersebut sengaja dibuat oknum tertentu untuk merusak kerukunan antar umat beragama di Sumut.
"Jangan calon-calon ini membawah isu-isu yang usang yakni isu agama, isu SARA tidak akan mempan di Sumatra Utara. Contoh kasus pernah ada isu Klenteng di Sibolga dan selesai." kata Tigor dalam keterangannya, Kamis (18/1).
Dia mengungkapkan spanduk bermotif isu SARA tersebut antara lain ditemukan di Kota Binjai dan Kabupaten Langkat. Tigor pun mengingatkan penyebaran spanduk tersebut tidak menimbulkan gangguan sebab masyarakat Sumut sudah terbiasa hidup rukun dan tidak mudah terpengaruh dengan cara-cara kotor yang merusak kerukunan antar umat beragama.
"Bertandinglah secara fair, menanglah secara fair dan diterima masyarakat juga secara fair. Jika bertanding secara fair mungkin banyak isu-isu lain selain isu SARA. Misalnya soal program, integritas, track record dan lainnya," papar dia.
Ia juga menjelaskan bahwa dari ketiga pasangan yang maju di pilkada Sumut, didukung oleh partai pendukung pemerintah, sehingga isu SARA harus segera dihentikan sejak dini.
"Presiden Joko Widodo berulang ulang meminta untuk tidak membawa-bawa isu SARA dalam pilkada, maka jelas memalukan membawa-bawa isu SARA itu," kata Tigor.
Tigor pun meminta kepada Bawaslu Sumut untuk menertibkan spanduk bermotif isu SARA tersebut serta melihat kejadian ini secara objektif, terbuka dan transparan. Dia berpendapat jika nanti ada pihak yang merasa dirugikan kemudian melaporkan kejadian ini kepada Bawaslu bisa jadi hal ini diproses hukum.
Tigor menuturkan Sumut adalah salah satu provinsi di Indonesia yang menjadi contoh sebagai tempat hidup rukun antar umat beragama, karena banyak ajaran agama yang ada yakni Islam, Kristen, Katolik, Khong Hu Chu, Buddha dan agama kepercayaan Parmalim. Sumut juga dikenal memiliki keberagaman suku seperti Jawa, Batak, Melayu Nias dan masyarakat keturunan.
Ia menambahkan komposisi masyarakat di Sumut berdasarkan jumlah penganut beragama, mayoritas menganut agama muslim dan terbesar kedua adalah Kristen. Soal kepemimpinan di Sumut 5 tahun kedepan menurut Tigor, yang pas adalah calon kolaborasi dari kedua segmen ini.
"Saya pikir wajar jika cagubnya muslim dan cawagubnya Kristen, artinya mewakili dua kelompok besar tersebut dan komposisi tepat. Tidak usah lagi dipermasalahkan masalah SARA," kata Tigor yang menduga spanduk ini disebar untuk menyerang pasangan Djarot-Sihar Sitorus.