Berita

Joko Widodo/Net

Pemimpin Bermakna

JUMAT, 08 DESEMBER 2017 | 13:37 WIB | OLEH: FRITZ E. SIMANDJUNTAK

DESMOND Doss, tentara AS berpangkat kopral yang turut berperang melawan Jepang pada PD II. Keunikan Doss adalah dia tidak ingin menggunakan senjata api dan tidak ingin membunuh saat turun di medan perang. Dia hanya ingin menjadi anggota tim medis di tentara.

Sikap tersebut sudah diwujudkan saat latihan. Membuat atasannya bingung dan menggunakan segala macam alasan untuk memecat Doss. Tetapi UU di Amerika Serikat memihak Desmond Doss. Sehingga dia diijinkan tetap sebagai tentara dan turut berperang meskipun tanpa senjata.

Saat bertempur melawan Jepang di Okinawa, Doss berhasil menyelamatkan nyawa 75 rekan tentaranya. Termasuk atasannya yang pernah meminta Doss dipecat. Atas sikap heroiknya Doss, dia mendapat "Medal of Honor" dari Presiden Harry S. Truman dan beberapa penghargaan lainnya.


Apa yang dilakukan Desmond Doss adalah contoh sebuah sikap kepemimpinan bermakna. Seseorang yang memiliki sikap ini tidak semata mencari kesuksesan dalam tugas maupun jabatan. Melainkan makna apa bisa diperoleh orang lain dari tugas yang dibebankan. Kepemimpinan bermakna (significance leadership) pernah dikemukakan oleh John C. Maxwel  yaitu sikap seseorang yang selalu mengedepankan orang lain. Bukan mengedepankan kepentingannya sendiri.

Sikap kepemimpinan bermakna, yang mendahulukan kepentingan rakyat banyak,  juga diperlihatkan Presiden Jokowi selama tiga tahun memimpin Republik Indonesia. Terutama keberanian dan komitmennya mewujudkan salah satu cita cita dibentuknya negara Republik Indonesia yaitu terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Untuk itu Jokowi memprioritaskan dan menggenjot pembangunan infrastruktur, jalan raya, pelabuhan, listrik bahkan menetapkan harga bensin yang sama di seluruh Indonesia.  Pada saat membuka Rakernas Partai Nasdem 15 November 2017 lalu,dengan gamblang Presiden Jokowi menyatakan bahwa langkah-langkah tersebut akan membawa pertumbuhan ekonomi daerah di masa mendatang.

Jokowi juga secara serentak membangun beberapa pos perbatasan termasuk kantornya. Dengan luas dan kualitas yang tidak boleh kalah dari pos perbatasan milik negara tetangga. Karena ini menyangkut martabat dan harga diri bangsa kita.

Tentu saja banyak kritik atas keberanian Jokowi memilih prioritas pembangunan infrastruktur. Sementara kondisi ekonomi Indonesia, juga dunia pada umumnya, belum membaik. "Kita tidak boleh menunggu pertumbuhan ekonomi dulu baru membangun infrastruktur. Ini seperti telur atau ayamnya dulu. Tapi saya percaya kita harus mempercepat pembangunan infrastruktur, karena ini menyangkut pemerataan dan keadilan sosial yang jauh lebih penting," demikian Jokowi.

Differensiasi

Adalah hal yang biasa apabila setiap pemimpin memiliki diferensiasi dalam diri dan programnya. Saat Indonesia baru merdeka, Soekarno tahu persis bahwa merajut persatuan merupakan prioritas utama bagi dirinya. Saat itu infrastruktur masih menjadi kendala utama. Padahal kawasan Indonesia sangat luas. Itu sebabnya Soekarno mengutamakan keahlian pidato sebagai diferensiasi yang ditonjolkan. Rakyat bisa terkesima dan bersedia mendengar pidato Soekarno ber jam jam meskipun hanya lewat radio.

Kali ini Jokowi lebih mengedepankan hasil kerja untuk pemerataan dan keadilan sosial sebagai diferensiasinya. Jokowi menempatkan kepentingan rakyat Indonesia, terutama yang berada di Indonesia Timur, untuk merasakan keberpihakan pemerintah kepada mereka.

Memiliki sikap kepemimpinan bermakna dengan mengedepankan kepentingan orang lain bisa dilakukan siapapun. Tidak harus karena memiliki jabatan dan posisi yang tinggi.

Bagi Jokowi selain pembangunan infrastruktur, sikap tegas terhadap tindakan korupsi juga merupakan bagian dari pewujudan keadilan sosial. Sayangnya keteladanan Jokowi untuk tidak korupsi dan menghambur-hamburkan uang negara, baik melalui APBN/APBD, masih belum berjalan baik. Alokasi anggaran masih banyak terserap untuk belanja pegawai, biaya operasional atau perjalanan. Sementara porsi anggaran untuk pembangunan masih lebih kecil.

Saat debat capres/cawapres lalu Jokowi berjanji akan mengkunci anggaran kementerian atau kepala daerah yang tidak mendukung upaya pemerintah pusat untuk mengedepankan keberpihakan kepada rakyat. Langkah nyata atas janji ini masih belum terlihat. Mungkin penggunaan aplikasi E-Budgeting bagi seluruh lembaga pemerintahan sudah mutlak diterapkan. Memang sudah beberapa daerah melakukannya. Bahkan Banyuwangi memiliki sistem "E-Village Budgeting" untuk program pembangunan di desa desa. Mempercepat standarisasi E-Budgeting akan membantu anggaran pemerintahan yang lebih transparan penggunaannya dan pencegahan tindak korupsi.

Kit harapkam Jokowi, sebagai Presiden, turun tangan dan memberi prioritas tinggi dalam membangun infrastruktur internet sampai ke desa dan penggunaan aplikasi-aplikasi E-Budgeting, laporan kerja online, harga satuan onlie dan lain-lainnya.

Kalau ini terjadi maka rakyat Indonesia benar-benar akan memperoleh manfaat atas sikap kepemimpinan bermakna di seluruh jajaran di pemerintahan.[***]
 


Penulis adalah Sosiolog, Anggota Senat Indonesia Marketing Association dan tinggal di Jakarta

 

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Kesiapan Listrik dan Personel Siaga PLN Diapresiasi Warga

Sabtu, 10 Januari 2026 | 21:51

Megawati Minta Kader Gotong-Royong Bantu Sumatera

Sabtu, 10 Januari 2026 | 21:35

Muannas Peringatkan Pandji: Ibadah Salat Bukan Bahan Lelucon

Sabtu, 10 Januari 2026 | 21:28

Saksi Cabut dan Luruskan Keterangan Terkait Peran Tian Bahtiar

Sabtu, 10 Januari 2026 | 20:53

Rocky Gerung: Bagi Megawati Kemanusiaan Lebih Penting

Sabtu, 10 Januari 2026 | 20:40

Presiden Jerman: Kebijakan Trump Merusak Tatanan Dunia

Sabtu, 10 Januari 2026 | 19:53

Ostrakisme Demokrasi Athena Kuno: Kekuasaan Rakyat Tak Terbatas

Sabtu, 10 Januari 2026 | 19:31

Megawati Resmikan Pendirian Kantor Megawati Institute

Sabtu, 10 Januari 2026 | 18:53

Khamenei Peringatkan Trump: Penguasa Arogan Akan Digulingkan

Sabtu, 10 Januari 2026 | 18:06

NST 2026 Perkuat Seleksi Nasional SMA Kemala Taruna Bhayangkara

Sabtu, 10 Januari 2026 | 17:36

Selengkapnya