Berita

Foto: Al Jazeera

Global

AS Peringatkan Warganya Tak Bepergian Ke Arab Saudi

RABU, 22 NOVEMBER 2017 | 16:08 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat memperingatkan warganya untuk mempertimbangkan dengan hati-hati bila hendak bepergian ke Arab Saudi dengan menyebutkan ancaman teroris yang terus berlanjut dan tumpahnya kekerasan dari Yaman ke seberang perbatasan.

Peringatan perjalanan yang dikeluarkan pada hari Selasa (21/11) dengan juga memperingatkan ancaman rudal balistik yang ditembakkan oleh kelompok pemberontak dari Yaman ke wilayah kerajaan tersebut.

"Pada tahun lalu, pemberontak telah menembakkan beberapa rudal jarak jauh ke Arab Saudi yang mampu mencapai wilayah Riyadh dan Jeddah, dan mereka telah menyatakan niat mereka untuk terus melakukannya," kata Departemen Luar Negeri.


Rudal terbaru yang ditembakkan ke Arab Saudi mendarat di sebelah utara ibukota, Riyadh, pada tanggal 4 November lalu dan menyebabkan puing-puing jatuh di dekat Bandara Internasional Raja Khalid

Arab Saudi sendiri diketahui telah memimpin sebuah koalisi dalam perang di Yaman sejak Maret 2015, ketika kerajaan kaya minyak tersebut turun tangan untuk mendorong pemberontak Houthi kembali dan mengembalikan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.

Departemen Luar Negeri juga melarang pegawai pemerintah Amerika Serikat dan keluarga mereka untuk bepergian ke daerah manapun dalam jarak 50 mil dari perbatasan Saudi-Yaman, termasuk kota-kota Jazan dan Najran.

"Pasukan Yaman juga secara rutin menembakkan artileri ke kota-kota perbatasan Saudi dan melancarkan serangan lintas-perbatasan terhadap personil militer Saudi," katanya.

"Akibatnya, kemampuan Misi Amerika Serikat untuk memberikan bantuan konsuler di wilayah ini terbatas, dan warga Amerika Serikat seharusnya tidak melakukan perjalanan ke daerah ini," sambung pernyataan tersebut seperti dimuat Al Jazeera.

Selanjutnya, peringatan tersebut juga melarang warga Amerika Serikat pergi ke beberapa daerah yang mudah menguap, seperti Qatif di provinsi timur dan wilayah Al Ahsa, tempat pasukan Saudi melakukan konfrontasi reguler dengan warga minoritas Syiah. [mel]

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya