Berita

Politik

Est Important D'Apprendre De L'Histoire, Berutang Budi Kepada Palestina…

SELASA, 19 DESEMBER 2017 | 08:33 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

SUATU hari di tahun '49 beberapa waktu setelah pengakuan kedaulatan, Moshe Sarett, Menteri Luar Negeri Israel waktu itu, mengirimkan sebuah telegram yang berisi tentang pengakuan Israel atas Indonesia.

Wakil Presiden Mohammad Hatta menanggapi telegram itu dengan sikap dingin.

Hatta seperti halnya Sukarno hanya mengucapkan terimakasih tanpa sepatah kata pun berbasa-basi untuk menawarkan hubungan diplomatik.


Sarett yang merasa tak enak hati dengan sikap Hatta dan Sukarno terus merangsek dengan berterus terang bahwa Israel sangat ingin membina hubungan diplomatik dengan Indonesia, negeri besar dan kaya sumber daya alam yang para pemimpinnya ketika itu dikenal luas dalam percaturan dunia, termasuk di kalangan para pemimpin Arab.

Menanggapi ini Hatta malah dengan ketus menyarankan supaya Israel menunda keinginannya itu sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Waktu Bung Karno memprakarsai Konferensi Asia Afrika, tahun '55, India dan Srilanka minta supaya Israel diundang, Sukarno menolak dengan mengatakan kehadiran Israel akan menyinggung perasaan bangsa-bangsa Arab dan negara-negara lainnya yang waktu itu masih sedang berjuang memerdekakan diri.

Sukarno-Hatta konsekwen dan teguh memegang prinsip antiimperialisme-antikolonialisme, saking membela Palestina Bung Karno bahkan melarang tim sepakbola Indonesia ikut Piala Dunia di Swedia tahun '58.

Waktu itu tim Indonesia sudah lolos di berbagai pertandingan tingkat Asia, dan hanya tinggal bertanding dengan Israel untuk bisa ikut.

Sebagai pemimpin Sukarno ingin menunjukkan satunya kata dengan perbuatan. Baginya kalau tim Indonesia bertanding dengan Israel sama saja artinya Indonesia mengakui eksistensi negeri zionis itu.

Sikap yang sama juga ditunjukkan waktu Indonesia jadi tuan rumah Asian Games, tahun 1962, Indonesia tidak memberikan visa kepada perwakilan Israel, sehingga walaupun para atletnya sudah lama berlatih untuk mempersiapkan diri mereka urung datang ke sini. Sukarno malah mengatakan: "Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menentang penjajahan Israel".

Inilah makna dari ungkapan yang dikatakan tokoh nasional Dr Rizal Ramli, sebuah pepatah Perancis "i l est important d’apprendre de l'histoire", bahwa penting sekali untuk mempelajari sejarah.

Dalam konteks ini adalah sejarah hubungan Indonesia dengan Palestina yang sedemikian erat, dimana kita memiliki utang budi, antara lain Palestina (bersama dengan Mesir) adalah merupakan negara yang pertama-tama mengakui dan mendukung kemerdekaan Indonesia pada 1945. Bukan semata-mata karena Indonesia negeri Muslim dengan jumlah penduduk terbesar tetapi juga oleh karena adanya perasaan senasib sebagai bangsa yang mengalami penjajahan, yang melawan imperialisme dan kolonialisme.

The past always actually, bahkan hingga kini.

Jika Palestina masih berjuang melawan kolonialis-imperialis zionis, negeri ini hari ini pun masih harus membebaskan diri dari neoliberalisme, sebuah faham perekonomian sesat yang menindas rakyat karena memihak kepada kepentingan asing dan aseng, yang merupakan pintu masuk bagi penjajahan baru yang sebenar-benarnya. [***]

Penulis adalah wartawan senior

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Kasus Viral Foto AI di Kalisari Cermin Lemahnya Pengawasan Aparatur

Rabu, 08 April 2026 | 00:14

MSP Raih Penghargaan Proper Emas dan Green Leadership Proper dari KLH

Rabu, 08 April 2026 | 00:04

Polri Ungkap Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Kerugian Capai Rp1,26 Triliun

Selasa, 07 April 2026 | 23:27

Pengawasan Hutan Diperketat Antisipasi El Nino Ekstrem

Selasa, 07 April 2026 | 23:10

Demokrasi seharusnya Mengoreksi, bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara

Selasa, 07 April 2026 | 23:00

HKTI Beri Pendampingan Peternak Lokal yang Dirugikan Perusahaan Besar

Selasa, 07 April 2026 | 22:58

Pulihkan Situasi Halmahera Tengah, Masyarakat Diminta Dukung TNI-Polri

Selasa, 07 April 2026 | 22:33

Dony Oskaria: 15 BUMN Logistik Digabung Bulan Depan

Selasa, 07 April 2026 | 22:19

GREAT Institute Dorong Prabowo Reshuffle 50 Persen Menteri di Kabinet

Selasa, 07 April 2026 | 21:59

Menko Yusril soal Kasasi Delpedro Dkk: Bisa Saja MA Putus NO

Selasa, 07 April 2026 | 21:42

Selengkapnya