Berita

Badrus Sholeh/net

Pertahanan

PSTPG: Program Ekonomi Bagi Kaum Muda Jadi Kunci Atasi Radikalisme Dan Terorisme

KAMIS, 21 DESEMBER 2017 | 21:24 WIB | LAPORAN:

Program ekonomi bagi kaum muda memiliki peran strategis dalam mengatasi radikalisme dan terorisme.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Pusat Studi Timur Tengah dan Perdamaian Global (PSTPG) Badrus Sholeh usai memaparkan hasil riset lapangan PSTPG Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Jakarta, Kamis (21/12).

Menurut Badrus, pemerintah, masyarakat sipil dan ormas agama memiliki kontribusi penting dalam aktivitas dan pemberdayaan ekonomi kaum muda termasuk mereka mantan napi teroris, mantan kombatan dan kaum muda yang potensial menjadi target gerakan terorisme dan radikalisme.


"Program ekonomi juga memerkuat nasionalisme dan pertahanan sosial-keamanan di daerah perbatasan," tegas Badrus.

Dalam temuan riset juga disimpulkan jika program dan kegiatan ekonomi bagi kaum muda dan para mantan napiter dan mantan kombatan akan memerkuat kepercayaan diri mereka dalam membangun kemandirian, memeri ruang dalam proses pelepasan (disengagement) dari kelompok teroris dan masa lalu kekerasan dan reintegrasi di masyarakat.

Badrus menjelaskan berdasarkan hasil wawancara dengan para mantan napi teroris dan mantan kombatan bahwa mereka berhasil melepaskan tekanan dan pengaruh kelompok teroris yang masih berusaha mengajak mereka dalam aksi kekerasan dan terorisme melalui kegiatan ekonomi baik secara individu maupun melalui komunitas dan koperasi.

"Pelatihan beragam skill, modal usaha, inovasi produk dan pendampinan bagi mereka akan menjamin keberlanjutan upaya mereka untuk keluar dari lingkar kekerasan masa lalu dan sepenuhnya terintegrasi di masyarakat," ungkap Badrus.

Temuan lain dalam riset, imbuh Badrus, program ekonomi kaum muda masih didominasi oleh program pemerintah (Badan Nasional Penanggunalan Terorisme (BNPT), Kementerian Sosial, Kementerian Koperasi dan UKM, Kementeruan Pekerjaan Umum, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan dinas-dinas terkait di daerah) secara jangka pendek.

"Peran stakeholder, pemerintah daerah dan pengusaha daerah dan lokal dalam kegiatan ekonomi bagi kaum muda dan mantan napiter dan mantan kombatan masih terbatas," pungkas Badrus.

Pentingnya program ekonomi dalam jangka panjang dan berkesinambungan dengan melibatkan pemerintah dan masyarakat secara bersama, menurut hemat Badrus akan meciptakan program ekonomi bagi kaum muda yang lebih kuat dan memiliki pengaruh dan dampak lebih permanen. Ini juga urgen bagi kepastian perdamaian di daerah pasca konflik.

Temuan terakhir, Badrus mengungkapkan, koordinasi dan program komprehensif dan berkesinambungan perlu dilakukan bersama lintas kementerian dan dinas, pemerintah pusat dan daerah, dan stakeholder, pengusaha dan ormas agama dalam pemberdayaan ekonomi kaum muda dan para mantan napiter dan mantan kombatan.

"Rekomendasi ini ditujukan memerkuat BNPT yang akan melakukan Rencana Aksi Nasional pada 2018 dengan melibatkan lintas kementerian dan lembaga," tegas Badrus.

Menurut Badrus, temuan riset tersebut sudah dipaparkan dalam Seminar Nasional “Asesmen Pemberdayaan Ekonomi bagi Kaum Muda dalam Menangkal Radikalisme” yang dilaksanakan pada Rabu (20/12) di Hotel Grand Syahid Jaya Jakarta.

Adapun pembicara yang hadir adalah Brigjen Pol Ir. Hamli, M.E. (Direktur Pencegahan BNPT), Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin, MA (Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) dan Nurrohim (Pendiri Sekolah Master Indonesia). Seminar dan Studi ini didanai oleh Convey Indonesia yang dikelola PPIM UIN Jakarta dan UNDP.

Riset lapangan dilakukan pada 25 Agustus hingga 25 September 2017 di lima kota, lima Provinsi, yaitu Nunukan, Kalimantan Utara; Poso, Sulawesi Tengah; Solo, Jawa Tengah; Lamongan, Jawa Timur dan Medan, Sumatra Utara. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif, wawancara mendalam terhadap sekitar 100 responden, FGD, observasi dan analisis dokumen pemerintah dan lembaga daerah dan pusat. [san]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Terbuka Peluang Duetkan Pramono-AHY di 2029

Jumat, 11 September 2026 | 06:21

Komnas Palestina Salurkan 300.000 Liter Air Bersih ke Gaza

Jumat, 11 September 2026 | 06:08

Buku 'Islam Ala Prabowo' Bukan Produk MUI

Jumat, 11 September 2026 | 05:31

Tak Ada Alasan MK Menolak Gugatan Denny Indrayana Cs

Jumat, 11 September 2026 | 05:14

Kemenhaj Tutup Celah Jual Beli Antrean Haji Khusus

Jumat, 11 September 2026 | 05:04

Tiket Termurah Persija vs Persib Rp150 Ribu, Termahal Rp1,5 Juta

Jumat, 11 September 2026 | 04:24

Pansus Papua DPD RI Harus Bongkar Akar Konflik

Jumat, 11 September 2026 | 04:00

Perampasan Aset: Keharusan Hukum vs Kecemasan Publik

Jumat, 11 September 2026 | 03:39

Kudu Yakin Persib Libas Persija 2-0

Jumat, 11 September 2026 | 03:18

Terima Aspirasi Buruh

Jumat, 11 September 2026 | 03:00

Selengkapnya