Berita

Situs rahasia CIA di Afghanistan/Net

Dunia

Pengadilan Pidana Internasional Selidiki Situs Rahasia CIA Di Afghanistan

SELASA, 21 NOVEMBER 2017 | 14:25 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Penyidik utama Pengadilan Pidana Internasional (ICC), Fatou Bensouda, meminta izin pengadilan untuk melancarkan investigasi kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Afghanistan.

Menurut sebuah pernyataan ICC, penyelidikan tersebut akan melihat kejahatan yang dilakukan di Afghanistan sejak 1 Mei 2003, serta kejahatan yang terkait dengan konflik yang terjadi di luarnya sejak 1 Juli 2002.

Pihak-pihak yang diselidiki akan termasuk Taliban dan Kelompok kuat lainnya seperti Jaringan Haqqani, serta Pasukan Keamanan Nasional Afghanistan (ANSF), khususnya anggota Direktorat Keamanan Nasional (NDS) dan Kepolisian Nasional Afghanistan (ANP) .


Situasi di Afghanistan sendiri telah berada di bawah pemeriksaan awal oleh Kantor Jaksa sejak 2006.

"Setelah mendapat informasi menyeluruh dan cermat mengenai informasi yang tersedia di kantor, dengan menerapkan kriteria hukum Statuta Roma yang berlaku, jaksa telah menetapkan bahwa ada dasar yang masuk akal untuk melanjutkan penyelidikan mengenai situasi di Afghanistan," begitu pernyataan dari ICC.

Investigasi ini juga akan memeriksa kejahatan perang dan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya, dengan fokus tambahan pada Central Intelligence Agency dan perannya dalam mengoperasikan fasilitas penahanan rahasia, yang disebut "situs hitam," di wilayah Afghanistan dan negara-negara sekutu lainnya.

Situs hitam ini digunakan oleh CIA untuk menahan dan mempertanyakan tersangka teroris setelah 11 September. Tak jarang proses investigasi ini menggunakan "teknik interogasi yang disempurnakan" yang telah dikritik sebagai eufemisme untuk penyiksaan.

Di antara teknik yang digunakan adalah waterboarding, di mana kain ditempatkan di atas wajah narapidana dan air dituangkan ke atas, menciptakan rasa tenggelam. Teknik interogasi yang disempurnakan lainnya termasuk posisi stres, kurang tidur dan penghinaan.

Situs hitam CIA berada di Polandia, Lithuania, Rumania, Thailand dan Afghanistan. Wakil direktur agen saat ini, Gina Haspel, mengelola fasilitas semacam itu di Thailand yang dijuluki "Cat's Eye," dan kemudian dilaporkan berpartisipasi dalam penghancuran kaset video interogasi yang menunjukkan penyiksaan terhadap tahanan di penjara yang dia jalani, dan juga rahasia lainnya. Demikian seperti dimuat Russia Today. [mel]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Nasdem Ingatkan Ancaman El Nino dan Dampak Geopolitik ke Pangan Nasional

Selasa, 07 April 2026 | 14:17

Istana Kaji Wacana Potong Gaji Menteri, Belum ada Keputusan

Selasa, 07 April 2026 | 14:14

Pemerintah Genjot Biofuel untuk Redam Dampak Kenaikan Harga Pangan

Selasa, 07 April 2026 | 14:02

Benteng Etika Digital: Pemerintah Godok Dua Perpres untuk Jinakkan Risiko AI

Selasa, 07 April 2026 | 13:53

KPK Panggil Petinggi 5 Perusahaan Travel Haji

Selasa, 07 April 2026 | 13:34

Seruan Saiful Mujani Tak Digubris, Istana: Prabowo Fokus Agenda Strategis

Selasa, 07 April 2026 | 13:33

Monitoring Ketat Jadi Kunci WFH ASN Tetap Produktif

Selasa, 07 April 2026 | 13:21

Pemerintah Klaim Ketahanan Pangan Nasional Stabil hingga 11 Bulan ke Depan

Selasa, 07 April 2026 | 13:17

Jangan Adu Domba Rakyat dengan Pemerintah Soal BBM

Selasa, 07 April 2026 | 13:11

Kasus Suap Pemkab Bekasi: KPK Periksa Istri Ono Surono Sebagai Saksi

Selasa, 07 April 2026 | 13:08

Selengkapnya