Berita

Suhardi Alius/Humas BNPT

Pertahanan

BNPT Dan PPATK Fokus Memutus Rantai Pendanaan Terorisme

MINGGU, 26 NOVEMBER 2017 | 06:38 WIB | LAPORAN:

Berbagai upaya telah diambil oleh Pemerintah Indonesia melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam melawan pendanaan terorisme dengan melibatkan Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK). Di mana Indonesia beberapa waktu lalu telah meluncurkan White Paper mengenai pemetaan risiko Pembiayaan Teroris yang terkait dengan jaringan teroris domestik yang berafiliasi dengan jaringan kelompok terorisme Islamic State Iraq and Suriah (ISIS).

Hal tersebut dikatakan Kepala BNPT Komjen Pol. Suhardi Aliussaat  menjadi salah satu narasumber dalam acara 3rd Counter-Terrorism Financing (CTF) Summit yang dilaksanakan pada tanggal 20-23 November 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Berbicara dalam sesi “Setting the Scene for the Future of TF Response in the Region” yang berlangsung pada Selasa (23/11/2017) kemarin, Kepala BNPT menyampaikan pentingnya meningkatkan kerjasama internasional dalam penanganan terorisme termasuk dalam hal penanganan pendanaan terorisme.


"Begitu risikonya dipahami dengan benar, negara-negara dapat menerapkan tindakan penanggulangan tersebut. Fokus BNPT dan PPATK adalah memutus rantai pendanaan terorisme. Jadi white paper ini adalah upaya kami untuk memecahkan rantai pendanaan terorisme dalam negeri yang berafiliasi dengan ISIS," kata kepala BNPT .

Lebih lanjut Suhardi menceritakan, disadari bahwa ISIS sendiri saat ini menghadapi kekalahan, seperti dapat dilihat pada tahun 2015, di mana ISIS telah meninggalkan kota Tikrit, Irak. Lalu di Suriah, kota Palmyra dan Sinjar bisa diambil alih oleh pemerintah. Sementarara pada akhir 2015, kota Ramadi bisa dikendalikan oleh pasukan koalisi.

Sepanjang 2016 ISIS mengalami serangkaian kekalahan dengan penguasaan kota Mosul Selatan. Pada bulan Juli 2017 aliansi Irak menguasai kota Mosul. ISIS masih berhasil menyebarkan ideologinya melalui media jejaring sosial utama di seluruh dunia (seperti facebook, telegram, twitter dan youtube). Melalui media sosial ISIS berhasil mempengaruhi kelompok ekstremis, kelas menengah bawah, perempuan dan pemuda tanpa batas.

"Kekalahan ISIS di beberapa wilayah yang mereka kuasai di Irak dan Suriah serta berhasil diusirnya pendukung ISIS di kota Marawi tidak berarti menyurutkan ancaman yang bisa mereka timbulkan. Mereka sewaktu-waktu bisa menjadi ancaman nyata mengingat kemampuan mereka beradaptasi dan propaganda masif yang terus mereka lakukan terutama lewat dunia maya,"  kata mantan Sekretaris Utama (Sestama) Lemhanas ini.

Dalam pandangannya, kekalahan ISIS ini akan menjadi titik awal ISIS untuk mengkonsolidasikan dan mengubah propaganda keberadaannya. "ISIS akan bermetamorfosis untuk membentuk strategi dan gerakan baru, mencari episentrum lain dan juga pemimpin baru setelah Baghdadi," ujan mantan Kabareskrim Polri ini.

Aktivisme ISIS, menurut Suhardi, bahkan lebih masif di berbagai negara untuk menunjukkan eksistensinya. ISIS telah berhasil memperkuat basis media sosial yang menargetkan generasi muda yang bisa menjadi amunisi baru untuk melanjutkan misinya terutama di kawasan ini.

"Kekalahan ISIS di Suriah mengakibatkan pelepasan elemen pendukung ISIS yang meluas ke negara-negara asal dan negara untuk menyebarkan tindakan dan ideologi mereka ke seluruh dunia," ujar pria kelahiran Jakarta, 10 Mei 1962 ini

Dalam kaitan ini menurut mantan Kapolda Jawa Barat ini, hubungan kuat antara kelompok dan jaringan yang berafiliasi dengan ISIS di Asia Tenggara telah menyebabkan penyelundupan senjata api, pelatihan, dan pendanaan terorisme yang tentunya akan menimbulkan ancaman yang signifikan di wilayah ini. Dan untuk memerangi pendanaan terorisme di daerah jelas dia, memerlukan implementasi yang kuat dan efektif dalam berbagi informasi antar negara di kawasan ini. termasuk kebijakan dengan melakukan tindakan yang lebih konkret.

Untuk itulah dengan menjalin kerjasama yang lebih baik antar negara dan kemitraan yang solid dengan sektor swasta dan masyarakat diyakininya akan dapat secara efektif dalam melawan pendanaan terorisme tersebut.

"Saya sangat optimis dengan hal ini. Indonesia selalu siap dan menyambut baik upaya untuk memperkuat kerjasama internasional di semua tingkat dalam rangka memerangi terorisme dan pembiayaannya," ujarnya mengakhiri.

Pertemuan ini terselenggara atas kerjasama Financial Intelligence Unit (FIU) tiga negara yaitu, Malaysia (Bank Negara Malaysia, Indonesia (PPATK) dan Australia (AUSTRAC).[wid]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya