Berita

Grace Mugabe/Net

Dunia

Ambisi Politik Ibu Negara Berujung "Penggulingan" Sang Presiden

KAMIS, 16 NOVEMBER 2017 | 09:02 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Nama Grace Mugabe menjadi sorotan dunia beberapa waktu terakhir ini. Ibu negara Zimbabwe itu digadang-gadang akan menjadi penerus sang suami, Robert Mugabe, untuk mengemban jabatan di kursi nomor satu negara tersebut.

Langkahnya untuk memimpin Zimbabwe nampak semakin terbuka setelah sang suami memecat wakilnya,  Emmerson Mnangagwa pekan lalu. Mnangagwa sebelumnya adalah salah satu letnan Mugabe yang paling setia dan telah bekerja sama dengannya selama berpuluh-puluh tahun. Ia juga merupakan pesaing utama Grace Mugabe. Ia dipecat setelah Grace Mugabe menuduh pendukungnya merencanakan sebuah kudeta.

Setelah dipecat, ia melarikan diri ke Afrika Selatan dan vokal mengatakan ada ambisi politik Grace Mugabe untuk memimpin Zimbabwe.


Pemecatan Mnangagwa memicu tindakan agresif militer Zimbabwe. Awal pekan ini, Kepala Angkatan Darat Jenderal Constantino Chiwenga memberikan pernyataan bahwa ia memperingatkan Mugabe bahwa militer akan melakukan intervensi jika Mugabe terus membersihkan partai pemimpin ZANU-PF yang berkuasa seperti Mnangagwa. Langkah itu direalisasikan pada Rabu (15/11) dengan pengambilalihan kekuasaan oleh militer.

Kendati begitu, militer menolak mengatakan bahwa mereka telah melakukan kudeta. Mereka hanya ingin "memberishkan" penjahat yang berada di sekitar Mugabe, sementara sang presiden sendiri berada dalam kondisi aman dan selamat.

Sementara sosok Grace sendiri, bagi pendukungnya, ia adalah seorang pengusaha dan filantropis berbakat. Mereka mengagumi dukungan kuat suaminya. Mereka memuji filantropinya, pendirian panti asuhan dan apa yang mereka gambarkan sebagai keahliannya sebagai pebisnis.

Grace membangun sebuah kerajaan peternakan sapi perah di lahan yang sebelumnya dimiliki oleh warga Zimbabwe kulit putih. Dia juga menjalankan beberapa bisnis pertambangan, meskipun sebagian besar dilaporkan gagal.

Namun beberapa waktu terakhir, Grace Mugabe telah menunjukkan dirinya sebagai orang yang kejam.

"Dia baru-baru ini mendapatkan reputasi yang sangat sombong, sangat otokratis dalam hal bagaimana dia berurusan dengan orang-orang yang menanyainya dan yang menanyai suaminya," kata Edmond Keller, ilmuwan politik dan pakar Afrika di University of California , Los Angeles.

Keller merujuk pada kasus yang terjadi pada bulan Agustus lalu di mana sang ibu negara ituduh menyerang model Afrika Selatan dengan kabel listrik setelah menemukan wanita di kamar hotel bersama anak-anaknya. Ia menolak hadir di persidangan dan menggunakan kekebalan diplomatik.

Selain itu, awal bulan ini, empat orang ditangkap setelah dituduh mencemooh Grace dalam sebuah demonstrasi.

Kemunculan Grace di arena politik pertama kali mendapat sorotan yang signifikan dengan pengangkatannya pada tahun 2014 sebagai sekretaris pertama liga wanita partai tersebut.

Posisi itu memberinya kursi di Politbiro yang kuat. Sekitar waktu yang sama, Universitas Zimbabwe memberinya gelar doktor dalam sosiologi yang tampaknya dapat meningkatkan kepercayaannya. Namun, para kritikus mempertanyakan tingkat validitasnya karena dia terdaftar di sekolah hanya tiga bulan dan tidak pernah membela disertasi.

Sejak saat itum ia kerap melakukan kampanye untuk mendukung pemerintahan sang suami.

Beberapa tahun lalu, ia juga diketahui pernah memunculkan isu kudeta yang direncanakan oleh wakil presiden saat itu, yakni Joice Mujuru. Ia mendorong serangan aksi unjuk rasa untuk menuntut pemecatan Mujuru. Akhirnya, sang presiden pun memecat wakilnya tersebut.

Pada satu demonstrasi dia mengatakan: "Mereka ingin saya menjadi presiden mengapa tidak? Apakah saya bukan orang Zimbabwe?".

Ambisi politik sang ibu negara nampaknya membawa Presiden Mugabe yang merupakan salah satu pemimpin kuat era kemerdekaan Afrika dan telah memimpin negara tersebut selama lebih dari 30 tahun, sekita tak berkutik dengan blokade militer. Nasib Grace saat ini masih belum jelas, ada rumor yang mengatakan bahwa ia berada di tahanan militer. Demikian seperti dikutip Sydney Morning Herald. [mel]

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

UPDATE

Diminati Klub Azerbaijan, Persib Siap Lepas Eliano Reijnders?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:58

Investasi Emas untuk Keuntungan Maksimal: Mengapa Harus Disimpan dalam Jangka Panjang?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:37

Harga Plastik Melonjak, Pengamat Ingatkan Dampaknya Bisa Lebih Berbahaya dari BBM

Sabtu, 04 April 2026 | 14:49

DPR Minta ASN yang WFH Dipantau Ketat!

Sabtu, 04 April 2026 | 14:31

Komisi V DPR Minta Pemerintah Lakukan Pemilihan Terdampak Gempa Sulut-Malut

Sabtu, 04 April 2026 | 14:00

DPR Minta Pemda Pertahankan Guru PPPK Paruh Waktu di Tengah Efisiensi Anggaran

Sabtu, 04 April 2026 | 13:47

Trump Digugat Dua Lusin Negara Bagian Terkait Pemilu

Sabtu, 04 April 2026 | 13:24

Daftar Tayang Bioskop April 2026: Dari Petualangan Galaksi Mario hingga Ketegangan Horor Lokal

Sabtu, 04 April 2026 | 13:22

Ledakan di Markas PBB Lebanon Kembali Lukai 3 Prajurit TNI, 2 Luka Serius

Sabtu, 04 April 2026 | 13:01

Sindiran Iran ke AS Menggema di Tengah “Pembersihan” Pentagon

Sabtu, 04 April 2026 | 12:51

Selengkapnya