Berita

Yenny Wahid/Net

Wawancara

WAWANCARA

Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid: Saya Bukan Nolak Dicagubkan, Tapi Saya Tidak Diizinkan Sesepuh Nahdlatul Ulama

KAMIS, 04 JANUARI 2018 | 10:32 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Perempuan yang akrab dis­apa Yenny Wahid ini, beberapa pekan lalu disebut-sebut bakal dijagokan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) seba­gai cagub di Pilkada Jawa Timur. Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dikabarkan secara langsung memberikan restu pada Yenny Wahid.

Konon, Yenny pun sudah be­berapa kali menggelar pertemuan dengan Prabowo Subianto. Lantas bagaimana Yenny Wahid menyikapi dukungan Prabowo tersebut? Berikut penuturan lengkapnya;

Beberapa hari lalu Anda bertemu dengan Prabowo Subianto, apa yang Anda bahas bersamanya?
Kami hanya membahas ten­tang masalah kebangsaan dan geopolitik dunia, termasuk soal Palestina.

Kami hanya membahas ten­tang masalah kebangsaan dan geopolitik dunia, termasuk soal Palestina.

Kabarnya Anda ditawari Prabowo untuk jadi cagub Gerindra di Pilkada Jawa Timur 2018. Benar begitu?
Sebelumnya saya mengucap­kan terima kasih kepada Pak Prabowo Subianto, sekaligus penghargaan setinggi-tingginya karena beberapa hari lalu telah menawarkan saya maju di Pilgub Jawa Timur 2018.

Sesungguhnya tawaran itu sudah telah saya pikirkan ma­tang-matang, sebab yang me­nawarkan sosok yang sangat saya hormati. Saya mengenal beliau, bahkan saya mengenal pemikiran-pemikiran beliau yang jauh ke depan. Beliau punya gagasan-gagasan besar untuk Indonesia dan saya sangat hormat kepada beliau.

Kabarnya tawaran Prabowo Subianto Anda tolak?
Bukan ditolak, tapi tidak di­izinkan.

Siapa yang tidak mengizinkan?
Saya tidak diizinkan oleh para sesepuh Nahdhatul Ulama (NU).

Kenapa demikian?
Jadi Nahdhatul Ulama itu me­megang dua dalil dalam menen­tukan pilihannya. Ada dalil aqli dan naqli. Dalil aqli digunakan secara rasional, sedangkan dalil naqli digunakan secara spritual. Jadi kita mau meminta petunjuk pada Tuhan apakah ini yang terbaik untuk kita. Karena yang terbaik untuk kita belum tentu terbaik untuk orang lain. Terbaik untuk orang lain belum tentu ter­baik untuk kita. Itu semua proses yang dijalani. Tapi yang paling penting memang tugas sejarah kami memastikan umat ini utuh terutama umat NU.

Sebenarnya Anda pribadi ingin enggak sih nyagub di Pilkada Jatim?
Saya sudah pertimbangkan matang-matang tawaran ini. Akan tetapi mengingat kami ke­luarga Gus Dur meyakini bahwa kami punya tugas sejarah untuk menyatukan bangsa ini, teru­tama memastikan dan menjaga agar NU tidak pecah.

Jadi kalau nyagub Anda kha­watir NU terpecah lantaran ada dua tokoh NU lainnya yang ber­tarung di Pilkada Jatim yakni Khofifah Indar Parawansa dan Syaifullah Yusuf?
Kami harus berdiri menjaga jarak dengan semua kandidat, dengan semua kontestan yang akan maju pada Pilkada Jatim. Tentu kami tidak boleh ikut masuk dalam kontes yang se­dang berlangsung. Ini tugas seja­rah yang kami yakini dan setelah kami menjelaskan kepada Pak Prabowo beliau bisa mengerti. Itu juga menunjukkan kebesa­ran hati beliau. Kedua, beliau terlihat sangat mengedepankan kepentingan bangsa diband­ingkan kepentingan partai atau kepentingan kecil masyarakat.

Berarti sudah pasti nih Anda tak akan nyagub di Pilkada Jatim?
Jadi dalam hal ini, walaupun pada saat ini kita tidak bisa ber­jalan beriringan dalam sebuah langkah taktis, katakanlah dalam pilkada, namun kita disatukan oleh gagasan-gagasan besar. Yaitu rasa hormat kami kepada beliau dan kami juga mengapre­siasi sikap beliau yang tetap berpegang teguh pada persatuan dan kesatuan bangsa.

Lantas di Pilkada Jatim nanti Anda akan mendukung siapa?
Jadi begini Nahdlatul Ulama ini sudah menyumbangkan dua kader terbaiknya. Alhasil kon­tribusi NU untuk Pilgub Jatim 2018 sudah luar biasa buat saya. Jadi kita doakan yang paling baik yang akan menang yang bisa membawa kemaslahatan Jatim.

Saat ini di kalangan Nahdliyin ada idiom “nyai nurut sama kiai, kiai nurut Saifullah Yusuf, sedangkan para nyai nurut Khofifah Indarparawansa, bagaimana itu?

Jangan keliru, kiainya kalo didiemin sama nyai juga repot. Hahaha. ***

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Darwis Ismail Terpilih jadi Nakhoda Baru ISKINDO Periode 2026-2031

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 03:46

Polda Metro Bongkar Penyelundupan 54 Ton Batu Galena dari Gorontalo

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 03:27

Usul LBP Makin Terasa Janggal, Reformasi Hukum Jangan Kehilangan Arah

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:59

Manifesto Welfare State Pesisir

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:30

Gerakan 1 Juta Liter Air Bersih BEM PTNU Teruskan Semangat Resolusi Jihad

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:05

Sidang Praperadilan Kasus Relawan Prabowo Ditunda, Hakim Tegur Kelalaian Pemanggilan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 01:51

Langkah Cepat Polda Jatim Cegah Potensi Kericuhan Aksi Mahasiswa Tuai Apresiasi

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 01:26

PT TIMAH Buka Opsi Buyback Saham Sikapi Dinamika Pasar Modal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 00:49

GMNI Puji Ketegasan Kapolri Bongkar Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 00:21

PKS Dukung Pemerintah Lakukan Reformasi Bursa Saham Menyeluruh

Jumat, 23 Oktober 2026 | 23:45

Selengkapnya