Rencana pemindahan ibukota ternyata serius. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) telah menyelesaikan kajian awalnya dan menyerahkannya ke Presiden. Untuk lokasinya, dipastikan di luar Pulau Jawa.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ BapÂpenas Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, hasil kajian diserahkan ke Presiden Jokowi pada saat Sidang Kabinet Paripurna tentang Program dan Kegiatan Tahun 2018, Rabu (3/1). Menurutnya, hasil kaÂjian tersebut antara lain berisi nama-nama daerah calon ibuÂkota, pertimbangan kelebihan dan kekurangan daerah calon ibukota.
"Isi antara lain memuat indikator mengenai luas lahan bebas yang tidak perlu ganti rugi, tingkat risiko bencana alam, dan ketersediaan infrastruktur. Tentunya ini akan dibahas lebih detail lagi," ungkap Bambang di Kantor Bappenas, Jakarta, kemarin.
Bambang enggan menyebutÂkan nama-nama daerah calon ibukota.Yang pasti, menurutnya, kota-kota tersebut berada di luar Pulau Jawa. "Nanti biar Bapak Presiden yang memutuskan, kita tugasnya menyiapkan kajian. Saya ini cuma sampai semifinal, untuk finalnya di Presiden," cetusnya.
Bambang menuturkan, untuk biaya pemindahan, diperkirakan lebih dari Rp 1 triliun. PemerinÂtah akan membuka kesempatan bekerja sama dengan swasta dalam merealisasikannya. Menurutnya, pihaknya sudah berinteraksi dengan pengusaha memÂbahas soal itu. Hal ini dilakukan untuk melihat sejauh mana minat mereka terhadap program pemerintah.
Soal waktu pengerjaan, BamÂbang mengaku belum bisa meÂmastikannya. Hal itu sangat tergantung model realisasinya apakah dilakukan sekaligus atau bertahap. "Untuk waktu macam-macam, ada satu negara butuh sampai 10 tahun, tetapi ada yang hanya 5 tahun, bahkan ada yang hanya 2 sampai 3 tahun saja, udah jadi," terang Bambang.
Bambang menambahkan, di dalam membangun kota baru, penting memperhatikan inÂfrastruktur yang dibutuhkan. Hal ini agar pembangunan Bisa dilakukan lebih efisien.
Seperti diketahui, wacana peÂmindahan ibukota pada pertenÂgahan tahun lalu cukup menyita perhatian publik. Banyak kalanÂgan yang meragukan keseriusan wacana ini. Salah satu daerah yang selama ini disebut-sebut menjadi kandidat kuat sebagai ibukota baru Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah.
Ketua Housing Urban DevelÂopment (HUD) Institute Zulfi Syarif Koto menyarankan peÂmerintah membuat kesepakatan dengan legislatif jika serius ingin memindahkan ibukota negara. "Kesepakatan dengan DPR itu sangat penting agar perencaÂnaan yang dibuat tidak sia-sia. Tujuannya agar walaupun berÂganti pemerintahan, semua harus sepakat pemidahan ibukota tetap jalan terus," kata Zulfi.
Zulfi menuturkan, peminÂdahan ibukota membutuhkan waktu yang panjang. Bahkan, jika Presiden Jokowi terpilih lagi, sampai masa jabatan habis, belum tentu prosesnya selesai. Makanya diperlukan dukungan politik yang kuat.
Kenapa lama? Zulfi menerangkan, untuk menyempurnama kajiannya saja membutuhkan waktu tidak cukup satu tahun. "Kajian yang sudah rampung itu kajian apa? Kalau hanya kajian politis, pembangunannya belum bisa direalisasikan," kata Zulfi. ***