Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) memastikan tugas impor dadakan yang diberikan pemerintah bukan peralihan tugas dari PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI/Persero). Pasalnya, beras yang diimpor Bulog bukan jenis beras khusus.
Direktur Utama Bulog Djarot Kusumayakti menegasÂkan, rencana pengiriman beras dari Thailand dan Vietnam yang semula ditugaskan kepada PT PPI adalah jenis beras khusus. Namun rencana tersebut secara resmi telah dibatalkan pemerintah.
"Setelah Rakortas (Rapat Koordinasi Terbatas) sudah diputuskan bahwa importasi beÂras khusus oleh PT PPI dibatalÂkan pemerintah dan itu selesai. Lalu dibuka impor beras oleh Bulog," katanya di sela acara Media Gathering yang digelar Bulog di Cirebon, kemarin.
Djarot menjelaskan, beras yang bakal diimpor Bulog adaÂlah varitas beras umum dengan jenis bulir patah 0-20 persen. Untuk jenis umum yang dibawa Bulog tersebut jumlah setinggi-tingginya 500 ribu ton. "Artinya beras yang maksimal kami pasok dari luar itu 500 ribu ton dan bisa kurang dari itu misalnya 400 ribu atau 350 ribu ton," tegasnya.
Kepastian jumlah beras yang akan diimpor bakal disesuaikan dengan kebutuhan nasional. Pihaknya juga berupaya tidak mengganggu momentum panen raya yang disebut-sebut dimulai pada Maret atau April tahun ini. "Akan dibahas dan ditentukan dalam rakortas, kita impor terÂgantung kebutuhan saja dan bukan beras khusus tapi untuk masyarakat umum," katanya.
Dijelaskan, kurangnya pasoÂkan beras sekarang menjadi fakÂtor penyebab harga beras melamÂbung. Makanya, beras impor ini nantinya akan dipakai juga untuk memperkuat cadangan beras pemerintah. "Beras mulai dikirim pada akhir Januari denÂgan jangka waktu sampai akhir Februari," terangnya.
Ada lima negara yang meÂmasok beras yaitu Thailand, Vietnam, Myanmar, Pakistan, dan India. Bulog juga sudah membuka pendaftaran lelang di website resmi. "Siapa pun boleh ikut lelang selama perusahaan itu memenuhi syarat utama yaitu anggota asosiasi dari negara proÂdusen beras yang sudah disebut itu," tutur Djarot.
Hindari KebocoranDalam pengiriman beras dari lima negara tersebut, Bulog memperketat syarat, tidak boleh ada orang Indonesia yang ikut campur sebagai pemasok. "KaÂlau orang Indonesia itu buÂkan asosiasi di sana, jadi tidak boleh kalau sampai ada orang Indonesia nanti bisa jadi calo," jelasnya.
Anggota asosiasi di lima negara itu mesti memiliki
track record yang baik dalam melakuÂkan ekspor beras di negaranya. Kalau tidak punya pengalaman maka Bulog tidak akan memÂberikan izin.
"Intinya semaksimal mungkin kami hindari kebocoran dan mencegah adanya mafia dari perusahaan yang sebetulnya tidak layak untuk ikut tender," tegasnya.
Direktur Komersial Bulog Tri Wahyudi Saleh menegaskan, beÂras impor akan digunakan untuk memperkuat cadangan beras pemerintah. "Kami keluarkan setelah ada instruksi dari peÂmerintah jadi tidak akan mengÂganggu serapan," ujar Tri.
Penyalurannya pun dipastikan bakal ditujukan ke daerah yang bukan produsen beras. Targetnya adalah Aceh, Teluk Bayur, Nusa Tenggara Timur, Balikpapan, Bali, dan Pontianak.
Tri Wahyudi mengatakan, beras impor dari lima negara itu masuk secara bertahap lewat pelabuhan non produsen seperti Jakarta, Batam, dan Medan. Menurutnya, sebanyak 800 ribu ton stok beras Bulog yang ada saat ini bakal digelontorkan untuk operasi pasar. Operasi pasar menjadi penting dilakukan dalam rangka menekan harga beras yang melonjak. Dengan begitu, impor beras tak akan mengganggu harga di tingkat petani saat musim panen raya februari nanti.
"Untuk kuatkan cadangan beras pemerintah dan kita tempatkan di daerah nonprodusen. Tidak ganggu serapan," katanya.
Dia mengakui untuk mengimpor ratusan ribu ton butuh waktu panjang meski sejumlah administrasi telah dipangkas. Misalnya, tergantung jenis kaÂpal yang digunakan negara pengekspor. Bila satu kapal berkapasitas 10 ribu ton maka setidaknya 50 kapal dibutuhkan untuk mengangkut 500 ribu ton beras ke Indonesia. "Bayangkan 50 kapal akan antre masuk ke pelabuhan, itu cukup lama," imbuh dia.
Untuk tahap pertama, diperÂkirakan datang 100 ribu ton beras impor diperkirakan bakal masuk ke Gudang Bulog. NaÂmun pihaknya tak memiliki opsi lain bila impor tersebut tak mencapai target yang ditetapkan pemerintah. "Kita enggak punya opsi lain, kami akan laporkan berapa yang dicapai," katanya.
Direktur Pengadaan Andrianto Wahyu Adi mengatakan Bulog tetap akan melakukan penugasan secara optimal. "Ekspektasinya, kami mungkin bisa mengimpor 300 ribu sampai 350 ribu ton," ujar Andrianto. ***