Uji coba One Karcis One Trip (OK Otrip) mulai dilakukan Senin,15 Januari lalu hingga sebulan. TarifÂnya masih Rp 3.500 untuk sekali jalan. Ini lebih rendah dari tarif resmi yang akan diterÂapkan, yakni Rp 5.000.
Sayangnya, kartu OK-Otrip dijual Rp 40.000 dengan saldo awal Rp 20.000, sampai sehari jelang uji coba baru terjual 2.155 kartu. Artinya penjualan kartu produksi pertama belum menÂcapai separuhnya meski sudah dijual sejak 23 Desember 2017.
Seperti diketahui, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI bikin 5.000 lembar kartu Ok-Otrip dan sudah dijual sejak 23 Desember 2017 di halte-halte Transjakarta. Tapi belum banyak diminati warga. Meski begitu, program OK-Otrip tetap diujicobakan.
"Wajar sepi peminat deh, karÂena kurang sosialisasi, dan rute diterapkan OK Otrip itu kan hanya beberapa. Saya kira ini terlalu dipaksakan. Sebenarnya Pemprov DKI Jakarta belum siap," ujar Rini Wati, karyawan di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.
Seharusnya, lanjut Rini, "PeÂmerintah Provinsi siap menerÂapkan pada semua trayek dan lintas semua angkutan umum. Ini kan belum siap sebenarnya, tapi ngotot dipaksakan, biar ada kesan, sudah melaksanakan proÂgram yang dijanjikan, kira-kira begitulah," papar Rini.
Direktur Pelayanan PengemÂbangan Bisnis dan SDM PT Transportasi Transjakarta (TranÂsjakarta) Welfizon Yuza menyaÂtakan, selama 15 hari ke depan, warga yang belum memiliki karÂtu OK Otrip digratiskan. PengeÂmudi akan meminjamkan kartu OK Otrip kepada penumpang untuk melakukan tapping yang telah disediakan di armadanya.
"Sementara bagi penumpang yang sudah punya kartu dikenaÂkan tarif Rp 0 selama uji coba," jelasnya.
Bagaimana tanggapan warga? Karena masih gratis, Dirna (49), salah satu penumpang mengaku sangat terbantu. "Masih gratis. Harganya waktu dikasih tahu ya memang murah sekali, saya coba beli kartunya besok," ujarnya tertarik.
Meski begitu, lebih banyak warga yang belum tahu program OK Otrip ini. Warga bingung kendaraan yang kerja sama dengan OK Otrip apa saja dan apa ciri-cirinya. Rute Kampung Melayu-Duren Sawit ini juga membuat bingung penumpÂang. Soalnya, tidak ada rute Kampung Melayu-Duren Sawit sebelumnya. Tidak ada angkutan yang rutenya sampai Rumah Sakit Duren Sawit.
"Naiknya dari mana. AngÂkotnya apa saja, belum tahu," ujar Solihin, warga Kampung Melayu, Jakarta Timur.
Begitu pula dengan perhenÂtian angkot. Karena tidak boleh berhenti sembarangan seperti biasanya. Banyak warga yang enggan naik angkot yang terÂgabung dengan OK Otrip.
"Harus berhenti di tempat yang disediakan kan? Kalau tujuan kita sebelumnya baÂgaimana?" tanya Solihin.
Yang gembira bagi warga yang tujuannya RS Duren Sawit karena rute diperpanjang sampai ke sana. Risa, warga yang bekÂerja di sekitar RS Duren Sawit mengaku tak perlu nambah biaya angkot untuk nyambung lagi. "Ini sekali jalan. Baguslah," sebutnya.
Kepala Humas PT TransjaÂkarta Wibowo Kampung MeÂlayu menyatakan, ada 15 unit angkutan kota (angkot) yang disebut sebagai OK 2 disiapkan selama masa percobaan. Di baÂdan angkot tersebut tertera stiker OK Otrip.
Angkot OK Otrip di Jakarta Timur itu akan melintas dari Kampung Melayu hingga DuÂren Sawit. Waktu operasi mulai pukul 05.00 hingga 22.00 WIB. Rutenya melewati Cipinang InÂdah I, Cipinang Indah II, Pasar Impres SMPN51, Jalan PahlaÂwan Revolusi, Jalan Arafuru, dan berhenti di Rumah Sakit Duren Sawit.
Untuk memanfaatkan proÂgram ini, penumpang harus tap in kartu OK Otrip saat naik angkot dan tap out saat turun. Proses ini dibutuhkan sebagai data rekam jumlah penumpang pengguna layanan OK Otrip. Dengan begitu, akan mudah dipantau di titik mana saja yang paling ramai penumpang mengÂgunakan OK Otrip.
Untuk diketahui, angkot OK Otrip ini beda banget dengan angÂkot biasanya. Misalnya layanan dari sopir, mulai dari pakaian seÂragam dan model serta mengambil dan menurunkan penumpang tertÂib di lokasi yang sudah disediakan. Angkot tidak boleh sembarangan ngetem dan batas maksimal saat berhenti di bus stop.
Sementara di Jakarta Utara, uji coba angkot KWK 02 rute Tanjung Priok-Warakas dengan bus Transjakarta sudah juga dilakukan.
Kepala Terminal Tanjung Priok, Mulya menuturkan, uji coba program OK Otrip dimuÂlai secara bertahap yakni, 15- 18 Desember. Ada 34 armada KWK 02 sudah dipersiapkan untuk menunjang pelaksanaan program ini.
Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran) Darmaningtyas mengatakan, program ini dapat mengheÂmat pengeluaran masyarakat yang menggunakan transportasi umum.
Masalahnya, belum semua jenis angkutan umum yang masuk dalam program OK Otrip yang siap untuk integrasi. Dia mendorong pemilik moda transÂportasi memperbaiki fasilitasnya agar bisa terintegrasi dengan program OK Otrip.
"Selain itu juga, program ini hanya baru siap di moda transporÂtasi Transjakarta, bus lain belum dipersiapkan untuk bisa terinteÂgrasi dengan sistem ini. Harusnya sudah teritegrasi dengan moda lain, jangan sampai busway saja yang siap angkutan umum yang lain juga harus menyesuaikan," kata Darmaningtyas.
Selain itu, OK Trip ini akan menjadi sempurna bila dapat terhubung dengan Kereta Rel Listrik (KRL). Pemprov dapat menggandeng PT Kereta Api Indonesia sebagai mitra.
Targetnya Cuma 20.000 Karcis, Tapi Baru Terjual 2.155 Lembar
Hari pertama uji coba, karcis OK-Otrip yang terjual baru mencapai 2.155 lembar, masih jauh dari target sebesar 20 ribu. Namun, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan merasa optiÂmistis dalam waktu tiga bulan ke depan, penjualan karcis akan meningkat.
"Kita optimistis dalam tiga bulan ke depan bisa melampaui target," kata Anies di Balaikota, Jakarta Pusat.
Uji coba pertama, yakni rute Duren Sawit ke Kampung MeÂlayu. Kemudian, dicoba lagi satu rute yakni Cakung-Rorotan hingga empat rute. Dia berharap, OK-Otrip dapat meningkatkan jumlah pengguna bus TransjaÂkarta pada 2018.
Dia berharap, di awal tahun ini, jumlah penumpang Transjakarta menembus angka 500.000 orang.
"Kami terbuka terhadap berbagai masukan dari semua pihak. Kita lakukan uji coba selama tiga bulan sambil terus melakukan evaluasi demi kenyaÂmanan masyarakat. Bagaimana penumpang bisa menggunakan kendaraan publik untuk dari satu tempat ke tempat lainnya yang angkutannya tersambungkan," tandasnya.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menuturkan, setelah rute Kampung Melayu dan Cakung, akan dilakukan penambahan satu trayek yakni Kampung Rambutan-Pondok Gede. Targetnya, selama dua bulan masa uji coba ditargetkan sudah ada empat trayek yang telah menerapkan program OK Otrip.
"Trayek berikutnya, kita terapÂkan OK Otrip di rute Lebak Bulus-Ragunan," terangnya.
Sandi memastikan, OK-Otrip diberlakukan dengan sistem one person one ticket. Soal sepi pemiÂnat, Sandi mengaku akan terus mensosialisasikan program ini.
"Saya meminta semua eleÂmen masyarakat, komunitas bisa mulai mencoba dan memÂberi masukan pelaksanaan OK Otrip ini. Kami yakin target peminat program ini tercapai," tandasnya.
Direktur Utama PT TransjaÂkarta Budi Kaliwono mengataÂkan, penerapan OK Otrip akan dilakukan secara berkala. Dalam uji coba, pihaknya akan menÂempatkan petugas Transjakarta dan Dinas Perhubungan untuk membantu warga. Terutama soal teknis penggunaan kartu.
"Saat uji coba, ada petugas Transjakarta atau Dishub yang mendampingi supaya bisa menÂjelaskan kepada pelanggan," terang dia.
Dia ingin membuktikan tanÂtangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta bahwa Transjakarta dapat melaksanaÂkan program OK Otrip.
Budi memang mengaku keÂsulitan menerapkan salah satu janji kampanye Anies-Sandi itu karena program ini sistem baru. Berbeda jauh dengan kartu Transjakarta.
"OK Otrip ini kan bisa meng-
cover antar bus rapid transit dan yang tidak (angkot). Ini kan juga perlu kontrak atau kesepakatan dengan para operator. Ini yang perlu proses dan alhamdulillah bisa," sebutnya.
Untuk menggenjot penjualan kartu, Direktur Operasional PT Transjakarta Daud Joseph menÂgatakan, belum tertarik mencoba memasarkan di lokasi lain selain halte Transjakarta.
"Sebetulnya memungkinkan saja untuk di lokasi lain, tetapi kami akan coba di channel-channel kami dulu. Jika nantinya ada potensi, baru kami lanjutkan di lokasi lain," katanya. ***