Berita

Abdul Somad-Raja Bali/net

Politik

Imam Mahdi Mampir Di Bali

SENIN, 11 DESEMBER 2017 | 17:46 WIB | OLEH: RAMON DAMORA

TERIMAKASIH, Bali. Matur suksma.

Peristiwa yang menimpa Ustad Abdul Somad (UAS) di Bali tak mengurangi apapun di dada kita. Malah ada banyak cinta yang bertambah. Insyaallah.

Doa-doa dari delapan penjuru mata angin kini kian berhamburan ke langit. Memohon supaya Allah menyalakan girah api cinta bertubi-tubi ke palung jantung kaum muslimin yang minoritas di sana.


Hablumminallah. Hablumminannas. Semoga Allah mudahkan keduanya bagi mereka. Sakit, nanar, memar, menegakkan asma Allah di negeri orang yang beda agama, niscaya menjadi ladang amal yang besar.

Dari Bali pula, semakin nampak kecintaan umat pada ulama. Ulama makin terlihat hubb al-wathan-nya. Cinta tanah airnya. Lihat poin terakhir  penjelasan kronologis UAS mengenai insiden Bali. Satu frasa pendek yang disudahi dengan lafaz takbir: NKRI harga mati.

NKRI harga mati. Sah. Clear. Kalimat hakikat dari mulut seorang ahli agama.  Menara cinta tertinggi dari lisan seorang putera Melayu Nusantara. Tak ada lagi menara yang lebih tinggi dari ini.

Semakin viral fatwa "NKRI harga mati" Ustad Somad di ruang-ruang naratif publik, semakin nyata bagi kita bahwa sesungguhnya harga mati itu harga hidup. Harga hidup dengan nilai (value) yang terus-menerus bertambah.

Nilai --dengan N besar. Bukan nilai. Nilai itu, orang Melayu bilang: tiada kira punya. British cakap: your value is not based on your valuables. Masak hari gini kau nilai kebangsaanmu, keindonesiaanmu, secara eceran melalui secarik kertas ikrar?

Sangat penting meneladani sikap yang ditunjukkan UAS di Bali. Mata Ustad tak menoleh sedikit jua pada kertas ikrar kebangsaan yang disodorkan secara paksa oleh sekelompok massa.

Padahal, andai pun UAS sudi membacanya, saya yakin kita akan segera memaklumi hal itu sebagai semacam ijtihad ulama di tengah situasi mencekam. Tiada pula kan surut kasih sayang kita terhadap beliau.

Tapi mata UAS adalah mata NKRI. Di depan umat, ia mata rindu yang gampang tunai. Di hadapan sekelompok kepentingan, dia mata hati yang tak mudah takluk. Lebih baik berputih tulang daripada berputih mata. Itulah harga mati.

Orang Melayu marah UAS disakiti. Ulamanya dilukai. Lantaklah nak didefenisikan dengan apa Melayu itu. Sepanjang nalar main, tak masuk angin, pancang dalam-dalam sekat perspektifmu soal Melayu; etnik, politik, linguistik, geografi, bangsa-nation, negara-state, apa saja. Suka-suka. Tapi jangan pernah agama.

Melayu adalah Islam. Islam adalah Melayu. Dwitunggal. Haram Melayu mengemis supaya nilai-nilai keindonesiaannya dihargai lewat sesuatu yang berharga yang kami miliki: hasil alam minyak gas bumi hutan laut ikan-ikan. Sebab apa yang kami sebut dengan Nilai selalu tentang di luar itu. Kesetiaan. Iman.

Bagi Melayu, ulama adalah al-mahdi, pemandu, sebelum Allah menurunkan Imam Mahdi-Nya yang sejati di penghujung zaman nanti. UAS adalah Imam Mahdi Melayu hari ini.

Tak peduli Melayu sekarang seakan sirna tanpa jejak, tersingkir dari riuh-rendah semesta. Melayu takkan pernah mau kompas lain untuk kembali. Cukup berada di shaf belakang Ustad Abdul Somad, dipandu para ulama, Melayu beriman kepada Allah, setia kepada NKRI, hingga titik darah penghabisan.

Sungguh Bali telah mengingatkan kami lagi soal ini. Terimakasih. [***]

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Prabowo Instruksikan Harga Minyak Nonsubsidi Turun Ikuti Harga ICP

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:57

Gerakan Koperasi Kerakyatan Soemitro Didorong Jadi Syarat Seleksi Manajerial KDMP

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:46

Merawat Konstitusi

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:42

DKI-Bali Perkuat Kerja Sama, Obligasi Daerah Jadi Bahasan Utama

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:34

Tak Benar soal Surpres Pergantian Kapolri

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:31

Gagah saat Malak, Mendadak Ingat Anak-Istri Waktu Mau Dipecat

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:25

Harus Ada Langkah Konkret Atasi Kerugian Peternak Ayam Akibat Pemadaman Listrik

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:23

Prabowo Lepas Kepulangan PM Tailan dari Lanud Halim

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:20

Jalur Wisata Bromo Ditutup Total Gegara Kebakaran Hutan di TNBTS

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:11

IHSG Terbang 1,37 Persen ke 6.319

Selasa, 04 Agustus 2026 | 16:44

Selengkapnya