Berita

Ciputra/net

Nusantara

Ciputra Pertanyakan Program DP Nol Rupiah Yang Berpotensi Gaduh

KAMIS, 18 JANUARI 2018 | 16:09 WIB | LAPORAN:

Tokoh pengusaha properti mempertanyakan teknis program rumah murah yang digagas Pemprov DKI Jakarta, yang lebih dikenal dengan program DP Rp 0 (uang muka nol rupiah).

Pendiri Real Estate Indonesia (REI) yang juga pengusaha properti kelas kakap, Ciputra, mempertanyakan program rumah murah untuk rakyat kecil yang tidak sejalan dengan aturan Bank Indonesia (BI).  Sejauh ini, BI belum mengizinkan pembelian rumah dengan mekanisme cicil tanpa uang muka.

"Bagaimana bisa mengatasi peraturan pemerintah pusat, BI belum mengizinkan tanpa down payment," kata Ciputra di acara pelantikan Pengurus DPD REI DKI Jakarta, di Ruang Balai Agung, Balai Kota, Jakarta Pusat, Kamis (18/1).


Untuk mengatasi masalah tersebut, menurut dia, Pemprov DKI harus menggandeng pemerintah pusat dan BI. Mereka harus mencari jalan tengah untuk mengatasi tumpang tindih aturan agar tidak terjadi kegaduhan di kemudian hari.

"Ini homework yang penting sekali bagi pemerintah DKI, pemerintah pusat, supaya tidak menimbulkan kontroversi, gaduh. Seperti sekarang kita tahu, maaf, pembangunan pulau di Jakarta (reklamasi) sudah gaduh luar biasa. Dan ini jangan sampai menimbulkan kegaduhan. Kami tetap bergantung pada bank," tegas Ciputra.

Tak hanya itu kritik Ciputra. Ia menyebut program uang muka nol persen juga sangat membebani para pengembang, bahkan membuat rugi besar.

"Biasanya kami membangun 5-10 tahun. Kalau 15 persen selesai tanpa DP, berarti gedung sudah selesai tanpa kami menerima uang apa-apa," bebernya.

Meski demikian, Ciputra mengklaim bahwa pihaknya sangat mendukung program pemerintah dalam memberikan rumah murah bagi masyarakat.

"Yang utama masyarakat bisa dapat rumah yang pantas. Itu bukan hanya kewajiban Jakarta, tapi seluruh Indonesia," ujarnya.

Sejauh ini, yang menjadi pengembang dari program rumah DP Rp 0 adalah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PD Sarana Jaya. [ald]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

JK Bukan Pelaku Penista Agama

Rabu, 22 April 2026 | 04:11

Gaya Koruptor Sorong Beda dengan Indonesia Barat

Rabu, 22 April 2026 | 03:37

GoSend Rilis Fitur Kode Terima Paket

Rabu, 22 April 2026 | 03:13

Disita Aset Rp2 Miliar dari Safe Deposit Box Pejabat Bea Cukai

Rabu, 22 April 2026 | 03:00

Rano Tekankan Integritas CPNS Menuju Jakarta Kota Global

Rabu, 22 April 2026 | 02:24

Pegawai BUMN Dituntut Tangkal Narasi Negatif terhadap Pemerintah

Rabu, 22 April 2026 | 02:09

Ibrahim Arief Merasa Jadi Kambing Hitam Kasus Chromebook

Rabu, 22 April 2026 | 02:00

Keluarga Nadiem Adukan Dugaan Kejanggalan Kasus Chromebook ke DPR

Rabu, 22 April 2026 | 01:22

Fahira Idris: Perempuan Jadi Tumpuan Indonesia Maju 2045

Rabu, 22 April 2026 | 01:07

Dony Oskaria: Swasembada Pangan Nyata Bukan Hoaks

Rabu, 22 April 2026 | 01:03

Selengkapnya