Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Cawapres Ideal Jokowi, Bukan Politisi Atau Militer

SABTU, 13 JANUARI 2018 | 11:59 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Joko Widodo dan Prabowo Subianto hampir dapat dipastikan akan kembali bertarung pada Pilpres 2019. Kini yang perlu dicari adalah calon wakil presiden (cawapres) pendamping masing-masing.

"Kalau Prabowo saya kira akan mengambil Zulkifli Hasan, seperti pada 2014 mengambil Hatta Rajasa yang juga Ketua Umum PAN," kata pengamat politik dari Universitas Indonesia, Arbi Sanit, belum lama ini.

Selain ketum PAN, Zulkifli yang lahir di Lampung pada 17 Mei 1962 adalah Ketua MPR RI. Lantas, siapa cawapres yang cocok mendampingi Jokowi? Arbi tidak mau menyebut nama. Pria berambut panjang itu hanya melempar kriteria cawapres ideal bagi Jokowi.


"Yang jelas dia bukan politisi atau militer, melainkan teknokrat. Jokowi membutuhkan wapres seperti Jusuf Kalla saat ini yang akan fokus membantu di bidang ekonomi. Teknokrat juga diperlukan untuk menggaet suara kelas menengah ke atas, karena basis dukungan Jokowi saat ini adalah kelas menengah ke bawah," jelasnya.

Kedua, kata Arbi, cawapres itu haruslah lebih muda usianya dari Jokowi. "Ini untuk kaderisasi di 2024, karena pada saat itu kita akan lebh sulit mencari sosok capres atau cawapres daripada saat ini," cetusnya. Jokowi yang lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 21 Juni 1961 saat ini usianya menjelang 57 tahun.

Ketiga, lanjut Arbi, cawapres tersebut sebaiknya dari luar Jawa, meskipun tidak mutlak. "Ini bukan soal primordialisme. Ini soal upaya memperluas dukungan suara Jokowi yang berasal dari Jawa," tandasnya.

Terpisah, Ketua Umum Putra-putri Jawa Kelahiran Sumatera, Sulawesi dan Maluku (Puja Kessuma) Suhendra Hadi Kuntono menilai analisis Arbi Sanit tersebut masuk akal, bahkan sesuai fakta di lapangan.

 Apalagi, katanya, sudah terbukti wapres dari luar Jawa sukses mendamping Presiden RI, mulai dari Mohammad Hatta (Sumatera Barat, mendampingi Bung Karno), Adam Malik (Sumatera Utara, mendampingi Pak Harto), BJ Habibie (Sulawesi Selatan,  mendampingi Pak Harto dan kemudian menjadi Presiden), Hamzah Haz (Kalimantan Barat, mendampingi Megawati Soekarnoputri), dan Jusuf Kalla (Sulawesi Selatan,  mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono dan kemudian Jokowi).

"Ini tentu menjadi angin segar bagi tokoh-tokoh dari luar Jawa, termasuk Sumatera," kata Suhendra dalam keterangannya, Sabtu (13/1).

Cawapres berlatar teknokrat juga dinilai Suhendra sangat cocok, karena masalah krusial yang dihadapi bangsa ini adalah persoalan ekonomi, bukan politik dan keamanan. "Ekonomi sekarang ini menjadi panglima," cetus pria low profile kelahiran Medan, Sumut, 50 tahun lalu ini.

Puja Kessuma, lanjut Suhendra, pun merasa tertantang untuk mengajukan kader-kadenya yang memenuhi kriteria cawapres ideal bagi Jokowi pada Pilpres 2019, yakni teknokrat, muda dan dari luar Jawa.

"Kita banyak stok kader yang insya Allah siap bila rakyat menghendaki untuk diajukan sebagai cawapres. Kalau capres, kita beri kesempatan satu periode lagi kepada Pak Jokowi untuk menuntaskan pekerjaan yang belum beres," terang mantan Ketua Kelompok Kerja Perancangan Formulasi Peraturan Daerah Nasional 2016 bentukan Kementerian Hukum dan HAM yang merupakan inisiatif Puja Kessuma menyikapi moratorium dari Presiden Jokowi terkait ribuan perda bermasalah.

Ditanya apakah dirinya siap bila diajukan Puja Kessuma sebagai cawapres Jokowi, dengan nada merendah, Suhendra menyatakan, bila rakyat sudah menghendaki, dan negara pun sudah memanggil, siapa pun tak bisa menolak. "Ingat, vox populi vox Dei (suara rakyat adalah suara Tuhan)," tutup mantan Ketua Tim Penyelesaian Pelanggaran HAM Indonesia-Vietnam ini. [rus]

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

UPDATE

Analisis di Balik Penerimaan Eksepsi Dokter Tifa

Jumat, 24 Juli 2026 | 01:52

Legislator PDIP Desak Pemerintah Benahi Infrastruktur Hulu Migas

Jumat, 24 Juli 2026 | 01:34

Panglima TNI: Perang Narasi Salah Satu Ancaman Paling Berbahaya Saat Ini

Jumat, 24 Juli 2026 | 01:17

PABPDSI Kawal Program Nasional Hingga ke Desa Lewat 8 Satgas Asta Cita

Jumat, 24 Juli 2026 | 00:55

MBG dan Peluang Besar Bangun Ekonomi Desa

Jumat, 24 Juli 2026 | 00:30

Pemerintah Buka Opsi Biayai Utang Proyek Whoosh Pakai Panda Bond

Jumat, 24 Juli 2026 | 00:05

Korupsi Pakan Satwa Rp10,2 Miliar, DPR Minta Eks Dirut KBS Dihukum Berat

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:45

Lulus S2 Hukum, Mikael Saragih Ungkap PR Hukum Indonesia Tak Lagi soal Kekurangan UU

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:37

BEM Kristiani Se-Indonesia Desak Kejagung Segera Tangkap Febrie Adriansyah

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:16

Polri dan FBI Sepakat Perkuat Kerja Sama Penanganan Kejahatan Transnasional

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:03

Selengkapnya