Berita

Pertahanan

Tahun 2017 Indonesia Menerima 200 Juta Lebih Serangan Siber, Salah Satu Korban KPU

KAMIS, 11 JANUARI 2018 | 03:40 WIB | LAPORAN:

Sepanjang tahun 2017 Indonesia telah mendapatkan 205.502.159 serangan siber ke pertahanan digital.

Serangan ini mulai dari hoax, peretasan terhadap Komisi Pemilihan Umum (KPU), peretasan website pemerintah dan BUMN. Hingga serangan ransomware yang secara langsung meminta tebusan kepada masyarakat.

Demikian pemaparan Ngasiman Djoyonegoro dalam peluncuran buku karyanya berjudul "Intelijen di Era Digital: Prospek dan Tantangan Membangun Ketahanan Nasional" di Menara Batavia, The President Lounge, Jakarta Pusat, Rabu (10/1).


Menurut Ngasiman, seiring berjalannya perkembangan teknologi, muncul juga berbagai ancaman dalam bentuk dunia baru. Seperti cyber war, proxy war, perang asimetris, cyber terorism, perang spionase.

Hal ini jugalah yang menuntut intelijen untuk mampu beradaptasi terhadap dinamika perkembangan digital. Mengingat kondisi perang di era digital berlangsung sangat cepat, sunyi dan senyap.

"Jika dulu gerakan penyusupan intelijen terhadap suatu negara melalui jalur darat, kini penyusupan dilakukan melalui dunia cyber," ujar Ngasiman

Di era digital sekarang, lanjutnya, muncul enam istilah perang siber, yakni low intensity wars atau perang intensitas rendah, small wars, network centric warfare atau perang berpusat pada jejaring.

Kemudian fourth generation wars, non-conventional/hybrid wars atau perang non konfensional, dan asymmetric wars.

Menurutnya perkembangan di dunia siber telah muncul dalam satu dasawarsa pertama abad 21. Dalam satu dasarwa tersebut jumlah orang yang terhubung ke internet melesat jauh, dari 350 juta pengguna menjadi dua miliar pengguna.

Dalam periode yang sama, jumlah pengguna seluler melambung, dari 750 juta pengguna hingga lima miliar penguna. Bahkan diperkirakan sudah mencapai enam miliar lebih.

"Artinya, pada tahun-tahun mendatang, dunia sudah dalam genggaman digital. Siapa yang menguasai digital berarti menguasai dunia," ungkap Ngasiman.

Dengan situasi tersebut, lanjut dia, intelijen menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI. Intelijen harus mampu memahami sepenuhnya bentuk ancaman kejahatan baik yang berskala lokal maupun global.

Peperangan yang dulunya identik dengan senjata, peluru, pembunuhan, pengeboman, dan sebagainya kini telah bergeser dengan perkembangan teknologi.

"Kita bayangkan, kelompok teroris, perbankan hingga profiling terhadap orang dan perusahaan, melakukan aksinya dengan dukungan digital. Tak hanya itu, penyebaran informasi hoax bernada SARA yang dapat memperpecah bangsa sekarang juga berlangsung melalui perangkat digital," ujar Ngasiman. [nes]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Terbuka Peluang Duetkan Pramono-AHY di 2029

Jumat, 11 September 2026 | 06:21

Komnas Palestina Salurkan 300.000 Liter Air Bersih ke Gaza

Jumat, 11 September 2026 | 06:08

Buku 'Islam Ala Prabowo' Bukan Produk MUI

Jumat, 11 September 2026 | 05:31

Tak Ada Alasan MK Menolak Gugatan Denny Indrayana Cs

Jumat, 11 September 2026 | 05:14

Kemenhaj Tutup Celah Jual Beli Antrean Haji Khusus

Jumat, 11 September 2026 | 05:04

Tiket Termurah Persija vs Persib Rp150 Ribu, Termahal Rp1,5 Juta

Jumat, 11 September 2026 | 04:24

Pansus Papua DPD RI Harus Bongkar Akar Konflik

Jumat, 11 September 2026 | 04:00

Perampasan Aset: Keharusan Hukum vs Kecemasan Publik

Jumat, 11 September 2026 | 03:39

Kudu Yakin Persib Libas Persija 2-0

Jumat, 11 September 2026 | 03:18

Terima Aspirasi Buruh

Jumat, 11 September 2026 | 03:00

Selengkapnya