Berita

Fritz Edward Siregar/Net

Wawancara

WAWANCARA

Fritz Edward Siregar: Kami Tak Punya Anggaran Untuk Awasi Setiap Permasalahan Di Daerah Rawan

KAMIS, 30 NOVEMBER 2017 | 09:54 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) telah melakukan pemetaan daerah rawan konflik di pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2018. Ada tiga provinsi yang masuk dalam kategori ting­kat kerawanan tertinggi, yaitu Papua, Kalimantan Barat, dan Maluku. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan Bawaslu sejak pertengahan 2017, Provinsi Papua mendapatkan indeks skor 3.41. Sementara, Provinsi Maluku mendapatkan skor 3.25, dan Provinsi Kalimantan Barat mendapatkan skor 3.04. Berikut pemaparan Anggota Bawaslu Fritz Edward Siregar terkait pemetaan kerawanan Pilkada 2018 itu.

Kenapa ketiga daerah itu tingkat kerawanannya ter­masuk yang tertinggi?
Di Papua itu penyebabnya dimensi partisipasi. Pertisipasi pemantau pemilu dan perlind­ungan terhadap hak pilih di sana masih minim. Kalau ker­awanan di Maluku disebabkan oleh dimensi penyelenggaraan, terutama berkaitan dengan in­tegritas dan profesionalitas pe­nyelenggara.

Adapun penyebab kerawa­nan tinggi di Kalimantan Barat ada pada dimensi kontestasi, di antaranya disebabkan oleh maraknya politik identitas, peng­gunaan isu SARA, dan politisasi birokrasi.

Adapun penyebab kerawa­nan tinggi di Kalimantan Barat ada pada dimensi kontestasi, di antaranya disebabkan oleh maraknya politik identitas, peng­gunaan isu SARA, dan politisasi birokrasi.

Atas dasar apa Bawaslu me­nilai ketiga daerah itu sebagai yang tertinggi?
Sebenernya IKP (Indeks Kerawanan Pemilu) ini dilihat dari tiga dimensi, kontestasi par­tai politiknya, penyelenggaranya, dan partisipasi masyarakatnya. Jadi masing-masih kan punya skor tuh, 30 persen, 35 persen, dan 35 persen. Jadi dari ketiga itu saja ketahuan mana yang tinggi dan tidak tinggi.

Jadi misalnya kalau ditanya kenapa tinggi, karena skornya tinggi jika dilihat dari tiga kategori besar itu. Apakah kar­ena penyelenggara pemilunya kena tangkap, atau lagi diper­iksa DKPP (Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu), atau bagaimana partisipasi dari masyarakat begitu.

Itu kan hanya indikator umum. Apakah akurat untuk menggambarkan suatu daerah itu memang rawan?
Itu kan ada metodologinya. Makanya mau lihat akurat atau tidak, lihat metodologi yang dipakai untuk menghitung angka-angka itu. Selain itu kan ada FGD (focus group disscusion) di daerah masing-masing. Tim kami turun ke 17 provinsi tersebut un­tuk melihat kondisi di TKP. Jadi misalnya kalau ada lembaga lain yang merasa kami tidak akurat, ya enggak apa-apa. Malah kami harap itu enggak akurat. Kalau survey itu kan semakin sama angkanya dengan kondisi di lapangan, semakin akurat itu. Kalau kami malah ingin supaya itu tidak tepat.

Kenapa begitu?
Supaya apa yang dikhawatir­kan tidak terjadi. Makanya ini menjadi early warning, men­jadi masukan buat teman-te­man penyelenggara, kepolisian, dan BIN supaya mereka tahu permasalahan apa saja yang bisa terjadi. Kami tidak per­nah mengatakan itu yang pal­ing benar. Silakan saja polisi, Kemenkopolhukam, BIN buat sebuah indeks tersendiri. Dalam menjaga proses pemilu Bawaslu mungkin tidak punya resources, untuk mengawasi seluruhnya. Jadi kami harus tahu nih, mana yang paling penting, mana yang kurang penting supaya bisa di­jaga. Jadi kami bisa lebih fokus ke sana, agar kerawanan tersebut tidak terjadi.

Tapi apakah ada indikator yang lebih khusus enggak untuk memetakannya?

Masalahnya indikatornya itu ada 10, dan sudah ada 30 pertan­yaan. Jadi misalnya kontestasi itu apa saja yang ditanya, pe­nyelenggara apa saja, peserta apa saja. Itu di break down lagi menjadi 30 pertanyaan. Baru muncul angka-angka itu. Itu angka yang bersifat kuantitatif dan kualitatiflah, karena ada perhitungannya.

Kalau menurut Polri kan ada lima daerah yang rawan,dan yang sama dengan Bawaslu itu hanya Papua. Apa penyebab perbedaan kerawanan terse­but?
Wah saya kurang tahu itu. Tapi tidak masalah juga. Sesama pengawas pemilu itu kan harus saling sharing. Kan mungkin saja Polri punya informasi mana saja daerah yang rawan, dan itu kenapa dia rawannya. Makanya niat kami buat indeks ini bukan untuk jadi yang paling benar. Tetapi adalah untuk memberikan simulasi kondisi yang harus diperhatikan.

Kalau polisi kan mungkin dapat informasi yang lain. Kami hanya fokus kepada penyeleng­gara pemilu, partai politiknya, dan partisipasinya. Mungkin polisi dia tahu ada gerakan-gerakan, tahu ada isu-isu yang tidak dipublish ke publik.

Makanya tidak masalah jika berbeda. Tapi kami tidak tahu informasi apa yang dipegang polisi sehingga penilaiannya seperti itu.

Kalau menurut Bawaslu, empat wilayah yang menurut Polri rawan itu juga rawan enggak?
Kalau menurut kami keempat daerah itu tingkat kerawanan­nya sedang. Sumatera Utara ada di nomor empat, Jawa Timur ada di nomor sembilan, Sulawesi Selatan ada di nomor 12, dan Jawa Barat di urutan 13. Sumatera Utara menda­pat skor 2.89, Jawa Timur 2.68, Sulawesi Selatan 2.53, dan Jawa Barat 2.52.

Apa yang Bawaslu lakukan guna menghadapi tiga daerah yang rawan itu dan daerah rawan lainnya?
Seperti yang saya sampaikan tadi, kami kan tidak punya ang­garan untuk mengawasi setiap permasalahan. Makanya kami lihat sesuai segmentasinya. Ada rawan secara keseluruhan, dan ada yang terkategori.

Misalnya ada sebuah daerah yang ujaran kebenciannya ting­gi. Itu kami mendekati ulama dan para pihak supaya mereka membantu mengatasi masalah tersebut.

Ada juga daerah yang kerawa­nan muncul karena banyaknya hoax, akibat penggunaan sosial media yang berlebihan. Itu be­rarti kami fokus ke masalah sosial medianya. Jadi ada tar­geted problems, dan ada targeted stakholders yang harus diidenti­fikasi dalam rangka mengatasi permasalahan di tiap daerah.

Kalau dilihat ke belakang tiga daerah ini terutama Papua cukup sering masuk kategori tingkat kerawanan tertinggi. Menurut Bawaslu kenapa bisa begitu?
Memang sepertinya begitu. Banyak faktor saya rasa kenapa bisa berulang. Salah satunya mungkin karena masyarakatnya tidak bertumbuh. Mereka tidak mengalami pendidikan politik yang lebih baik, makanya tetap seperti itu saja. ***

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

UPDATE

Diminati Klub Azerbaijan, Persib Siap Lepas Eliano Reijnders?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:58

Investasi Emas untuk Keuntungan Maksimal: Mengapa Harus Disimpan dalam Jangka Panjang?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:37

Harga Plastik Melonjak, Pengamat Ingatkan Dampaknya Bisa Lebih Berbahaya dari BBM

Sabtu, 04 April 2026 | 14:49

DPR Minta ASN yang WFH Dipantau Ketat!

Sabtu, 04 April 2026 | 14:31

Komisi V DPR Minta Pemerintah Lakukan Pemilihan Terdampak Gempa Sulut-Malut

Sabtu, 04 April 2026 | 14:00

DPR Minta Pemda Pertahankan Guru PPPK Paruh Waktu di Tengah Efisiensi Anggaran

Sabtu, 04 April 2026 | 13:47

Trump Digugat Dua Lusin Negara Bagian Terkait Pemilu

Sabtu, 04 April 2026 | 13:24

Daftar Tayang Bioskop April 2026: Dari Petualangan Galaksi Mario hingga Ketegangan Horor Lokal

Sabtu, 04 April 2026 | 13:22

Ledakan di Markas PBB Lebanon Kembali Lukai 3 Prajurit TNI, 2 Luka Serius

Sabtu, 04 April 2026 | 13:01

Sindiran Iran ke AS Menggema di Tengah “Pembersihan” Pentagon

Sabtu, 04 April 2026 | 12:51

Selengkapnya