Susaningtyas Kertopati/Net
Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Hadi Tjahjanto diajukan Presiden Jokowi sebagai calon tunggal Panglima TNI pengganti Jenderal Gatot Nurmantyo. Uji keÂlayakan dan kepatutan terhadap Marsekal Hadi bakal diagendaÂkan dalam waktu dekat ini.
Berikut pengamatan pakar miÂliter dan intelijen Susaningtyas Kertopati, terkait pencalonan Marsekal Hadi Tjahjanto:
Menurut Anda, seberapa penting penguatan alutsista untuk TNI AU?
Sesuai visi Presiden Jokowi dalam poros maritim dunia, penguatan pilar kelima unÂtuk pertahanan maritim fokus meningkatkan kemampuan AL dan AU.
Sesuai visi Presiden Jokowi dalam poros maritim dunia, penguatan pilar kelima unÂtuk pertahanan maritim fokus meningkatkan kemampuan AL dan AU.
Sesuai dengan tahapan pemÂbangunan kekuatan maritim, sudah selayaknya alutsista AU mendapat prioritas pertama. Kekuatan udara harus dibangun agar mampu beroperasi 24 jam hingga ruang udara di atas ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) dan landas kontinen. Kemampuan tersebut sangat dibutuhkan TNI untuk menjamin keunggulan di udara dan di laut. Artinya, kekuatan udara tersebut ditujuÂkan untuk memberikan perlindungan udara atas semua operasi militer di laut. TNI AU memÂberikan jaminan air supremacy dan air superiority agar TNI ALmampu melaksanakan semua operasi di laut menjaga stabilitas keamanan maritim.
Jadi, penunjukan Marsekal Hadi sudah tepat? Sudah selayaknya Panglima TNI (selanjutnya) dijabat dari TNI AU. Ini guna mewujudkan kepentingan nasional atas perÂtahanan maritim tersebut.
Memangnya, apa keungguÂlan TNI AU dalam mewujudÂkan cita-cita poros maritim dunia? TNI AU memiliki cara pandang bahwa ruang udara memiliki nilai yang sangat penting dalam menÂdukung program pembangunan yang sedang dijalankan pemerintah. Nilai yang paling penting adalah nilai ekonomis.
Sehingga, pola gelar TNI AU mengutamakan di daerah depan yaitu Natuna, Tarakan, Morotai, Biak, Merauke, dan Kupang. Dengan demikian, kita akan mampu mengawasi ruang udara dan wilayah yang ada di bawahÂnya mulai dari ZEE. Kemampuan yang akan Kita tingkatkan adalah kemampuan penginderaan dan penindakkan atas obyek di udara dan obyek di atas permukaan.
Pembenahan yang harus dilakukan Marsekal Hadi jika sudah sah menjadi Panglima? Pembenahan TNI harus diutaÂmakan untuk peningkatan komÂpetensi dan kapasitas prajurit TNI demi menjadi scholar warÂrior. Kompetensi prajurit TNI harus mencapai tingkatan setara dengan kompetensi prajurit negara maju. Kapasitas prajurit TNI harus mencapai tingkatan intelektual akademik melakukan analisis berbagai operasi militer secara ilmiah. Pembenahan TNI juga harus diarahkan untuk mencapai efisiensi organisasi agar lebih responsif menghadapi berbagai jenis ancaman, mulai dari ancaman militer, ancaman non-militer, sampai ancaman nirmiliter. Organisasi TNI harus dibenahi agar struktur dan posÂturnya lebih tanggap mengantisiÂpasi perkembangan lingkungan strategis global, regional, dan nasional.
Mengenai alutsista, apa yang harus dilakukan Panglima baru untuk melakukan pemÂbenahan? Seperti kita ketahui, rencana strategis (renstra) pembangunan TNI melalui program Minimum Essensial Force (MEF) dibagi dalam 3 tahap. Tahap pertama, 2009 hingga 2014. Tahap kedua, 2015 sampai 2019. Tahap ketiga, 2020 hingga 2024. Target yang ditentukan dalam renstra 1 adaÂlah 30 persen. Restra 2 adalah 30 persen. Sisanya diselesaikan dalam renstra terakhir. Dalam renstra pertama, telah dicapai kurang lebih 27 persen. Sementara dalam renstra kedua, dalam 3 tahun terakhir ini masih 0 persen. Seharusnya, dalam renstra kedua ini sudah ada yang tercapai, di antaranya pengadaan pesawat tempur TNI AU, kapal selam TNI AL, dan rudal taktis TNI AD.
Kalau kondisi demikian, apa yang harus dilakukan? Tersendatnya pengadaan alutÂsista ini harus segera mendapat perhatian Kemenhan. Tujuannya, agar program pembangunan alutsista TNI dapat diwujudkan sesuai renstra. Membangun dan memperkuat TNI tidak boleh terhambat, mengingat hakekat ancaman yang semakin nyata di depan kita. Dua spot yang menÂjadi perhatian kita, terutama di wilayah Natuna dan perbatasan dengan Filipina, tidak boleh diabaikan.
Jadi, ini kembali ke komitÂmen Pemerintah? Tuntutan terhadap profesionalitas TNI menuntut Pemerintah untuk memenuhi kebutuhan asasi TNI. Pemerintah harus meÂlengkapi TNI dengan peralatan tempur modern agar seimbang dengan kompetensi prajurit TNI. Pemerintah dapat memenuhi kebutuhan fasilitas dan sarana-prasarana untuk menyelengÂgarakan pendidikan dan latihan. Pemerintah dapat menyediakan alokasi anggaran sesuai Benefit- Cost Analysis antara tugas TNI dan dukungan logistiknya.
Pada intinya, jangan sampai tuntutan terhadap kompetensi prajurit TNI tidak seimbang risiko yang dihadapi di medan tugas. Sebagai contoh, tunjangan kinerja TNI seharusnya mendaÂpat alokasi yang paling tinggi karena adanya risiko kematian. Risiko kematian prajurit militer lazim digunakan dalam perhiÂtungan gaji atau tunjangan lain.
Kembali ke tugas Panglima, apa yang harus dilakukan Marsekal Hadi dalam pembeÂnahan alutsista? Pembenahan yang bersifat interoperability agar seluruh alutsista ketiga matra dapat diÂgunakan secara terintegrasi. Contohnya, meskipun jenis alat komunikasi yang diadakan oleh masing-masing angkatan berbeÂda, tetapi harus tetap terintegral ke dalam sistem komunikasi ketika operasi gabungan digelar.
Pembenahan yang bersifat communability agar suku cadang dan/atau logistik alutsista yang diadakan suatu angkatan daÂpat memenuhi kebutuhan angÂkatan lainnya. Contoh, suku cadang tank milik Angkatan Darat dapat digunakan oleh panser Korps Marinir. Amunisi meriam kaliber 40 mm Angkatan Laut dapat mendukung kebutuÂhan pesawat tempur Angkatan Udara. Menggunakan Operation Research, maka pembenahan alutsista tersebut dituntut menÂcapai level yang minimal, yaitu yang minimal dari semua kondisi maksimal. ***