Partai Golkar resmi mencabut dukungan terhadap Ridwan Kamil untuk berlaga di Pemilihan Gubernur Jawa Barat. Keputusan tersebut tertulis daÂlam surat bernomor R-552/ GOLKAR/XII/2017 tentang Pencabutan Surat Pengesahan Pasangan Calon Kepala Daerah Provinsi Jawa Barat, yang ditanÂdatangani Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto dan Sekertaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham. Dengan demikian, nama Bupati Purwakarta sekaliÂgus Ketua DPD Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi digadang-gadang akan menggantikan poÂsisi Walikota Bandung tersebut.
Sinyal kuat itu terlontar dari pernyataan Wakil Sekertaris Jenderal Partai Golkar, Sarmuji yang menyatakan, Dedi berpoÂtensi besar maju di Pilgub Jabar. Terlebih, sejak awal Golkar meÂmang menginginkan kadernya yang bertarung di Pilgub Jabar.
Meski demikian, Sarmuji tidak serta-merta langsung mengambil keputusan mengusung Dedi, malainkan membahasnya terÂlebih dulu di Musyawarah Nasional Luar Biasa. Lantas, baÂgaimana tanggapan Dedi terkait sinyal tersebut? Lalu benarkan Dedi menjadi dalang di balik pencopotan Golkar terhadap Ridwan Kamil? Berikut penuÂturan lengkapnya;
Kabarnya Anda berperan atas pencopotan dukungan Golkar terhadap Ridwan Kamil? Sebelumnya kami memberi batasan terhadap Ridwan Kamil sampai tanggal 25 November agar menentukan wakilnya. Sebab kami khawatir Golkar sampai ujung tidak ada kejelasan dan akhirnya setelah itu tidak puÂnya pasangan dan calon. Bahkan sampai kemarin tidak ada jawaÂban apapun. Lalu saya dengar mau dibuat konvensi. Konvensi tanpa memberitahu Partai Golkar, sehingga kita berikan laporan keÂpada DPP Golkar tentang perkemÂbangan situasi Pilkada Jabar. Pada akhirnya DPP keluarkan surat pencabutan pasangan Ridwan Kamil-Daniel Muttaqin.
Masalahnya hanya pada konvensi yang akan digelar Ridwan Kamil? Dari awal tak ada perjanjian konvensi dari Golkar. Golkar kan rekomendasikan pasangan calon. Kami tak dapat surat melaksanaÂkan konvensi, kapan konvensinya kita tidak tahu hal itu.
Ada maksud lain terkait pelaporan Anda ke DPP Golkar terÂhadap sikap Ridwan Kamil? Saya sudah sampaikan makÂsud saya hanya memelopori perubahan Partai Golkar. Kita ingin Partai Golkar mengalami perubahan, baik kultur maupun struktur. Sehingga hari-hari ini konsentrasi saya fokus kepada diÂnamika Partai Golkar. Terutama zaman milenial sekarang sehÂingga saya terus membuat konsep tentang tawaran-tawaran perubahan Partai Golkar.
Apa Anda main mata dengan Airlangga Hartarto agar Anda diusung sebagai cagub Jabar? Tidak ada, sejatinya saya concern terhadap perubahan Partai Golkar. Tak ada dasar untuk pencalonan Gubernur Jabar. Dasar saya hanya ingin melakuÂkan perubahan Partai Golkar, dampaknya bagaimana termasuk citranya supaya tren positif.
Lalu siapa calon kuat yang menggantikan Ridwan Kamil? Saya belum bisa memastiÂkan sosok yang akan dipilih DPP Golkar sebagai pengganti Ridwan Kamil. Pasalnya cagub Jabar pilihan Golkar ditentukan oleh Badan Pemenangan Pemilu DPP Golkar yang akan mulai bekerja usai Munaslub.
Kapan kira-kira rapat pemÂbahasan pengganti Ridwan Kamil? Mungkin hari Jumat nanti dibahas. Kami duduk bersama membahas apa yang harus dilakukan Partai Golkar di Jabar.
Pembahasannya tentang nama Anda yang siap diusung Golkar menggantikan Ridwan Kamil? Hari ini tidak membahas keÂsiapan Dedi Mulyadi. Hari ini kita membahas bagaimana reÂkonstrusi Partai Golkar untuk bangkit sebagai partai yang diketuai Airlangga Hartarto.
Anda selalu terlihat dekat dengan Airlangga Hartarto, bagaimana itu? Karena Airlangga merupakan sosok yang dapat mengembaliÂkan kejayaan Partai Golkar.
Kabar tersiar PDIP akan berkoalisi dengan Golkar untuk mengusung cagub dan cawagub Jabar? Kami membuka peluang berkoalisi dengan partai apapun.
Nama Anda disebut cocok mendampingi calon dari PDIP, bagaimana itu? Terima kasihlah untuk PDIP, saÂya ucapkan terima kasih. Tentunya kita sebagai partai politik seÂcara bersama dengan siapa pun. Prinsipnya, apa pun yang dilakuÂkan bermanfaat dan menang.
Jika partai lain termasuk yang saat ini mengusung Ridwan Kamil ingin berkoalisi dengan Golkar, bagaimana itu? Golkar masih terbuka mengÂgandeng partai lain sebagai mitra koalisi. Mengingat perolehan kursi Golkar di Jabar terbilang besar, yakni 17 kursi atau kurang tiga kursi lagi sebagai syarat mencalonkan cagub Jabar.
Lho bukannya PPP, PKB, dan Nasdem sudah memberiÂkan pernyataan tertulis menÂdukung Ridwan Kamil? Saya rasa koalisi pendukung Ridwan Kamil, yakni PPP, PKB, dan Nasdem saat ini sedang melakukan evaluasi, lantaran Ridwan Kamil secara sepihak hendak menggelar konvensi untuk memilih cawagubnya. Saya kerap menghubungi Ketua PKB, Ketua Nasdem, dan PPP. Kalau ditanya, semua tidak punya jawaban, semuanya galau. ***