Berita

Ilustrasi/Net

Global

Yunani Batasi Kekuasaan Pengadilan Syariah Islam

KAMIS, 11 JANUARI 2018 | 15:05 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Parlemen Yunani memilih untuk membatasi kekuasaan pengadilan Syariah di kalangan minoritas Muslim. Lnagkah itu diambil demi mencari persamaan yang lebih besar bagi semua warga negara.

Pekan ini, anggota parlemen Yunani mengeluarkan sebuah undang-undang baru di mana minoritas Muslim tidak lagi terikat oleh hukum Syariah.

Sebelumnya, aturan Syariah diberlakukan di negara itu sejak sebad yang lalu dalam sebuah kesepatakan dengan Turki pasca Perang Dunia I.


Setelah Perang Dunia Pertama dan runtuhnya Kekaisaran Ottoman, pemerintah Yunani dan Turki melakukan pertukaran populasi pada tahun 1923 di mana jutaan orang Kristen Muslim dan Ortodoks dipindahkan di antara kedua negara. Berdasarkan kesepakatan tersebut, umat Islam yang tersisa di Yunani akan ditempatkan di bawah adat istiadat dan hukum Islam.

Saat ini ada lebih dari 110.000 Muslim Yunani, menurut berbagai perkiraan, sebagian besar terkonsentrasi di wilayah timur Thrace dekat perbatasan Turki.

Di bawah sistem lama, perselisihan keluarga tentang warisan, perceraian dan hak asuh anak akan diselesaikan oleh mufti dan ulama hukum Islam.

Namun, belakangan sistem hukum paralel ini telah dituduh melakukan seksisme dan diskriminasi terhadap perempuan.

"Pemerintah saat ini mengambil langkah bersejarah dengan membawa ke Parlemen RUU Syariah yang memperluas dan memperdalam kesetaraan hukum dan sipil yang dinikmati oleh semua pria dan wanita Yunani tanpa kecuali," kata Perdana Menteri Alexis Tsipras dalam sebuah pernyataan tertulis seperti dimuat Russia Today.

"Menghormati dengan segala cara karakteristik unik minoritas Muslim di Thrace, pemerintah, dengan undang-undang tersebut, memperbaiki ketidakadilan masa lalu terhadap anggotanya," tambahnya.

Revisi undang-undang tersebut muncul setelah ada kasus hukum yang diajukan oleh seorang wanita bernama Hatijah Molla Salli. Dia adalah seorang janda dari kota Komotini di Thrace, bagian timur Yunani. Salli sedang melawan perselisihan warisan dengan almarhum suaminya dan memenangkan kasus awalnya, namun pada tahun 2013 Mahkamah Agung Yunani memutuskan bahwa kesepakatan seabad dengan Turki menjadi preseden.

Salli kemudian mengajukan keluhan ke Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa (ECHR), yang diperkirakan akan mempertimbangkan topik ini akhir tahun ini. [mel]

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya